Dua Kelas SD Seropan Masih Belajar di Tenda

Murid-murid SD Seropan tengah bermain di sekitar shelter darurat, Selasa (13/2/2018). (Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara) Murid-murid SD Seropan tengah bermain di sekitar shelter darurat, Selasa (13/2/2018). (Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara)

Sejak bangunan SD Seropan ambles pada akhir tahun lalu, kegiatan belajar mengajar (KBM) terpaksa dipindahkan ke tenda darurat milik BPBD

Harianjogja.com, BANTUL- Sejak bangunan SD Seropan ambles pada akhir tahun lalu, kegiatan belajar mengajar (KBM) terpaksa dipindahkan ke tenda darurat milik BPBD. Namun sudah sekitar dua minggu mereka menempati shelter darurat.

Baca juga : Shelter Darurat SD Seropan Hanya 3 Ruang Kelas dan 1 Toilet untuk 122 Siswa

Selasa (13/2/2018), halaman luas PAUD Seropan di Dusun Seropan RT 03, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo itu tampak lengang. Beberapa guru berseragam coklat nampak mondar-mandir. Aktivitas belajar mengajar berlangsung khidmat dalam bangunan beratap rumbia.

Bangunan berdinding separuh asbes, separuh bambu seluas sekitar 12×4 meter persegi itu dibagi menjadi tiga ruang. Lantainya telah ditinggikan sekitar 10 centimeter, dilapisi dengan konblok.

Dengan begitu, saat hujan turun deras, murid-murid SD Seropan yang terpaksa belajar di shelter darurat tersebut tak khawatir lagi sepatu mereka kotor terkena lumpur.

Sebab saat masih belajar di tenda darurat milik BPBD yang didirikan di halaman TK Aisyiyah Seropan, lumpur coklat kerap kali menempel di sepatu mereka. Belum lagi saat matahari bersinar terik, tenda akan terasa panas dan membuat mereka berkeringat.

Salah satunya Velly, siswi kelas I yang memakai kerudung putih, senada dengan warna baju seragamnya. Dengan polos ia mengaku sejak pindah ke kelas sementara beberapa waktu yang lalu, ia bisa belajar dengan lebih nyaman. Meski panas atau hujan, di dalam kelas ia tetap bisa membaca buku dan menyimak guru. “Enak, ada temboknya,” ujarnya singkat.

Velly adalah salah satu dari puluhan siswa kelas I, II, dan III SD Seropan yang kini dapat bernapas lega. Sebab mereka sudah pindah ke shelter darurat yang baru. Dengan dinding dan atap semi permanen, serta sekat antar kelas yang cukup bisa meredam suara KBM dari kelas sebelahnya.

Namun sayangnya, kenyamanan itu belum dapat dirasakan murid-murid kelas IV dan V yang terpaksa masih harus belajar di tenda biru milik BPBD.

Pasalnya menurut Kepala Sekolah, Wagiran shelter darurat hanya cukup untuk dipakai tiga kelas saja. Sedangkan untuk menambah shelter darurat, Disdikpora Bantul sudah tak ada dana.

Oleh sebab itu pihaknya kini sedang menunggu bantuan dari pusat melalui BPBD Bantul untuk membangun satu shelter berisi dua kelas dan satu ruang guru serta dua MCK. “Bahan bangunan bertahap datang, sekarang sudah ada atap rumbia dan konblok,” katanya.

Sementara untuk kelas VI tetap di ruangan TK Aisyiyah hingga gedung baru siap digunakan. “Kalau belum siap terpaksa ujian di situ [ruang TK],” imbuhnya.

Editor: | dalam: Bantul |
Menarik Juga »