Pecinta kenari, punya segudang prestasi
Minggu, 17 Januari 2010 10:16:29
20100117101629_kenari.jpg

Pertama kali ditemukan oleh seorang pelaut Prancis di Kepulauan Canary, sebelah barat laut, pesisir Afrika, pada abad ke-15, burung yang bernama latin Serinus Canarius ini telah menjelma menjadi burung peliharaan yang digemari banyak kalangan. Keindahan bulu dan kemerduan suara kenari memang menjadi daya tarik tersendiri bagi pecintanya.

Salah satunya adalah Nurtyas Yunianto. Pria berusia lima puluh dua tahun yang akrab dipanggil Nur ini terkenal karena telah meraih segudang prestasi kontes burung kenari di berbagai kejuaraan, baik di Jogja sendiri, maupun di kota lainnya.

Ditemui di rumahnya daerah Depokan KG II/204, Kotagede, Jogja, pada mulanya Nur terjun di dunia burung kenari justru karena hanya untuk klangenan saja, tanpa ada niatan untuk dikonteskan. “Berawal pada tahun 2006. Pada saat itu saya merasa rumah sangat sepi dan ingin sekali memelihara burung oceh-ocehan untuk meramaikan suasana,” cerita Nur yang juga pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Kebudayaan DIY ini.

Berdasar alasan itu, ia kemudian membeli seekor burung kenari jenis Holland dari penjual di pinggir jalan seharga Rp125.000. Karena langsung merasa cocok dan terhibur, ia lalu membeli seekor lagi dengan jenis yang sama tetapi masih anakan atau biasa disebut dengan piyik yang baru berumur satu bulan. Burung oceh-ocehan lain pun ia beli, seperti ciblek, prenjak, penthet, black shot, branjangan, gelatik wingka, pleci, blacken dan burung-burung lainnya. Dari situlah kemudian ketidaksengajaan yang menguntungkan terjadi.
Semua burung-burung tersebut Nur taruh di halaman belakang rumahnya yang memang luas dan ditumbuhi berbagai macam pepohonan agar terkesan rimbun dan teduh. Setiap hari burung oceh-ocehan tersebut selalu berbunyi dengan suara khasnya masing-masing.

Jadi master
Ternyata secara tidak sengaja, suara burung-burung itu terekam oleh burung kenari Holland miliknya yang kemudian ditiru. Terjadilah masterisasi [master – istilah untuk membuat karakter suara burung asli dengan campuran suara burung lain yang biasanya dilakukan ketika usia burung masih kecil] alami, yang biasanya hanya menggunakan suara burung dari kaset, kali ini langsung dari suara burung asli. “Hasilnya, suara burung kenari milik saya memiliki suara khas burung lain, selain suara ngenthir khas kenari itu sendiri. Sehingga suara yang dihasilkan sangat unik dan bervariasi, “ ujar suami dari Lestari Puji Astuti ini.

Meskipun begitu, ia tidak ngeh kalau suara burung kenarinya bisa seperti itu. Hingga akhirnya datang seorang temannya yang penggemar burung kenari ke rumah Nur.. Temannya tersebut lalu terheran-heran dengan suara burung kenari milik Nur yang lain daripada yang lain dan menyarankan agar burung tersebut diikutkan kontes. “Teman saya menjamin kalau burung kenari saya ikut kontes, pasti akan masuk tiga besar,” cerita pria beranak empat ini dengan mimik serius.

Dan ternyata prediksi tersebut sama sekali tidak meleset. Pertama kali diikutkan kontes burung kenari Papburi (Paguyuban Penggemar Burung Kenari) Jogja tahun 2006, dua burung kenari Holland miliknya langsung menyabet juara I dan II. Dari situlah kemudian ia memberi nama burung kenarinya Sari Kusuma I untuk yang juara I dan Sari Kusuma II yang dapat juara II. “Nama Sari Kusuma saya ambil dari nama usaha rias pengantin dan percetakan undangan milik saya di rumah, daripada susah-susah membuat nama yang aneh-aneh,” ujarnya dengan derai tawa.

Merajalela
Setelah itu, Nur dan burung-burung Sari Kusumanya merajalela di setiap kontes burung kenari. Untuk bekal kontes, dibelinya lagi seekor burung kenari jenis F1 (kenari turunan jenis Yorkshire dan lokal) yang diberinya nama Sari Kusuma III. Layaknya seorang bounty hunter, berpuluh-puluh gelar kejuaraan berhasil digenggam olehnya, baik di Jogja sendiri maupun di luar kota seperti Magelang, Klaten dan Solo. Uniknya, burung-burung kenari yang dikonteskan oleh Nur semuanya pasti meraih gelar juara dalam satu kejuaraan. “Biasanya berurutan, Sari Kusuma I juara I dan Sari Kusuma II juara II. Tetapi terkadang juga sebaliknya. Bahkan Sari Kusuma III pernah meraih juara I sembilan kali berturut-turut di berbagi kejuaraan,” ceritanya dengan bangga.

Berbagai kontes kenari yang diselenggarakan Papburi Jogja dan luar Jogja pun sudah dilakoninya dengan mengarungi banyak gelar juara. Yang paling sensasional, ketika Nur dengan Sari Kusuma III dianugerahi piala hattrick Kontes Kenari Reguler Papburi Jogja di nDalem Suryowijayan karena telah berhasil menjadi juara I tiga kali berturut-turut pada bulan Juli, Agustus, September 2007. “Karena telah mencetak hattrick, sesuai peraturan, saya tidak diperkenankan lagi mengikuti kontes kenari lagi di sana,” ujarnya.

Untuk meramaikan dunia kontes burung kenari di Jogja, Nur juga mendirikan POS (Pandemen Oceh-ocehan Sari Kusuma) sekitar tiga tahun yang lalu. Sesuai namanya, organisasi yang bertempat di Dalem Ageng Sarikusuman, timur pintu gerbang kebun binatang Gembira Loka ini juga kerap mengadakan kontes-kontes burung kenari secara regular. Burung yang dikonteskan di sana pun juga tidak hanya kenari, tetapi juga ada anis merah, cendhet dan cucak ijo. “Saat ini peminatnya cukup antusias dan hadiah yang saya sediakan pun bisa dibilang cukup banyak,” ujar Nur yang juga presenter acara Rolasan Awan Kroncongan di Jogja TV ini.

Meskipun mengeluarkan dana yang besar untuk perlombaan di POS, Nur tidak pernah mempermasalahkan hal itu. “Bagi saya kontes burung kenari itu bukan untuk mencari keuntungan materi, tetapi untuk mencari persaudaraan dan pertemanan,” ucapnya dengan senyum.

Perawatan psikologis
Setelah bertahun-tahun makan asam garam di dunia burung kenari, Nur kini juga membudidayakan burung-burung kenari miliknya yang notabene merupakan kenari unggulan. Sari Kusuma III yang sering menjadi jawara kontes kenari dijadikan pejantan yang dikawinkan dengan betina agar menghasilkan bibit-bibit kenari unggulan.

Burung kenari hasil peranakan Sari Kusuma III pun banyak dibeli orang, sehingga di rumahnya kini hanya tinggal tersisa dua puluh lima ekor burung kenari. Pembeli yang datang kebanyakan berasal dari Jogja sendiri, bahkan ada juga yang datang dari Jakarta dan Bali. “Untuk anakan berumur sebulan biasanya saya jual dengan harga tujuh ratus hingga delapan ratus ribu rupiah. Sedangkan yang betinanya saya beri harga delapan ratus ribu rupiah,” ungkap Nur yang juga berjualan bakmi jawa dan bebek goreng di rumahnya ini.

KOMENTAR PEMBACA

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar