Dulu Krisis Air, Desa di Klaten Ini Kini Bersiap Memproduksi Air Minum Dalam Kemasan

Ilustrasi penyaluran air bersih. (Burhan Aris N./JIBI/Solopos)Ilustrasi penyaluran air bersih. (Burhan Aris N./JIBI/Solopos)

Desa Randulanang, Klaten, yang sebelumnya termasuk desa krisis air kini berencana memproduksi air minum dalam kemasan.

Harianjogja.com, KLATEN — Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten, masuk 10 desa di Indonesia dengan pengelolaan program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) terbaik. Pengelolaan sumur Pamsimas direncanakan menjadi salah satu unit usaha Badan Usaha Milik (BUM) desa tersebut yaitu produksi air minum dalam kemasan (AMDK).

Ketua Badan Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (BPSPAMS) Desa Randulanang, Haryanto, mengatakan bantuan pengelolaan air minum dan sanitasi diterima warga Randulanang pada 2003 lalu. Bantuan dari Pemerintah Provinsi Jateng itu berupa pembangunan sumur dan pendirian tower reservoir.

Saat program pamsimas mulai bergulir pada 2009, Desa Randulanang kembali mendapat bantuan. “Kemudian pada 2011 kami mendapat hibah insentif desa [HID] untuk mengembangkan program pamsimas,” kata Haryanto saat berbincang dengan Solopos.com, Sleasa (13/2/2018).

Pada 2009, capaian sambungan pamsimas baru berkisar 30 persen dari total rumah di Randulanang. Jumlah itu meningkat setelah 2012 menjadi 60 persen hingga 2015 seluruh rumah sudah tersambung sumur pamsimas.

“Ada 638 rumah di Randulanang yang sudah tersambung air bersih dari sumur pamsimas. Artinya, itu sudah 100 persen. Kalau total jumlah keluarga ada 900-an. Satu rumah itu bisa ditinggali lebih dari satu keluarga,” kata dia.

Haryanto menjelaskan warga memanfaatkan air dari sumur pamsimas dengan sistem retribusi. Setiap meter kubik, warga dikenai retribusi Rp3.000. Biaya beban yang digunakan untuk perawatan sumur senilai Rp2.000/bulan. Rata-rata, debit air yang dimanfaatkan di setiap rumah per bulan 10 meter kubik.

Air bersih berasal dari tiga sumur pamsimas yang masing-masing debit airnya 1,5 liter per detik. Pengelolaan sumur pamsimas di Randulanang yang hingga kini masih eksis berbuah penghargaan. Pada 20 Desember 2017 lalu, Desa Randulanang mendapat penghargaan kategori desa pamsimas terbaik dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Ada 10 kriteria desa pamsimas yang mendapat penghargaan di antaranya sudah membentuk kelompok SPAM perdesaan, melakukan inisiatif SPAM dengan pihak lain, terbesar untuk penyediaan air minum dan sanitasi desa, serta desa yang memiliki layanan ke desa lain,” kata dia.

Meski sambungan air bersih saat ini sudah mencapai 100 persen, pengelolaan pamsimas di Randulanang terus dikembangkan. Pada 2017 lalu, pemerintah desa setempat mengalokasikan dana Rp180 juta untuk membangun satu sumur pamsimas.

Haryanto menuturkan pengelolaan sumur pamsimas direncanakan melalui Badan Usaha Milik (BUM) desa. Arah pengelolaan itu yakni produksi air minum dalam kemasan (AMDK) memanfaatkan air sumur pamsimas.

“Kualitas airnya tidak diragukan lagi. Setiap tiga bulan sekali kami masukkan ke laboratorium untuk mengecek kandungan air sumur. Dari hasil penelitian air yang dihasilkan layak konsumsi. Beberapa waktu lalu perwakilan WHO datang ke Randulanang. Setelah mencoba menjajal air dari sumur mereka menilai tanpa dimasak air sudah layak untuk minum,” katanya.

Kepala Desa Randulanang, Sumarno, menuturkan sebelum ada program pengembangan sumur, Randulanang menjadi salah satu desa krisis air bersih. Warga harus berjalan hingga 3 km untuk mendapatkan air dari Sungai Bagor.

Soal pengembangan sumur pamsimas, Sumarno menjelaskan bakal dikelola melalui BUM desa. “BUM desa sudah dibentuk. Kami siapkan dulu gedung BUM desa. Selain mengelola pamsimas, BUM desa juga memiliki unit usaha lain seperti wisata,” katanya.

Editor: | dalam: Klaten |
Menarik Juga »