Minggu, 07 Juni 2009 15:03:53
Namanya Panji Kumala. Usianya masih muda, baru menginjak 30 tahun.
Namun hobinya di luar kebiasaan orang-orang muda seusianya, yakni mengoleksi uang lama. Hobi tersebut sudah dijalaninya sejak Mei tahun lalu. Ia bahkan masih ingat tanggal persisnya mulai mengoleksi uang lama, yakni 8 Mei 2008.
Meski baru setahun, tapi koleksi Panji terbilang lengkap. Saat berbincang-bincang dengan Harian Jogja di kediamannya yang terletak di bilangan Mrican, Rabu (20/5) lalu, tak lupa ia menunjukkan koleksi-koleksinya.
“Koleksi saya yang tertua berumur 2.000 tahun,” katanya. Uang berusia dua abad tersebut adalah sebuah uang koin yang dipakai sebagai alat tukar di daerah Timur Tengah pada jaman Kerajaan Romawi. Koleksi tersebut ia dapatkan lewat situs lelang eBay. Menurut penjualnya, uang yang diberi nama Widow’s Mite itu digunakan di kala Yesus masih hidup.
Perkenalan Panji pada uang lama terbilang tidak sengaja. Waktu itu ia baru saja mengenal eBay di internet. Di tengah keasyikannya mempelajari fitur dan cara kerja eBay, secara kebetulan ia menemukan penjual uang lama. Beberapa penjual bahkan menawarkan uang-uang lama Indonesia. Merasa tertarik, ia lantas mulai membaca-baca referensi seputar uang lama dan kemudian membeli koleksi pertamanya.
Menurut lajang lulusan akuntansi STIE YKPN ini, uang lama tidak sekadar unik dan kuno, tapi juga mempunyai nilai sejarah. “Kita bisa mengenal sejarah bangsa ini melalui uang, karena tiap zaman uangnya berbeda-beda,” katanya.
Contohnya, tak banyak generasi sekarang yang tahu kalau di tahun 1945-1950 sempat beredar uang-uang daerah. Uang di Jawa, misalnya, berbeda dengan uang di Sumatera. Bahkan uang di Jambi berbeda dengan uang yang beredar di Bukittinggi.
Fakta menarik lain yang tidak banyak diketahui umum, di era tersebut ada tiga mata uang yang beredar di Indonesia. Tiga kekuatan yang saling berebut kekuasaan di Indonesia waktu itu yakni Jepang, NICA, dan pemerintah RI, sama-sama mengeluarkan uang. Akibatnya Indonesia yang baru merdeka dilanda infl asi hebat.
Berkat hobi barunya itu pulalah Panji jadi menyukai sejarah. “Padahal awalnya saya dulu tidak suka pelajaran sejarah,” ujarnya sambil tersenyum.
Gambarnya cantik
Hal lain dari uang lama yang menarik hati Panji adalah keindahan tampilannya. Gambar-gambar uang tersebut baginya merupakan sebuah karya seni tinggi.
Uang lama yang gambarnya paling indah menurut Panji adalah seri wayang terbitan De Javasche Bank yang beredar di era 1930-an. Sesuai nama serinya, uang-uang tersebut bergambar tokoh-tokoh wayang yang diperankan oleh para pemain wayang orang. Karena keistimewaannya inilah seri wayang menjadi koleksi favorit para kolektor.
Pendapat serupa disampaikan Sugiarto. Kolektor senior Jogja ini senang mengoleksi uang lama karena suka pada gambarnya yang bagus-bagus. Kebetulan pula ia memang suka menggambar sejak kecil. Ia sudah mulai mengoleksi uang sejak kelas tiga SD. “Keluarga saya sangat majemuk, jadi setiap perayaan Natal, Lebaran atau Imlek selalu ramai. Saya sering terima amplop berisi uang dari saudara-saudara yang lebih tua. Uang tersebut saya tukarkan dengan yang masih baru terus saya simpan,” cerita Sugiarto saat ditemui Harian Jogja di Pasar Klithikan, Rabu (27/5) lalu.
Menginjak besar, Sugiarto justru lebih tertarik berburu koinkoin lama. Ceritanya, waktu itu ia studi di Sekolah Instrumentasi Gelas, Elektronika dan Logam (SEGEL) di Jakarta. Salah seorang dosennya yang berkebangsaan Belanda mengenalkannya pada koin kuno. Dari dosennya itu pulalah ia tahu kalau koinkoin tersebut bernilai tinggi di pasaran.
Mulailah Sugiarto mencari koin-koin kuno di seantero Jakarta dan Bandung. Hasil buruannya lantas ia jual pada dosen Belandanya. Pada perkembangannya kemudian ia juga mengenal kolektor-kolektor lain yang bersedia membeli lebih mahal.
Jadilah Sugiarto berbisnis jual-beli koin kuno. Masa-masa keemasan berjualan uang kuno ia rasakan di tahun 1980-1983 saat harga logam dunia tengah melambung tinggi. Keuntungan dari berjualan koin ia pakai membeli uang kertas. Karena belum ada standar harga baku, ia membeli uanguang tersebut sesuai kesepakatan dengan penjualnya.
Karena kesibukan bekerja di beberapa tempat, Sugiarto sempat berhenti berburu uang lama. Ia bahkan menjual seluruh koleksi nya kepada kolektor lain. “Waktu itu laku Rp20 juta. Uangnya saya belikan rumah,” kenangnya.
Akhir tahun 2006, kembali Sugiarto berkecimpung di dunia numismatik. Hal ini dipicu perkenalannya dengan beberapa pedagang uang lama di Pasar Beringharjo dan Klithikan. Tak sekedar mengoleksi untuk dirinya sendiri, tapi ia juga siap menyediakan koleksi-koleksi yang dicari kolektor lain.
“Di numismatik itu tidak ada kolektor murni,” kata Sugiarto. Ia menambahkan, hampir semua kolektor bisa dipastikan juga bertindak sebagai pedagang. Ini bukan semata-mata urusan profi t. Dengan sekaligus bertindak sebagai penjual, kolektor bisa menyiasati besarnya biaya yang dibutuhkan untuk berburu koleksi baru.
“Kalau cuma mengoleksi bisa tekor,” tambah Panji. “Karena itu kolektor biasanya juga berjualan.”
Investasi
Apa asyiknya mengoleksi uang lama? Bagi Panji, ada banyak hal yang ia dapatkan dari hobinya tersebut. Selain menambah teman dan pengetahuan, mengoleksi uang lama bisa dijadikan investasi. Hal ini disebabkan harga uang yang terus naik dari waktu ke waktu.
“Peningkatan nilainya cepat, bahkan lebih cepat dibanding menabung di bank,” jelasnya.
Ucapan tersebut diamini Wisnu, salah seorang pedagang uang lama di Pasar Klithikan. Wisnu mencontohkan, uang pecahan Rp50.000 bergambar Presiden Soeharto saat ini harga jualnya berkisar antara Rp150.000-Rp250.000 per lembar. Padahal uang tersebut belum lama ditarik dari peredaran.
Nilai uang akan semakin naik jika uang tersebut sudah langka atau memiliki sejarah tersendiri. Contohnya uang seri binatang yang langsung ditarik dari peredaran hanya beberapa hari sejak diedarkan. Penyebabnya, uang tersebut ditandatangani oleh Syafruddin Prawiranegara, mantan perdana menteri yang kemudian terlibat gerakan PRRI di Sumatera Barat.
Karena itulah, baik Wisnu maupun Panji sangat menyarankan para generasi sekarang untuk mulai mengoleksi uang. “Kalau orang tahu nilai uang, dia pasti memilih mengoleksi uang lama daripada menabung di bank,” tambah Wisnu.
HARIAN JOGJA
