Perjalanan hidup Treeda dipamerkan
Selasa, 09 Februari 2010 11:16:37
20100209111637_tedra.jpg

NITIPRAYAN: Dengan mengambil tema Stranger on My Pillow, Treeda Mayrayanti akan menggelar pameran tunggal di Sangkring Art Space, Nitiprayan No. 88 Ngestiharjo, Bantul, mulai 10 – 22 Februari 2010. Pameran ini sendiri digelar oleh Museum Dan Tanah Liat dan Sangkring Art Space.

Dalam jumpa persnya, Treeda mengatakan semua karyanya ini berasal dari penelitian akan arti hidupnya. Hingga akhirnya dirinya menemukan 2 pilihan, yakni hadapi atau lari.

Seperti pada lukisan bertajuk Memang Pancen. Di sini Treeda menggambarkan dirinya telah dua kali melalui masa meninggal dunia. Pertama saat memutuskan untuk menikah, kedua saat ingin menjadi seorang pelukis.

“Iya lukisan ini menggambarkan saya yang pernah mati dua kali. Pertama saat menikahi mas Jemek, kedua saat memilih jadi pelukis. Makna mati di sini bukan berarti saya sudah meninggalkan dunia. Ini hanya sebuah simbol untuk memotivasi saya dalam berkarya. Sebab jika tidak, selalu saja saya merasa bercakap-cakap dengan Tuhan,” ujar istri dari pantomimer, Jemek Supardi, itu.

Selain itu masih ada satu lukisan berjudul Nama-nama Hari yang bergambarkan orang yang sedang tertidur pulas. Sosok manusia itu tak lain adalah suaminya sendiri.

“Jika mengamati lukisan ini ada hal negatif dan positifnya. Pertama mas Jemek pemalas karena jam 2 belum bangun. Positifnya, Jemek adalah sosok yang penuh kesederhanaan. Bagi saya, Nama-nama Hari ini memiliki makna, tidur adalah saat kita memakan firman. Tuh di bawah tempat tidur saja masih ada kitab suci,” ungkap Treeda. Selain 2 karya ini, nantinya masih ada 19 karya lain yang akan dipajang di Sangkring. Kumpulan karya ini dibuat sejak tahun 1998 hingga 2009.

Mengenai tema Stranger on My Pillow, Treeda mengaku akan menyuguhkan konsep yang berbeda dengan pameran lainnya. “Di Stranger on My Pillow, saya menjadi tamu asing dalam karya ini dan pillow (bantal) ini merupakan kanvas. Dalam artian, tamu asing itu bermacam-macam, bisa doa, keluhan, keinginan, dan banyak hal lain,” ujar Treeda.

Perempuan kelahiran 1966 ini menegaskan, apa pun profesi yang dijalankannya, pekerjaan utamanya tetap saja seorang ibu rumah tangga. Menurutnya, hal ini sama seperti keteguhannya ketika melihat cinta dan kesucian yang selalu berjalan bersama.

“Pekerjaan saya seorang ibu rumah tangga, tetapi profesi saya perempuan pelukis, tetapi saya tetap wanita. Wani ditata, Wani nata,” jelas Treeda sambil sedikit bercanda    

Sedangkan kurator, Ugo Untoro, mengatakan Treeda memiliki dunia sendiri. “Berbeda dengan kita. Ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya spiritual,” ujar Ugo.

Ugo menambahkan, Treeda memiliki ambiguitas ruang dalam dirinya. Karya Treeda, tambah Ugo, memiliki makna yang unik. “Orang yang di dalam melihat kita di luar, Kita yang di luar, melihat orang di luar. Makna itu banyak sekali. Misalnya interpretasi itu tidak hanya lewat mata tetapi juga non-mata,” katanya. (M2)

Oleh Joko Nugroho
HARIAN JOGJA

KOMENTAR PEMBACA

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar