Kulonprogo tolak Bendungan Tinalah
Selasa, 09 Februari 2010 10:43:23
20100209104323_dam.jpg

WATES: Pemkab Kulonprogo menolak pembangunan Bendungan Tinalah bila hanya akan menguntungkan masyarakat di luar Kulonprogo. Sementara PDAM Tirta Marta Kota Jogja membatasi penambahan pelanggan, menyusul keterbatasan debit air.

Wakil Bupati Kulonprogo Mulyono menandaskan pembangunan Bendungan Tinalah yang akan menenggelamkan sebagian wilayah Desa Purwoharjo dan Gerbosari Kecamatan Samigaluh perlu dikaji ulang sampai dirasakan adil bagi masyarakat Kulonprogo.

“Masyarakat kami tentunya akan sangat keberatan [menolak] jika nantinya bendungan tersebut hanya dinikmati oleh masyarakat luar daerah. Sebesar-besarnya manfaat pembangunan itu harus bagi masyarakat sekitar,” tegas Mulyono.

Seperti dimuat Harian Jogja (Senin 8/2), dalam beberapa tahun ke depan Kota Jogja diprediksi akan mengalami krisis air bersih. Untuk mengantipasi, Sekretariat Bersama (Sekber) Kartamantul (Yogyakarta, Sleman dan Bantul) merancang sejumlah langkah, antara lain meminta PDAM Jogja tidak menambah pelanggan dan membangun Bendungan Tinalah di Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo.

Mulyono mengakui permasalahan Bendungan Tinalah sangat kompleks karena menyangkut penggusuran tanah leluhur.

Ia pun meminta Pemprov mengkaji ulang. Pengkajian Bendungan Tinalah harus mampu menyebutkan detail perincian untung ruginya kepada masyarakat Samigaluh yang akan terkena dampak langsung.

Mulyono meminta sosialisasi pembangunan Bendungan Tinalah diulang, dengan menunjukkan tawaran yang konkret bagi masyarakat. Apabila ada jaminan terhadap kesejahteraan mereka, seperti lapangan pekerjaan dan lainnya tentu masyarakat menerima.

“Intinya pemerintah harus memberikan posisi tawar yang sebanding dengan kerugian yang bakal diterima mereka yang terkena dampak langsung. Jika tidak demikian, sudah barang tentu akan menimbulkan gejolak sosial,” tegasnya.

Sebelumnya, anggota Forum Komunikasi Tinalah Panggih Widodo menyatakan tetap tidak menghendaki adanya pembangunan Bendungan Tinalah berdasarkan resume yang telah mereka sampaikan kepada Pemprov DIY juga kepada Komisi C DPRD Provinsi DIY.

Batasi pelanggan
Terpisah, Direktur PDAM Tirta Marta, Jogja, Imam Priyono menuturkan imbauan pembatasan pelanggan karena debit air belum cukup melimpah. “Imbauan itu tentu berdasar data yang ada. Dan data yang kami miliki tentang debit air dan jumlah pelanggan memang menunjukkan sisa air yang pas-pasan,” ujarnya.

Menurut Imam, saat ini pelanggan PDAM Jogja sebanyak 34.000, sedang debit air 600 liter per detik. Perbandingannya, debit air setiap 50 liter per detik melayani 2.500 pelanggan aktif.

Pelanggan aktif merupakan asumsi saat semua pelanggan menghidupkan keran air secara bersamaan. Berdasar asumsi itu, debit air yang ada hanya mampu melayani 30.000 pelanggan.

Namun, secara empiris, jumlah pelanggan aktif per hari yang membuka keran air pada saat bersamaan sebanyak 25.000. I

Pihaknya tetap berencana menambah jumlah pelanggan dengan sejumlah pembatasan. Tahun ini, jumlah pelanggan menurut rencana ditambah antara 250-750.

“Menambah 1.000 atau 2.000 pelanggan bis ditoleransi. Kami prioritaskan penduduk miskin yang benar-benar kesulitan air,” katanya.

Air PDAM Kota Jogja kebanyakan berasal dari sumur dalam dan hanya sedikit bergantung dari sumber mata air Umbul Wadon di kaki Merapi. Imam berujar, sekitar 85% debit air berasal dari sumur dalam, yakni sebanyak 34 sumur di seluruh Kota Jogja.

“Debit yang bersumber dari Umbul Wadon hanya 57 liter per detik, relatif sedikit,” katanya.

Guna menambah debit air, pihaknya akan membangun sumur dalam di wilayah Miliran, bekas perumahan PDAM Kota Jogja.

Oleh Budi Cahyana & Victor Mahrizal
HARIAN JOGJA

KOMENTAR PEMBACA
  1. danish

    2010-02-09 14:41:12
    WAH TIDAK SETUJU

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar