Selfie di Atas Panggung Kebun Bunga Matahari, Hanya Ada di Pantai Glagah!

Suasana sore hari Taman Bunga Matahari Pesisir Bunga Matahari yang terletak di pesisir Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo, Sabtu (11/2/2018). (Beny Prasetya / Harian Jogja) Suasana sore hari Taman Bunga Matahari Pesisir Bunga Matahari yang terletak di pesisir Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo, Sabtu (11/2/2018). (Beny Prasetya / Harian Jogja)

Pesisir Bunga Matahari di Pesisir Pantai Glagah, Glagah, Temon merupakan taman seluas 750 merer persegi itu berisikan ratusan bunga matahari

Harianjogja.com, KULONPROGO— Siapa yang mengira ratusan bunga matahari dapat mekar di Pesisir Pantai Glagah, Glagah, Temon. Bahkan bunga  yang memiliki nama latin Helianthus annuus itu kini tengah beken menjadi wisata swafoto di kalangan warga.

Bernama Pesisir Bunga Matahari, taman seluas 750 meter persegi itu berisikan ratusan bunga matahari. Lokasi tersebut juga memiliki panggung di tengah taman. Yang mana pengunjung dapat menikmati taman dari atas dan dapat menggunakan panggung tersebut sebagai properti foto.

Pemilik taman bunga matahari Triantini, 43, mengukapkan bahwa lahan sepanjang 75 meter itu digunakan untuk menanam cabai semata. Baru setelah dirinya berkunjung di taman bunga matahari di Sanden Bantul, dirinya terinsipirasi untuk melakukan hal yang sama.

“Saya mengikuti yang ada di Bantul. Karena lokasinya sama dekat pantai,” jelasnya.

Triantini ingat betul, dirinya melakukan penanaman bunga matahari pertama kali Kamis (16/11/2018) lalu. Bermodalkan uang sekitar Rp3 juta. Ia malah membeli membeli bibit bunga matahari daripada membeli bibit cabai.

“Saya sempat diolok kawan kawan petani lain, katanya saya kok menanam gurem,” jelasnya.

Walaupun mendapat cemoohan dari kawan dan tetangga, Triantini warga Glagah, Glagah, Temon tetap melanjutkan tekadnya. Alhasil Triantini dapat mananen hasil dari penanaman bunga tadi di pertengahan Januari lalu. Setiap harinya tidak kurang dari lima orang datang di taman bunganya. Bahkan di hari libur seperti Sabtu dan Minggu tak kurang dari 100 wisatawan menghampiri taman bunganya.

“Kebanyakan perempuan dan keluarga, ada yang dari Kota Jogja, Purworejo, Magelang, hingga Batam,” ungkap perempuan yang memiliki dua orang anak itu.

Sebagai mantan petani cabai, Triantin tidak tahu betul berapa lama bunga berwarna kuning cerah itu akan bertahan. Dirinya hanya bisa menjaga kesuburan tanaman dengan menyirami tanaman di pagi dan sorenya. Dimana saat ini Triantini hanya berjaga-jaga dengan menyiapkan tanaman pengganti jika ada tanaman yang mati.

“Matinya ada dua di petik bunganya atau emang umur,” jelasnya.

Perawatan dan pergantian tanaman itu dilakukan dengan uang retribusi yang ditariknya dari pengunjung. Uang sebesar Rp5.000 diminta Triantini sebagai upah perawatan bunga.

“Setiap hari mengambil sampah dari pengunjung, bahkan ada ada bunga yang sengaja dipetik,” jelasnya.

Untuk menambah pendapatan, Triantini juga menjual bibit bunga matahari di lokasi. Seharga Rp3.000 hingga Rp5.000 Triantini menjual tanaman tersebut bila ada wisatawan yang berminat. Bila tidak laku, Triantini mengaku bakal memakai bibit itu untuk mempersiapkan tanaman bunga matahari yang mati.

“Kalau dipetik bunganya, atau diganggu bunganya aja bisa bikin busuk, dan pengunjung masih melakukan itu,” jelasnya.

Salah seorang wisatawan asal Purwakarta, Eka Sulistyaningsih, 21, mengungkapkan kunjungan di Minggu (11/1/2018) ialah pertama kali mengunjungi lokasi agrowisata itu. Dirinya mengaku penasaran terkait sejumlah foto taman bunga matahari yang berulang kali muncul di sosial media miliknya.

“Sempat lihat taman yang di Bantul, tapi belum bisa datang ke sana. Terus sekarang ada di Glagah kemudian segera ke sini karena tempatnya bagus,” katanya

Ia juga menambahkan, selain menjaga mekarnya bunga matahari, pemilik harus menambah properti tambahan untuk berfoto. Yakni seperti ayunan, pagar, hingga kursi baiknya ditambah untuk memperkaya taman bunga.

“Karena masyarakat butuh yang baru, harus berenovasi,” jelasnya.

Editor: | dalam: Kulon Progo |
Menarik Juga »