Selasa, 09 Februari 2010 11:21:45
JOGJA: Sekitar 60% usaha mahasiswa yang didanai program wirausaha dari Direktorat Peguruan Tinggi (Dikti) gagal.
Kondisi itu menunjukkan kewirausahaan di kalangan perguruan tinggi (PT) masih sebatas pengenalan. “Belum siap (untuk terjun langsung),” kata Ibnu Wahid ketua bidang kompetisi, pusat pengembangan wirausaha (CED) UGM, Senin (8/2).
Ketidaksiapan menggeluti wirausaha dialami mahasiswa dan dosen. Meski keduanya pernah bersentuhan dengan wirausaha, itu pun hanya sebatas pengenalan. Pergulatan dengan dunia wirausaha belum sampai tahap melakukan dan menjadi pengusaha.
Selain itu mahasiswa yang usahanya stagnan atau gagal terbukti kurang memiliki keinginan berusaha. “Tidak siap secara mental,” kata Ibnu menguraikan masalah yang dihadapi sebagian besar wirausaha mahasiswa tersebut.
Program kewirausahaan mahasiswa diluncurkan Dikti pada 2009. Universitas Gadjah Mada (UGM) mendapat jatah modal usaha mahasiswa Rp2 miliar, UNY mendapat Rp1 miliar dan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) V mendapat Rp1 miliar.
Ibnu menguraikan, dana yang diterima UGM itu hanya terserap Rp1,5 miliar untuk 62 kelompok usaha yang melibatkan 150 orang mahasiswa. Dari 62 kelompok usaha, sebanyak 60% gagal membesarkan usahanya. “Bisa mengembalikan modal, tapi (usaha yang digeluti) stagnan,” katanya di gedung pusat UGM.
Wakil rektor bidang III UNY, Herminarto Sofyan mengaku fenomena kagagalan usaha peserta kewirausahaan mahasiswa terjadi pula di institusinya. “Hampir sama (dengan UGM), ada pula yang berhasil, meski tidak ada yang besar,” kata Hermin kemarin.
Program kewirausahaan mahasiswa di UNY diikuti sebanyak 52 kelompok dengan total dana yang disalurkan Rp700 juta. Adapun Rp300 juta digunakan sebagai pelatihan hingga pemberian bekal kewirausahaan.
Wajib Mencoba
Hermin menguraikan, UNY mewajibkan sekitar 5.000 mahasiswa yang duduk di semester empat wajib mengambil mata kuliah kewirausahaan – 2 satuan kredit semester (SKS). Selama perkuliahan, mahasiswa secara berkelompok akan diberi stimulus modal Rp500.000 – Rp1 juta guna praktik usaha.
Sumber pendanaan praktek usaha itu berasal dari angsuran usaha program kewirausahaan 2009. Setiap tahun diprediksi biaya yang dibutuhkan untuk stimulus itu sebesar Rp1,25 miliar. “Itu untuk menggeliatkan minat mahasiswa dan menyakinkan mitra (bank),” katanya.
Mengatasi tingkat kegagalan usaha, Ibnu Wahid dari CED UGM mengaku akan memperketat mekanisme pengajuan usul usaha dari mahasiswa. Selain itu calon peserta program diberi pelatihan, uji coba dan pengawasan.
“Kami intinya memperkuat pengetahuan dan mental (calon wirausaha),” urainya. Setelah dinilai siap, maka mahasiswa bersangkutan kemudian diberi stimulus modal untuk usaha yang dirintisnya.
Koordinator Kopertis V, Budi Santoso Wignyosukarto secara terpisah mengaku dana wirausaha mahasiswa Rp1 miliar pada 2009 untuk perguruan tinggi swasta (PTS) terserap semuanya. Dari lebih dari 100 PTS di DIY, Kopertis V menerima 200 proposal dan 61 diantaranya disetujui.
Dana kewirausahan mahasiswa dari Dikti 2010 bagi UGM sebesar Rp1,5 miliar, UNY sebesar Rp1 miliar dan Kopertis V Rp1,25 miliar.
Meski sebagian besar usaha mahasiswa gagal, ada beberapa yang sukses. Saiqa Ilham Akbar BS dan Pranowo Sukantyoso mahasiswa UGM mendirikan restoran Hotaru Japanese Resto dengan omset Rp20 juta per bulan. Indra Haryadi mahasiswa ilmu komputer UGM yang mendirikan Dojo Hotspot Center mampunyai omset Rp230 juta pertahun dan keuntungan bersih Rp130 juta.
Oleh Miftahul Ulum
HARIAN JOGJA
