Jalan Mulus Permudah Aktivitas Ekonomi Warga Bantul
Pembangunan dan pemeliharaan jalan di Bantul membantu petani dan pelaku UMKM memperlancar mobilitas, distribusi hasil panen, serta pemasaran produk.
Kegiatan PPDM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Dusun Jetis RT 03, Daleman, Giangharjo, Pandak, Bantul. /Ist-Dok UMY
Harianjogja.com, JOGJA- Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Dusun Jetis RT 03, Daleman, Giangharjo, Pandak, Bantul mengambil tema Desa Wisata Joglo Jetis RT 03 Gilangharjo sebagai Desa Penghasil Kandang Bambu.
Dosen pelaksana kegiatan tersebut, Rela Adi Himarosa menyebutkan tujuan program ini adalah mempromosikan kegiatan Joglo Jetis dan mengangkat daerah Jetis RT 03 sebagai sentra produksi kandang bambu. Rangkaian kegiatan ini digelar 1 Februari hingga 1 Juli 2020 dengan sasaran 10 warga produktif.
Ia menyebutkan latar belakang tema kegiatan ini adalah kebudayaan Jawa sudah mulai terkikis di era globalisasi seperti karawitan dan wayangan. "Dusun Daleman, Gilangharjo merupakan dusun yang masih kuat dan memperhatikan akan pentingnya kebudayaan," katanya, dalam rilis, Selasa (29/12/2020).
Acara yang diihadiri oleh para dalang dan masyarakat dusun berlangsung meriah karena sentuhan seni Dalang Ramijo yang memainkan lakon Wayang Pandawa dan Punakawan yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Ia mengatakan bahwa kebudayaan Jawa sudah hampir punah karena adanya game melalui gadget atau handphone, melalui pagelaran ini diharapkan adanya rasa guyub atau pemersatu antar warga dusun daleman.
Pagelaran ini juga diadakan untuk mengingatkan generasi muda sebagai penerus bangsa untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan Jawa atau yang biasa disebut dengan istilah dadi bocah kudu Njawani.
“Bangunan ini memiliki banyak sejarah dan nilai kebudayaan, terlebih di dalamnya ada seperangkat alat gamelan yang digunakan untuk karawitan sanggar seni,” kata Rela Adi Himarosa yang merupakan dosen Prodi Teknik Mesin tersebut.
Ia menambahkan keberadaan Joglo sebagai cagar budaya perlu dilestarikan, sehingga semakin dikenal keberadaannya, semakin banyak acara budaya yang dilaksanakan di Joglo tersebut, semakin terkenal desa tersebut. Selain itu, dikenalnya desa tersebut diharapkan mampu meningkatkan potensi warga sebagai sentra produksi kandang bambu.
Ketua sanggar seni, Yoto, menyambut baik kegiatan ini karena menurutnya bisa memberikan manfaat yang besar demi keberlangsungan sanggar.
"Semakin dikenalnya Joglo Jetis sebagai cagar budaya oleh masyarakat diharapkan ikut mampu mengangkat potensi warga sekitar Joglo sebagai sentra produksi kandang ayam bambu. Hal ini disambut baik dan memberikan manfaat yang besar demi keberlangsungan sanggar," katanya. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan dan pemeliharaan jalan di Bantul membantu petani dan pelaku UMKM memperlancar mobilitas, distribusi hasil panen, serta pemasaran produk.
Argentina menang 4-0 atas Bolivia. Nico Paz mencetak gol, Cristian Romero memimpin sebagai kapten, dan Messi masih disiapkan untuk laga perpisahan.
Cek harga emas Antam, Galeri24 dan UBS di Pegadaian. Antam 1 gram tercatat Rp2,634 juta, Galeri24 Rp2,527 juta dan UBS Rp2,552 juta.
Irlandia vs Austria di Nations League 2 Oktober 2026. Simak jadwal, klasemen Grup B3, kondisi skuad, dan prediksi pertandingannya.
BMKG mengingatkan Jateng selatan mewaspadai hujan lebat, petir, angin kencang, dan puting beliung saat peralihan musim Oktober-November 2026.
DPR menerima surat pemberhentian Listyo Sigit sebagai Kapolri dan pengangkatan Kapolri baru. Komisi III menyetujui Suyudi Ario Bayu.