Jauh anak-istri, tiga tahun tidur tengkurap
Senin, 08 Februari 2010 08:44:08
2010020884408_jono.jpg

Pulang membawa hasil menjadi cita-cita setiap perantau dalam mengais rezeki di luar daerah. Kembali ke kampung halaman untuk bercengkrama dengan anakistri untuk menikmati hasil jerih payah juga menjadi harapan sederhana Sujono (34).

Namun mimpi kecil seorang buruh penambang emas di kawasan Trenggati sebuah wilayah di Kalimatan Tengah (Kalteng) tiga tahun silam itu buyar. Sujono yang sejak 2004 merantau dari Dusun Coyudan Rt.1/4 Desa Pragak Kecamatan Karangmoko, Gunungkidul ini justru pulang dengan tangan hampa dan membawa derita panjang.

Kecelakaan kerja tertimbun batu di penambangan emas ilegal menjadi awal dari perjalanan hidupnya yang penuh dengan kesedihan . Akibatnya tubuh bapak tiga putri itu sampai kini tak memiliki daya.

Sujono selama tiga tahun ini hanya bisa tidur dengan posisi tengkurap, akibat luka patah tulang penyangga dan empat tulang rusuk bagian belakangnya yang tertimpa batu berukuran cukup besar dan nyaris merenggut nyawa.

“Sangat bersyukur masih diberikan kesempatan hidup meskipun kondisi saya seperti ini dan hanya bisa tidur tengkurap selama tiga tahun ini tanpa bisa bekerja lagi,” kata Sujono saat Harian Jogja bertandang di rumahnya, Sabtu (6/2).

Di atas dipan atau tempat ala kadarnya digunakan Sujono tidur tengkurap sepanjang hari. Dipan beralaskan kasur butut itu diletakkan di ruang tengah rumah yang nampak sudah banyak genting yang sudah bocor pula.

Kangen anak
Kepedihan Sujono masih ditambah dengan kenyataan tidak setiap saat bisa bertemu dan menatap kelucuan ketiga putrinya Ella (7) serta dua anak kembarnya yang berusia kurang dari tiga tahun, Nova dan Novi. Sejak peristiwa kecelakaan menimpa sang istri bernama Markamah (33) dan anak-anaknya menyandarkan hidup pada mertuanya berada di Trenggalek, Jatim.

“Dalam hati ya sangat kangen. Tapi bagaimana lagi untuk ke sana butuh biaya banyak. Mendingan untuk hidup di sana saja dengan anak-anak. Ini pelajaran berat yang harus kami jalani. Sampai kapan kondisi tubuh sehat lagi, entah kapan saya juga tidak tahu, saya ingin kembali kerja untuk membahagiakan anak dan istri,” tutur Jono, panggilan akrabnya.

Sesekali, Jono masih berobat di Puskesmas setempat. Namun bukan untuk patah tulang yang dialami melainkan untuk luka lebar tepat di atas pantatnya yang membuat tak bisa tidur terlentang sebagaimana layaknya.

Menurutnya, saran dokter, memang posisi tidur haruslah tengkurap untuk mempercepat penyembuhan luka di bagian pinggul yang cukup dalam.

Meskipun Sujono mengaku tidak mendapatkan santunan hidup, asuransi maupun biaya berobat atau sokongan sang majikan untuk biaya kontrol medis secara rutin, namun Jono menolak menyebutkan nama perusahaan penambangannya. “Anggap saja semua ini musibah yang memang harus saya hadapi,” katanya tanpa menjawab nama perusahaan dan pemiliknya.

Sejak mendapatkan bantuan berupa kursi roda dari salah satu yayasan, Jono sedikit merasa lega meskipun sebenarnya bantuan tersebut belum saatnya diperlukan untuk kondisinya saat ini.

Jono mengaku tak pernah menyesal mendapatkan bencana besar dalam hidupnya yang tengah melanda saat ini.

Jono menyatakan tidak akan memiliki kata menyerah sebagai bapak yang harus kembali berjerih payah, meskipun semangat besar itu nampaknya masih harus tertunda dan sementara ia sangat bergantung orang lain.

Oleh Endro Guntoro
WARTAWAN HARIAN JOGJA

KOMENTAR PEMBACA
  1. hendro

    2010-02-11 22:58:03
    Ayo calon Bupati / wakil atau kalian yang ngaku wakil rakyat. yang katanya peduli rakyat. buktikan bahwa kalian peduli dengan masalah ini. Sujono warga Dusun Coyudan Rt.1/4 Desa Pragak Kecamatan Karangmojo. membutuhkan bantuan.

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar