Jimbe, kendang & drum jadi alat komunikasi
Selasa, 02 Februari 2010 09:49:55
2010020294955_pagelaran.jpg

BANTUL: Alat musik ternyata bisa menjadi sarana untuk berbicara.

Semua itu terjadi dalam Tabuh Perkusi di Padepokan Seni Yayasan Bagong Kussudiardja, RT 04 RW 21 Tamantirto, Kasihan, Bantul, Minggu (31/1).

Tema Tabuh Perkusi ini merupakan gatering di antara penabuh dan alat tabuh yang dimainkan. Ada yang tradisional seperti Jimbe, Kendang Jawa, hingga Kulintang. Sedangkan yang modern ada drum.

Menurut salah satu pemain, Deni Jimbe, pertemuan di pementasan ini adalah temu kangen anggota Casper. Dulu, kisahnya, siapapun yang masuk menjadi mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI), Jogja yang mengambil mayor perkusi berarti menjadi anggota Casper.

“Sudah 4 tahun setelah kita lulus dan baru bertemu bulan lalu. Ceritanya kita rindu akan kebersamaan sewaktu di Casper. Nah, saat bertemu bukan mulut kita lagi yang berbicara melainkan alat musik ini. Mereka seakan berkomunikasi antara Jimbe, Kendang, hingga Drum,” ujar Deni.

Bagi Deni kemungkinan proses ini hanyalah spontanitas, tapi bagi pengunjung acara Jagong Wagen permainan mereka adalah sebauh pertunjukan yang memukau.

Diawali dengan Jimbe, beralih ke Kulintang, masuklah sebuah kebersamaan menuju satu ritmis yang harmonis. Pengunjung pun dibuat terbengong dengan penampilan yang mengalun penuh hentakan. Gatering alat pukul ini benar-benar meriuhkan keheningan Padepokan Seni Bagong malam itu.

Sedangkan Musical Director pamentasan malam itu, Gatot Danar Sulistiyanto, mengaku hanya menjadi fasilitator saja. Semua musik yang mengalir adalah dari jiwa masing-masing pemain alat itu sendiri.

“Saya tak memliki andil besar dalam pementasan kali ini, sebab yang berbicara adalah mereka lewat alat musiknya. Kerinduan ternyata menggugah sebuah kata kebersamaan di antara mereka. Benar-benar suasana menjadi Kumpul-Kempel saat musik itu bergema,” ujar Gatot.

Lebih lanjut, Gatot juga menyatakan bahwa tindak lanjut ke depannya bukan di tangan sang director musik. Masingmasing personil dalam penampilan kali ini memiliki idealisme sendiri-sendiri.

“Saya tak bertanggung jawab dengan ke depannya. Apakah mereka akan melanjutkan sebagai pegawai kantoran? Menjadi enginering musik? Atau hanya begitu-begitu saja, itu sah. Terserah mereka setelah pementasan kali ini,” ungkap Gatot.

Pementasan malam itu benar-benar hanya sebuah wahana pertemuan kerinduan pemusik dan alat musiknya.

Pemain yang berjumlah 13 itu tak berhenti ingin menampilkan kombinasi suara dengan balutan komposisi ritmis yang menawan.

Hingga akhir acara, masih banyak pengunjung yang terdiam terkejut. Namun apa boleh buat, ternyata pementasan harus berakhir pula. Selama 1 jam, Padepokan Bagong seolah terbius dengan alunan musik tabuh ini.

Oleh Joko Nugroho
HARIAN JOGJ
A

KOMENTAR PEMBACA

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar