Jum'at, 12 Juni 2009 11:42:39
Berbeda-beda tetap tetap satu. Penjelasan mengenai kata Bhinneka Tunggal Ika ini didapat sejak bangku sekolah dasar. Berbagai mata pelajaran dari pendidikan moral Pancasila, kewarganegaraan sampai mata kuliah di jenjang pendidikan tinggi dirancang untuk memperkuat semangat nasionalisme.
Secara keseluruhan, wacana sampai tujuan dari setiap pelajaran tersebut memang membawa pengaruh positif untuk saling menghargai. Apalagi jika membicarakan masalah keragaman Indonesia. Yang menjadi titik persoalan adalah satu. Begitu dihadapkan oleh perbedaan, banyak orang yang mulai lupa konsep keragaman yang sudah diterima bertahun-tahun. Konsep perdamaian dengan berlandaskan kebhinnekatunggalikaan inilah yang diusung komunitas Peace Group lewat penyelenggaraan Peace Camp.
Tahun 2002, Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM mengawali grup itu dengan memberikan training untuk kawula muda bernama Youth Camp for Generation and Peace. Walau baru pertama dilakukan, ternyata tanggapan dari peserta cukup positif dan menyisahkan sekitar sepertiga peserta untuk kembali menularkan semangat kebersamaan. Mereka inilah yang bergulir dengan menjangkau makin banyak kalangan, termasuk anak-anak SMA.
“Peserta awalnya bilang tidak mempermasalahkan perbedaan. Tapi waktu ada narasumber waria. Mereka memberikan reaksi macam-macam. Ada yang kaget. Ada juga yang bilang kalau mereka tidak pantas di dunia ini. Tapi semua akhirnya memahami adanya perbedaan,” ujar Koordinator Peace Camp (PC) 2009, Maria Listuhayu.
Wanita yang akrab dipanggil Ema saat ditemui Harian Jogja di sela-sela acara Peace Camp ini menceritakan usai acara ini, para peserta tergabung dalam Peace Generation (PG). “Sebenarnya tanpa ikut PC, siapapun bisa bergabung dengan PG. Tapi khusus peserta PC otomatis tergabung dengan PG,” jelas wanita alumni PC 2008 ini.
Melihat besarnya antusias peserta dan semakin maraknya tawuran yang terjadi antar SMA di Jogja, pada tahun berikutnya, PG menggelar acara serupa yang ditunjukan bagi siswa berseragam putih abu-abu dengan nama Student Camp for Peace (SCFP). Pelaku tawuran diundang untuk mendiskusikan masalah ini. Para muda-mudi yang tengah mencari identitas diri ini diajak duduk bersama.
Terus bergulir dengan tema yang berbeda, PC generasi pertama dan kedua kembali menggalang acara yang sama dengan tema Peace In Our Neighbour. Camp ini berusaha membicarakan isu mengenai kegelisahaan atau konflik yang terjadi antar suku, daerah serta agama, dengan mengundang peserta dari Poso dan Maluku.
Viva la different
Dalam kegiatan mereka, dikenal satau acara yang disebut Viva la different atau perayaan kebebasan. Acara ini yang paling ditunggu. Ema menjelaskan acara ini dimulai dengan membuat lingkaran besar lalu dibagi lingkaran kecil. Pembagian lingkaran dapat diatur berdasarkan ketentuan dari panitia, seperti hobi, naik lagi berdasarkan jurusan sampai perbedaan sensitif yang cukup kontroversial. “Contohnya agama. Kami membagi kelompok berdasarkan agama. Ada yang memilih jadi pihak netral dengan berdiri di tengah. Terus kami bagi lagi sampai ke titik terkecil,” jelas wanita berambut pendek ini.
Pembagian kelompok ini dilakukan untuk membentrokan antara yang mayor dan minor. Tetapi bukan berarti acara ini digunakan untuk memisahkan. Melainkan menemukan cara mengatasi perbedaan. Lewat focus group disccusion (FGD) peserta diajak untuk tidak melihat perbedaan melainkan persamaan satu sama lain.
Tujuan dari viva la different sendiri tidak berarti ingin menghilangkan perbedaan. Bagaimanapun juga perbedaan tidak dapat dipungkiri karena secara nyata memang ada. Tetapi dengan hanya berpatok pada perbedaan maka perdamaian sendiri tidak dapat disatukan. Karena anak yang kembar identik pun pasti memiliki perbedaan. Lewat acara ini, setiap peserta berusaha mencari persamaan dan belajar untuk saling menguatkan saat tertekan maupun mengingatkan.
Misi perdamaian
Sebagai bentuk nyata pembuktian ke masyarakat. Sehari-hari komunitas ini mengadakan kegiatan yang insidentil ringan tapi bermakna. Salah satunya bersepeda ke Bantul. Jika ingin ke pantai, PG tidak hanya bermain tetapi juga melakukan sesuatu yang bermanfaat seperti membersihkan pantai.
“Kegiatan internal juga ada, seperti training in trainer. Kami ingin menerapkan dari anak muda ke anak muda. Jadi fasilitator dari kami juga. Yang mentraining kami dulu kaka angkatan.”
Korban gempa di Jogja juga mendapat uluran tangan dari PG dengan mendirikan suatu perpustakaan. Selain itu lewat trauma healing, anak-anak diajak bersenang-senang. Tentu saja dengan mengembangkan wacana melihat persamaan.
Untuk sementara ini, PG akan mengadakan road show film indie. “Kami ingin mengembalikan film-film ini ke teman-teman SMA.” Setelah beberapa waktu lalu, pelajar SMA mengirimkan film indie, giliran PG yang berkeliling ke sekolah-sekolah untuk memutarkan film tersebut.
“PG sendiri bukan organisasi tapi komunitas. Rasanya senang bisa kumpul bersama teman-teman. Lupakan masalah atau sakit hati. Kalau sudah senang, masalah jadi mudah terselesaikan,” kata Ema lagi.
Oleh Mediani Dyah Natalia
WARTAWAN HARIAN JOGJA
