Berusaha eksis secara mandiri
Selasa, 02 Juni 2009 12:51:39
20090602125139_IST-CBR-3.jpg

Sejumlah remaja tanggung tampak sibuk membagi-bagikan nasi kotak kepada gelandangan dan pengemis, di sekitar 0 km Jogja, di sore hari, Minggu (17/5). Sementara di tepi jalan, terparkir rapi 8 sepeda motor Honda CBR.

Para remaja itulah pemilik Honda CBR yang terparkir. Usia mereka masih sangat muda, yang tertua baru berusia 21 tahun, yakni ketuanya, Eron Reza yang masih duduk di bangku kuliah Fakultas Hukum Universitas Janabadra angkatan tahun 2007.

Pada hari itu, sejak pukul 12.00, para remaja yang tergabung dalam Honda CBR Club #Yogyakarta sengaja mengadakan bakti sosial (baksos) membagi-bagikan ratusan nasi kotak. Titik awal dimulai di perempatan Tugu, lalu berpindah-pindah, seperti di pertiggaan kampus UIN Sunan Kalijaga, perempatan Galeria, dan lain-lain, sampai selesai di perempatan 0 kilometer pada pukul 17.00.

“Mungkin dengan cara baksos ini untuk memperkenalkan klub kita,” ucap Eron yang memiliki unit CBR, sejak Juli 2007 dengan nomor polisi AB 4737 UY.

Klub otomotif baru ini memang merasa perlu lebih mengenalkan eksistensu diri ke masyarakat. Sebetulnya, klub ini sudah beberapa tahun lalu terbentuk, dan sempat mencapai 30 unit motor anggota pada 2008 April. Namun, kegiatan kemudian surut karena banyaknya anggota yang keluar Jogja, karena sebagian ada yang memang berasal dari luar Jogja, dan karena kepentingan lain. November 2008, klub ini kembali menyegarkan diri dengan semangat baru untuk mengembangkan otomotif.

Beragam cara dilakukan pengurus untuk menarik anggota sebanyak-banyaknya. Karena, mereka percaya masih ada pemilik unit CBR lainnya yang belum bergabung. Cara yang paling efektif adalah dengan memberi hadiah kepada anggota yang berhasil mengajak anggota baru, yakni 1 kaleng oli untuk 10 orang yang berhasil diajak.

Cara itu terbukti efektif bagi sebagian anak muda yang rata-rata masih kuliah itu. Sebab, dapat mengurangi pengeluaran oli, seperti Ricky Chandra (19), mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM Angkatan 2008. Pemilik unit CBR dengan nomor polisi B6255CIN sejak April 2007, ini sudah berhasil mengajak 8 orang, setelah bergabung dengan klub semester lalu.

Ricky mengetahui komunitas ini dari mencari-cari di internet. Awalnya, pendatang asal Jakarta ini  mencari alamat bengkel servis, dan penyedia onderdil. Yang ditemukannya justru nomor kontak klub.   “Akhirnya disuruh datang malam minggu, saya kumpul,” ucapnya.

Ricky mengatakan ketika di Jakarta dia belum sempat bergabung dengan klub, sebab saat memilikinya tengah masa sibuk belajar menjelang ujian akhir. Sedikit membandingkan, dia mengatakan, kegiatan-kegiatan di klub Jakarta lebih bervariasi, dan anggotanya juga lebih banyak. “Jogja Insya Allah bisa [sama], kalau kita ada niatan, minimalnya sama-samain,” ucapnya yang mengaku menghabiskan sekitar Rp100.000 per bulan untuk biaya perawatan dan ganti oli.

Sementara anggota asal Solo, pemilik unit CBR dengan nomor polisi AD 6451 PD, Faisal Latif (18), mengatakan klub di Solo sudah memiliki sponsor, sementara Jogja belum. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia angkatan 2007 ini mengatakan berkat sponsor itu, anggota klub mendapat potongan harga di toko resmi Honda, dan turut membantu jika klub membuat kegiatan. Sementara untuk jumlah anggota, Solo tidak jauh berbeda dengan Jogja, yakni sekitar 20-an unit motor. 

