Minggu, 28 Juni 2009 12:07:11
Setelah mengikuti perdebatan antarCapres putaran kedua, suasana riuh di Angkringan Pakdhe Harjo malam itu sangat terasa. Seperti halnya komentar seusai nonton bareng acara sepak bola Liga Champions. Seolah-olah para penghuni Angkringan merasa lebih jago dari para komentator bola profesional itu, bahkan seketika mereka seolah-olah menjadi analis politik andal, yang tak kalah dengan para analis penyandang gelar doktor sekalipun.
“Wah… payah… yang diperdebatkan hanya hal normatif, tanpa greget, tak menyentuh inti persoalan. Apa yang mereka lakukan kalau kelak jadi orang nomor satu, tidak terungkap dengan jelas… Seharusnya, mereka bertiga punya agenda yang terperinci dong, sehingga bisa menyampaikan kepada kita apa yang akan dilakukan kalau nanti terpilih jadi presiden,” kata Dadap mengawali pembicaraan.
“Lah, waktu nonton debat tadi, kamu tidur apa mimpi, Dap… Sudah lumayan bagus tuh debat mereka… mulai tampak visi dan misi yang dikedepankan. Hargailah upaya ketiga Capres tadi, yang sudah bersusah payah mengungkapkan seluruh pengetahuan maupun pemahaman mereka untuk meyakinkan kita-kita ini agar bersedia memilih salah satunya,” Suto menukas pembicaraan Dadap.
“Ya nonton sih… Tapi, Kang, saya sungguh nggak mudheng dengan apa yang disampaikan oleh salah satu atau salah dua dari ketiga Capres itu… ngomonge muter-muter. Kadang-kadang seperti kumpulan kata-kata tanpa arti…” Dadap menjelaskan.
“Memang mudah bicara di depan forum seperti itu… Apalagi disaksikan jutaan pasang mata. Ya, wajarlah kalau ada di antara Capres itu yang merasa grogi… Capres kan juga manusia…” kilah Suto tanpa bermaksud membela kandidat tertentu.
Dia mengambil sego goreng sambal teri keduanya.
“Memang nggak mudah, Kang… Kalau mudah, nanti semua orang maju sebagai Capres … Maksud Dadap itu, kalau memang berani maju sebagai calon pemimpin, apalagi pemimpin negara, seseorang harus siap dan menyadari kemampuan maupun kecakapan dirinya. Dia harus mampu menjelaskan berbagai hal dengan jelas… Lha wong kalau pemimpin bingung, rakyatnya pasti lebih bingung … mau dibawa ke mana bangsa ini,” tambah Noyo berusaha ‘mendamaikan’ debat sengit itu.
“Tapi harus diakui ada sesuatu yang baru dari debat tadi… Misalnya, mulai terjadi aksi saling ngeledek antarkandidat…. bahkan saling menyerang, meski masih terlalu kuat rasa ewuh-pekewuh di antara mereka. Ini perkembangan yang sehat bagi peningkatan kedewasaan demokrasi…” ujar Suto.
“Lha tempo hari, mungkin masih ragu-ragu ‘kali ya, Kang… debat kok saling menyetujui pendapat lawan, malah saling menambahkan…” kata Noyo.
“Namanya juga hidup di negara Pancasila… Meskipun berdebat, harus tetap menggunakan sopan santun, jangan saling serang atau bahkan saling menjelek-jelekkan lawan…” Suto menambahkan. Kopi panas buatan Lik No disruputnya.
“Jadinya bukan debat tha, tapi jagongan… berdebat untuk mufakat… lucu tenan iki…” tukas Dadap.
“Nyatanya, dalam debat tadi, JK mulai berani ‘nyerang’ SBY kan… berarti kita sudah mengarah ke format debat yang sesungguhnya. Sing penting, begitu selesai berdebat, mereka tetap bersahabat… Tidak perlu dimasukkan ke dalam hati, tidak perlu jadi bahan permusuhan,” kata Suto.
“Serangan JK soal materi kampanye SBY yang ndompleng popularitas mi instan itu, misalnya, dapat ditangkis dengan bagus oleh SBY. Kalau semua Capres dan Cawapres dapat berdebat dengan gaya seperti itu, kan selain menghibur juga mendidik rakyat untuk berpikir cerdas tanpa meninggalkan selera humor,” ujar Noyo.
“Tapi kelihatan sekali ketiga kandidat cukup bernafsu untuk menjadi pemenang Pilpres ya, Kang… Ketiganya merasa seolah-olah dirinya paling tepat untuk dipilih sebagai Presiden…” kata Dadap.
“Kamu ini ngomong apaan sih, Dap… Ngomong kok ra'jelas juntrungane, kayak omongan kandidat presiden itu sendiri… Karena sudah berniat maju jadi Capres ya harus memiliki ambisi dong…” kata Suto.
“Bukan begitu, Kang… maksud Dadap adalah, kenapa mereka ini bernafsu untuk meraih kekuasaan… Bukankah menjadi presiden itu memiliki tanggung jawab yang sangat besar… Lha wong jadi ketua RT apa lurah saja sudah demikian berat, tampaknya… Ini presiden yang akan memimpin 235 juta penduduk Indonesia lho… Gitu kan, Dap…” Noyo mencoba memperjelas kalimat Dadap.
“Yak betul… Aku tadi juga pengen ngomong gitu, Kang Noyo… tapi kok kalimatnya ndak keluar…” ujar Dadap sambil menyeringai.
“Wah… lha… jadi presiden itu enak kok… ke mana-mana di kawal, tak perlu kejebak macet… segala kebutuhan dia dan keluarga dicukupi oleh negara… Mau melakukan sesuatu, tinggal memerintahkan menteri atau pejabat… Yang jelas, kalau bisa menjadi presiden, masa depan diri dan keluarganya terjamin deh,” ungkap Suto.
“Maksudnya, bisa menumpuk kekayaan gitu…” kata Dadap penasaran.
“Bukan begitu, Dap… Penambahan kekayaan, so pasti… asal dengan cara yang legal dan wajar… Yang lebih penting adalah bisa membangun dinastinya sendiri, untuk suatu ketika dapat menjadikan keturunannya sebagai pemimpin bangsa,” ujar Suto.
“Emangnya ini negara kerajaan…” kata Dadap.
“Bukan … tapi ini praktik yang berlaku di banyak negara, dari Korea Utara hingga Amerika Serikat dan India yang demokratis sekalipun… Makanya, kamu harus jadi presiden kalau ingin keturunanmu bisa jadi orang besar kelak…” kata Noyo.
Kopi hangat ketiga konco itupun menipis. Udaha di Angkringan Pakdhe Harjo mulai terasa dingin...
Oleh Ahmad Djauhar
Ketua Dewan Redaksi Harian Jogja
