Jum'at, 03 Juli 2009 08:34:31
JAKARTA: Debat Capres pamungkas yang berlangsung Kamis (2/6) tadi malam di Balai Sarbini, Jakarta, berlangsung lebih cair dari dua debat sebelumnya. Tema yang disajikan juga dinilai lebih mengena dan menjadi elaborasi menarik dari masing-masing Capres dalam menjawab lontaran pertanyaan moderator.
Para kandidat tidak lagi menjawab dengan normatif dan homogen. Seperti biasa, kandidat incumbent Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih mendapat serangan dua arah dari dua Capres lain. Pada acara yang dimoderatori Dekan FISIP UGM Pratikno itu, Capres nomor 3, Jusuf Kalla sudah buru-buru menyindir SBY, ketika dirinya diberi kesempatan memaparkan visi misi. “Demokrasi dengan mengatakan Pilpres cukup satu putaran menghemat Rp4 triliun itu berarti menilai demokrasi dengan pendekatan uang,” cetus JK.
”Saya takut pada Pemilu 2014 nanti ada iklan lanjutkan tanpa Pemilu, biar menghemat Rp25 triliun,” gelitik JK menambah panas suasana debat. Seperti diketahui, pekan lalu, simpatisan pasangan SBY-Boediono yang tergabung dalam President Center Indonesia mendeklarasikan gerakan Pemilu Presiden 2009 Satu Putaran di Jakarta.
Deklarasi itu didasari sejumlah indikator keberhasilan SBY sehingga para simpatisan optimistis Pemilu berlangsung dalam satu putaran. Menanggapi kritikan JK, SBY tak tinggal diam. Ia mengklarifi kasi iklan itu bukan berasal dari pihaknya, alias ilegal. “Iklan itu bukan dari saya. Demokrasi saya pahami bukan soal berapa uang yang digunakan, tapi
bagaimana kualitas dan efektifi tasnya, dan juga terpenting, dana itu harus akuntabel,” sanggah SBY.
Sedangkan Megawati menyerang SBY dengan menilai political will pemerintah yang buruk dalam penyelenggaraan Pemilu dengan munculnya persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada pemilihan legislatif (Pileg) lalu.
“Pada 2004, semua bisa berlangsung lebih lancar, permasalahan DPT tidak ada. Kenapa sekarang ini yang mestinya bisa lebih baik malah ada persoalan,” sindir Mega.
Kali ini SBY juga tak tinggal diam. Ia membalas Mega dengan beralasan pemilu legislatif kali ini lebih kompleks dan rumit. “Pada 2004 juga tidak bisa dikatakan berjalan tanpa
persoalan. Persoalan itu pasti ada. Oleh karena itu, ke depan evaluasi itu mesti dilakukan agar lebih baik,” timpal SBY.
Debat Capres pamungkas yang berlangsung tadi malam, mengangkat tema NKRI Demokrasi dan Otonomi Daerah. Ketiga Capres setidaknya masih menunjukkan kehomogenan jawaban saat dilontari pertanyaan dari moderator mengenai kemajemukan bangsa dalam kaitan dengan NKRI dan gerakan separatis. Ketiganya sepakat bulat Bhinneka Tunggal Ika dan otonomi daerah
menjadi koridor dan basis dalam menguatkan pemerintahan nasional.
Namun dalam sesi itu, JK memakai kesempatan dengan menyindir sejumlah pernyataan orang SBY yang masih rasialis. “Pernyataan yang mengatakan calon dari suku tertentu belum layak menjadi presiden itu sangat bertentangan dengan pemahaman keBhinnekaan sebagai aset bangsa,” kata dia.
Dihubungi terpisah, pakar politik UGM Arie Sudjito mengatakan, debat kali ini dari sisi tema sudah bagus dan mengena. “Cukup serius temanya karena langsung menyentuh persoalan
pusat daerah yang terjadi selama ini. Jawaban ketiga Capres juga lebih konkret dan menarik,” kata dia. Ari juga memuji sikap elegan ketiga calon ketika ditanya apa yang akan dilakukan jika tidak terpilih nantinya.
Protes Andi Sementara itu kemarin sekitar seribu orang dari berbagai kelompok masyarakat di Makasar, berunjuk rasa memprotes pernyataan Ketua Departemen SDM Partai Demokrat Andi Mallarangeng dalam kampanye SBY-Boediono Rabu (1/7) kemarin yang menyebutkan bahwa belum saatnya orang Sulsel menjadi presiden.
Massa yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Sulsel Anti Rasis berunjukrasa di Monumen Mandala Makassar dan meminta Andi meminta maaf atas pernyataannya yang dianggap penghinaan kepada masyarakat Sulsel.
Juru bicara pengunjuk rasa itu Subhan Djaya Mappaturung mengatakan bahwa perkataan Andi yang juga juru bicara presiden itu sangat tidak etis karena dianggap merendahkan satu etnis serta bertentangan dengan konstitusi dan semangat NKRI yang mengedepankan kesetaraan dan kesamaan pada semua kelompok suku.
“Pernyataan itu sangat menghina seta melukai hati suku-suku bangsa di Indonesia. Ada kesan dari pernyataan Andi bahwa hanya suku tertentu saja yang bisa jadi presiden. Padahal semua memiliki kesempatan yang sama,” kata Subhan.
Oleh karena itu, atas nama rakyat Sulsel pengunjukrasa mendesak agar capres SBY sebagai penanggungjawab kampanye tim SBY-Boediono meminta maaf kepada seluruh rakyat Sulsel, selain itu Andi Malarangeng juga harus meminta maaf secara terbuka kepada seluruh rakyat Sulsel melalui iklan media cetak dan elektronik.
Seusai berorasi di Monumen Mandala, pengunjuk rasa bermaksud melanjutkan aksi di kantor Dewan Pengurus Wilayah ((DPW) partai Demokrat Sulsel yang hanya berjarak satu kilometer, namun karena aparat kepolisian melakukan blokade, aksi itu urung dilakukan.
Namun Andi Mallarangeng membantah tuduhan itu. “Yang saya katakan dalam kampanye di Makassar adalah apakah orang Sulsel bisa menjadi Presiden RI. Bisa dan banyak orang Sulsel yang bisa menjadi pemimpin bangsa, tapi ada waktunya. Sekarang ini, untuk 2009-2014 yang terbaik adalah SBY-Boediono. Karena itu, saya memilih yang terbaik,” kata Andi seperti dikutip Antara.
Andi juga mengirimkan transkrip pidatonya di Makasar yang menyebutkan bahwa kenapa dirinya sebagai orang Bugis memilih SBYBoediono. “Karena `maradeka to ugi`e, adekmi ripopuang`. Orang Bugis merdeka, hanya adat yang dipertuan. Hanya hukum yang dipertuan, hanya prinsip, nilai dan objektivitas yang dipertuan. Bukan kekuasaan, bukan orang perorang,” katanya.
Andi juga mengatakan, pada saat kampanye kemarin, apapun pilihan politik kita, kita tetap bersaudara. Kepada masyarakat Sulawesi Selatan, Andi meminta agar ucapannya saat pidato
kampanye didengar secara utuh.
“Kalau saya bicara bahwa `ada waktunya` untuk orang Sulsel menjadi Presiden, karena saya berpendapat bahwa yang terbaik saat ini adalah SBY-Boediono. Itu adalah respons saya terhadap SMS yang beredar yang bersifat primordial bahwa orang Bugis atau orang Sulsel harus memilih Presiden dari Bugis atau Sulsel,” katanya. (Nugroho Nurcahyo)