Menurut Faisal, perkembangan klub CBR Jogja, sudah cukup bagus. “Kalau ada rencana pasti terwujud. Harapan di Jogja, tetap solid saja,” ucapnya yang mengaku memilih CBR karena mewakili jiwa muda yang senang kecepatan, irit, dan percaya terhadap mesin Honda yang bandel.

Otomotif Jogja unggul
Komunitas ini mempunyai jadwal kumpul setiap Sabtu pukul 22.00 di depan Hotel Phoenix, Jalan Sudirman, dan Selasa pukul 16.00 di sekitar Boulevard kampus UGM. Sekretariat beralamat di Komplek Polisi Gowok, Blok E III/ 246. Untuk menjadi anggota dipungut biaya pendaftaran sebesar Rp40.000, dan anggaran Rp20.000 per bulan.

Eron mengatakan sampai saat ini, seluruh kegiatan didanai dari anggaran itu, karena belum memiliki sponsor. Entah karena dianggap baru, belum banyak perusahaan produsen otomotif atau industri lain yang melirik komunitas ini. Sementara, Eron mengaku juga selektif memilih sponsor, mencari yang tidak terlalu mengikat mereka. “Lain dengan wilayah lain, sudah dapat sponsor semua,” ucap dia.

Eron mengatakan kegiatan yang klub lakukan selama ini adalah safety riding, touring keluar DIY, freestyle, dan riset motor. Menurut dia, dunia otomotif di Jogja sebetulnya sudah termasuk maju. “Jogja hebat-hebat mekaniknya, pembalapnya. Tapi sayang nggak punya sirkuit, masa harus ke Jakarta,” ucap dia.

“Kalau Kridosono cuma mutar-mutar doang, saya sampai hafal,” imbuh Ricky.

Eron mengatakan melalui kegiatan riset, memodifikasi mesin bagian karburator, CDI, klep besar, porting polish, dan ganti knalpot, mereka berhasil memacu motor hingga 180 km per jam, di sebuah jalan sepi, di daerah Semarang. Padahal, kata Eron, Jakarta hanya bisa memacu hingga 170 km per jam. “Itu (Jakarta) dengan alat yang lebih canggih,” kata dia.

Klub yang bersahabat
Anggota klub CBR diminta untuk selalu taat aturan lalu lintas, mengutamakan safety riding dengan kelengkapan standar helm fullface. “Wajib menggunakan sepatu bila berkumpul,” tegas Eron.

Mereka dilarang keras ugal-ugalan, atau memancing permusuhan dengan klub-klub lain, apalagi knalpot mereka semuanya berbunyi keras, yang kadang-kadang memancing emosi anggota klub motor lain. Salah satu cara bersosialisasi dengan klub lain, kata Eron adalah dengan mewajibkan kepada anggota baru untuk mendatangi paling sedikit tiga klub motor, dan meminta kritik dan saran. Syarat itu harus dipenuhi untuk mendapatkan nomor registrasi klub. “Secara tidak langsung itu ospeknya kita,” ucap Eron.

Eron mengatakan alasannya memilih CBR adalah karena motor ini built up, akselerasi mesin enak,  onderdil mudah didapat, dan cocok untuk anak muda yang suka kecepatan.

Walau pun, di Jogja, Eron mengaku kecepatan tidak mungkin bisa dipacu secara maksimal. Paling tinggi, dia hanya pernah memacu sampai 60 km per jam, untuk kegiatan sehari-harinya dari rumah ke kampus. “Kalau jalan macet kita tahu aturan. “Di ringroad kita ndak bisa, soalnya selalu masuk jalur lambat. Tapi saat touring kita terlampiaskan,” ucapnya.

Eron mengatakan harapannya adalah dapat membangun klub motor yang besar di Jogja.  “Di kenal masyarakat motor gede itu tidak selalu identik dengan kekayaan, dengan kemewahan, tidak selalu gaya hidup, itu saja kita mau tunjukin,” pungkasnya.

Oleh Heru Lesmana Syafei
WARTAWAN HARIAN JOGJA

KOMENTAR PEMBACA
  1. Langga

    2009-07-02 16:35:57
    ini baru keren, jadi ga cuma keren motornya aja, tapi juga keren kepribadiannya

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar