Capaian Peserta KB Kulonprogo Terburuk Sepanjang Sejarah

Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Antara)

 Terendah se-DIY, capaian peserta KB baru Kulonprogo perlu digenjot.

Harianjogja.com, KULONPROGO–Pada 2017, Kabupaten Kulonprogo hanya mendapatkan 4.884 akseptor alias pengguna alat kontrasepsi, dari target sebanyak 12.431 akseptor. Dari sisi persentase, jumlah capaian yang hanya 39,29% tersebut merupakan yang terendah di DIY dan sepanjang sejarah di Kulonprogo.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kulonprogo, Mardiya mengatakan capaian sebesar 39,29% ialah capaian terendah sepanjang sejarah KB Kulonprogo.

“Capaian yang dapat diraih Kulonprogo merupakan hasil kinerja semua komponen dan stakeholder program KB di Kulonprogo, sehingga capaian yang tidak optimal harus disikapi secara bijak dan menjadi bahan introspeksi diri agar ke depan hasilnya menjadi lebih baik,” jelas penulis buku Lintasan Sejarah Keluarga Berencana di Kulonprogo ini, Selasa (13/2/2018).

Menurutnya, ada empat faktor yang membuat warga Kulonprogo enggan mengunakan program keluarga berencana. Pertama terkait dengan frekuensi kunjungan penyuluh KB ke pasangan usia subur (PUS) mengalami penurunan. Kedua ialah probematika jauhnya jarak antara tempat tinggal calon akseptor dengan tempat pelayanan. Ketiga karena PUS dengan usia 45 hingga 49 tahun cenderung sulit diajak untuk mengikuti program KB dengan alasan sudah berumur. Terakhir ialah belum optimalnya peran stakeholder dalam mendukung program KB khususnya dalam pencapaian akseptor KB.

“Dimulai kader yang minim, Kemudian jauhnya lokasi MOW [medis operatif wanita] dan MOP [medis operatif pria] seperti di Sardjito membuat masyarakat gamang untuk mengikuti pelayanan.  Semestinya, semua strategi KIE [Komunikasi, Informasi dan Edukasi] harus diterapkan mulai dari KIE individu melalui kunjungan rumah, KIE Kelompok melalui pertemuan penyuluhan dan focus group discussion,” katanya.

Terkait dengan capaian KB yang rendah, Kepala Bidang Keluarga Berencana Siti Sholikhah menyatakan bahwa capaian program KB Kulonprogo sudah seharusnya digenjot di 2018 ini. Terlebih hasil di 2017 menjadi hasil terendah sepanjang sejarah KB di Kulonprogo.

“Sebagai jabatan baru saya akan berusaha untuk menggenjot capain KB di 2018 ini. Seperti yang tertuang dalam program kerja 100 hari jabatan saya ini,” jelanya.

Adapun program yang dimaksud ialah, Memindah pelayanan KB MOP dan MOW dari RSUP Sardjito ke RSUD Nyi Ageng Serang, meneruskan pemberian reward kambing pada Peserta KB MOP baru, melakukan pendataan PUS dan kepesertaan KB dan PUS yang tidak KB berikut alasannya, rasionalisasi target peserta KB Baru, dan pengentasan kemiskinan di Kampung KB.

“Dengan program kerja 100 hari, program KB di Kulonprogo kembali menggeliat dan mencapai prestasi yang membanggakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Terutama dalam pencapaian akseptor baru sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan KB di suatu wilayah selain capaian Peserta KB Aktif dan kegiatan pendukung lainnya,” katanya.

Editor: | dalam: Kulon Progo |
Menarik Juga »