Senin, 08 Februari 2010 12:34:30
GIRIMULYO: Komunitas Seni Sanggar Bodronoyo Kulonprogo Rabu (10/2) kembali menggelar agenda budaya Rabo Pungkasan
"Pusat kegiatan kali ini seperti tahun-tahun sebelumnya tetap akan dipusatkan di dua titik yakni di Sanggar Seni Bodronoyo dan obyek wisata Bendung Kayangan,” kata Panitia Pengarah, Singgih 'Lontong' Wibisono, Senin (8/2). Sanggar Bodronoyo berada di Dukuh Ngrancah, Pendoworejo, Girimulyo.
"Bentuk acara kali ini sedikit berbeda, bukan saja dalam bentuk pentas seni pertunjukan namun lebih ingin melibatkan partisipasi aksi-interaksi dari komunitas kampung budaya masyarakat Pendoworejo,” kata Singgih.
Bentuk partisipasi interaktif itu tercermin dari berbagai lomba yang akan digelar seperti Lomba Hasil Bumi dan Ternak Sehat, Lomba memasak sajian makanan khas/tradisional, lomba membatik, lomba balita sehat, lomba Macapat yang dipadu dan dikemas dalam bentuk berbagai pameran.
"Sedangkan bentuk performance pentas seni luar ruang adalah parade pit ontel, komunitas Vespa, aksi ritual ngguyang jaran, pentas jathilan, ketoprak, dan wayang kulit,” tambahnya.
Seperti diketahui, pelaksanaan saparan tradisi adat jawa ini sebagai bentuk nyata nguri-nguri (pelestarian) kebudayaan jawa. Sedang pengambilan hari Rabu-nya yang mengambil besok berdasarkan pada pasaran Wage, bertepatan dengan Rabo Pungkasan (Rabo terakhir) sasi Saphar Kalender Sultan Agung (almenak Jawa) atau bertepatan dengan 25 Safar 1431 Hijriah, 10 Februari 2010 Tahun Masehi.
Tradisi ini diselenggarakan secara turun temurun sejak cikal bakal Desa Pendoworejo yaitu mbah Bei Kayangan membuka desa tersebut. Namun, kegiatan itu sempat terhenti selama 15 tahun dan baru diadakan kembali kurang lebih sejak empat tahun terakhir.
"Tujuan dari acara itu memberdayakan adat, tradisi, dan kesenian masyarakat Kawasan Budaya Menoreh. Prosesi adat tradisi merti Bendung Kayangan itu juga untuk memperkuat identitas dan karakter masyarakat Kulonprogo sehingga pada akhirnya kegiatan budaya lokal itu mampu bertahan dan unjuk tampil di tingkat lokal, nasional bahkan internasional," kata pungkas Singgih.
Acara ini bersifat terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi media edukasi, wisata dan hiburan bagi masyarakat.(Harian Jogja/Pribadi Wicaksono)
