KISAH INSPIRATIF
Bocah Tuli Lereng Merbabu Wakili Indonesia Ikut Kemah di Argentina

Bupati Magelang, Zaenal Arifin (dua dari kiri) memberikan dukungan pada Udhana Maajid Pratista (tengah) di Mendut Mungkid Kabupaten Magelang, Selasa (13/2/2018). (Nina Atmasari/Harian Jogja)Bupati Magelang, Zaenal Arifin (dua dari kiri) memberikan dukungan pada Udhana Maajid Pratista (tengah) di Mendut Mungkid Kabupaten Magelang, Selasa (13/2/2018). (Nina Atmasari/Harian Jogja)

Bocah asal Dusun Gedogan Desa Gondowangi Sawangan Kabupaten Magelang itu merupakan tuna rungu sejak kecil

 

Harianjogja.com, MAGELANG– Udhana Maajid Pratista namanya. Bocah laki-laki bertubuh bongsor itu sekilas nampak seperti anak pada umumnya. Ia bermain dan tertawa bersama orang-orang di sekelilingnya.

Namun siapa sangka, ia tak sempurna seperti anak yang lain. Bocah asal Dusun Gedogan Desa Gondowangi Sawangan Kabupaten Magelang itu merupakan tunarungu sejak kecil. Berbagai upaya telah dilakukan oleh kedua orangtuanya, Iis Arumwardani dan Agung Prasetyana, namun belum berhasil membuat alat pendengaran Udhana berfungsi.

“Kami tahu dia tuli saat usia satu tahun. Saat diajak berbicara atau dipanggil, ia tidak pernah merespon. Ternyata ada masalah pada pendengarannya,” jelas Agung, saat berbincang dengan wartawan di Amata Resort, Mendut Mungkid Kabupaten Magelang, Selasa (13/2/2018) pagi.

Sejak itulah, pola komunikasi yang dilakukannya pada anak sulungnya tersebut diubah. Agung dan istrinya harus menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa isyarat. Mereka lalu belajar bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan baik pada anak tersebut. Bahkan, dua adik Udhana kemudian juga ikut belajar bahasa isyarat.

Upaya itu tidak mudah. Mereka bahkan harus pindah tempat tinggal untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai untuk Udhana. Menyewa sebuah kamar (indekos) di wilayah Deresan Caturtunggal Depok Sleman, Udhana kemudian dimasukkan sekolah khusus tunarungu yakni SLB B Karnnamanohara Yogyakarta.

Upaya ini membuahkan hasil. Udhana tumbuh dengan pendidikan yang layak sesuai kondisi dan kebutuhannya. Bahkan, di luar sekolahnya, bocah kelahiran 30 Oktober 2005 itu juga aktif di kegiatan teater. Di waktu luangnya, ia hobi memasak, melukis dan membaca.

Hasilnya, beberapa kali ia menjuarai lomba melukis. “Ia sangat bersemangat dalam hidupnya, bahkan ingin menulis buku tentang motivasi bagi anak tuli seperti dirinya agar bisa hidup mandiri,” papar Agung.

Berkat keistimewaannya tersebut, Udhana dipercaya oleh Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) untuk mewakili Indonesia mengikuti Children Camp, yang diadakan World Federation Deaf Youth Section (WFDYS) di Argentina pada 8-14 April mendatang.

Ada dua anak yang dikirim dari Indonesia yakni Udhana dan Yusi dari Pontianak. Mereka akan berangkat didampingi seorang instruktur, Laura. Sebelum terbang ke Benua Amerika Selatan tersebut, mereka akan mendapatkan briefing terlebih dahulu selama beberapa hari di Jakarta.

Agung mengaku tidak khawatir untuk melepas anaknya untuk bepergian jauh tanpa orang tuanya. Menurut dia, selama ini Udhana sudah terbiasa mandiri. “Dia sudah sering pergi sendiri, seperti saat ke sekolah, les atau latihan teater,” jelasnya.

Lebih lanjut, Agung ingin memberi contoh pada orang tua lain yang memiliki anak dengan kekurangan fisik agar tidak malu dengan kondisi tersebut. “Dengan terbuka dan mencari informasi yang benar, maka orang tua bisa merawat anak berkebutuhan khusus agar sesuai dengan kebutuhannya, bahkan bisa berprestasi,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Magelang, Zaenal Arifin turut memberikan apresiasi atas prestasi Udhana. “Ini suatu kehormatan bagi Kabupaten Magelang memiliki anak seperti Udhana. Meski dengan keterbatasan, ia bisa berprestasi. Kami men-suport dengan doa dan dorongan agar Udhana diberi kesehatan dan kemudahan dalam mengikuti event nanti,” tutur Zaenal, usai memberikan bantuan dana untuk keberangkatan Udhana.

Lebih lanjut ia mengungkapkan Kabupaten Magelang saat ini terus berupaya memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas. Pihaknya terus menjaring masukan dari masyarakat tentang fasilitas umum yang dibutuhkan mereka. Selanjutnya, ia mendorong DPU agar dalam membangun infrastruktur di Kabupaten Magelang memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas.

Editor: | dalam: Pendidikan |
Menarik Juga ยป