SNMPTN 2018, Nilai Setoran Sekolah Harus Diuji Validitasnya

Rektor UGM Prof Panut Mulyono. (Harian Jogja/Sunartono)Rektor UGM Prof Panut Mulyono. (Harian Jogja/Sunartono)

UGM mengaku telah memiliki data yang dibutuhkan

Harianjogja.com, SLEMAN-Universitas Gadjah Mada (UGM) menggunakan berbagai macam data pendukung untuk mengukur validitas nilai akademik calon mahasiswa dalam pelaksanaan Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Rekam jejak lulusan sekolah bisa menjadi salah satu item pertimbangan dalam melakukan proses seleksi.

Rektor UGM Profesor Panut Mulyono menjelaskan, dalam menyeleksi, pihaknya tidak semata-mata berdasarkan nilai yang diberikan sekolahnya sesuai pangkalan data yang diberikan. Karena standar penilaian setiap sekolah berbeda, nilai sembilan di sekolah A belum tentu standarnya sama dengan sekolah B.

“Nah itu nanti ada panitia yang mencermati dan mengolah itu, kalau nanti hanya berdasarkan nilai mata pelajaran ya nggak bisa, itu bukan standar ya. Kecuali kalau tesnya dengan soal yang sama itu bisa diukur dari SMA manapun,” terangnya kepada Harianjogja.com, Sabtu (13/1/2018).

Mengingat nilai yang disampaikan sekolah tidak bisa menjadi patokan, maka harus ada formulasi yang akhirnya nanti yang masuk dalam rangking pertama dan seterusnya dapat dinyatakan valid. Formula tersebut tidak dalam bentuk ujian, melainkan akan digodok panitia yang terdiri atas tim ahli yang memformulakan ketentuan tersebut.

Panut mencontohkan, salah satu formulasi yang memungkinkan untuk melihat validitas nilai setoran sekolah bisa dilihat dari data lulusan sekolah tersebut yang sedang menjadi mahasiswa aktif di PTN seperti UGM. Dengan demikian, SMA tidak bisa menentukan standar nilai dengan seenaknya sendiri karena dapat dibandingkan dengan rekam jejak lulusan sekolah tersebut yang saat ini menjadi mahasiswa aktif.

Ia mencontohkan, ada 10 mahasiswa di Fakultas Kedokteran dari SMA A dan ada 10 mahasiswa lagi di fakultas yang sama dari SMA B, itu menjadi data penting terutama hasil belajar, indeks prestasi setiap semester dari kedua sekolah tersebut.

“Bayangan saya sebagai dosen, itu sudah punya bayangan. Misalnya begini, seseorang dari SMA A, B, atau C itu saya punya datanya, IP mereka rata-rata berapa, kemudian lama studi mereka bagaimana. Misal SMA ini kemungkinan suksesnya tinggi, bisa di jurusan A atau B. Data itu bisa mengonversi nilai dari sebuah SMA,” ungkap dia.

Panut memastikan, UGM telah memiliki data tersebut termasuk lama studi mahasiswa lulusan dari SMA tertentu. Panitia tentu akan menggunakan semua data dari semua aspek untuk menguji validitas nilai yang disetor sekolah sampai menghasilkan perangkingan dan bobot yang valid.

“Bahkan UGM telah memiliki data seperti itu beberapa tahun ke belakang, misal dari SMA A yang diterima berapa, nilai masing-masing berapa. Data lama ini sebagai komparasi karena setiap SMA selalu berubah,” ujar dia.

Panut mengatakan, persiapan UGM sendiri dilakukan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia memperkirakan minat masuk melalui jalur ini ada peningkatan, tetapi diprediksi tidak akan membludak.

Adapun secara nasional, ketentuan SNMPTN setiap SMA/SMK/MA dapat mendaftarkan siswanya melalui pangkalan data sekolah dan siswa (PDSS) dengan syarat, untuk sekolah terakreditasi A diberikan kesempatan 50% siswa terbaik di sekolah tersebut. Sementara, sekolah yang terakreditasi B diberikan kesempatan mendaftarkan 30% dari siswa terbaiknya dan 10% siswa terbaiknya untuk sekolah terakreditasi C.

Editor: | dalam: Pendidikan |
Menarik Juga »