5 WNI dalam Misi Gaza Ditahan Israel, Ini Daftar Lengkapnya
Lima WNI dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 dilaporkan ditahan Israel di perairan Siprus.
Poster film Dirty Vote./Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA—Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Maruli Simanjuntak ikut merespons soal film Dirty Vote yang belakangan ramai diperbincangkan publik.
Sebagaimana diketahui, Dirty Vote merupakan film yang memuat isu-isu dalam serangkaian Pemilu 2024 mulai dari kecurangan hingga ketidaknetralan dari sejumlah pihak.
Menanggapi tersebut, Maruli awalnya mengaku tidak pernah menonton film tersebut. Hanya saja, dia telah mendengar cerita film tersebut. "Ya kebetulan saya juga enggak nonton itu tetapi saya dengar ceritanya. Kalau orang bilang menduga [ketidaknetralan TNI/Polri] enggak punya bukti, ya kita semua juga bisa menduga-duga lah," kata dia, Selasa (13/2/2024).
Lebih lanjut, dia menuturkan saran agar tidak terlalu menanggapi isu yang tidak ada buktinya atau hanya dugaan. Sebab, salah satu pihak yang keberatan nantinya akan berada di posisi serba salah. "Sekarang kalau dengan kata-kata dugaan itu kan, menurut saya itu pernyataan-pernyataan apa bisa dikatakan gak bernyali ya, ya kan? biar tidak bisa dituntut kan? Kalau dituntut bilang 'anda maksudnya apa kan saya menduga-duga' katanya begitu," kata Maruli.
Dengan demikian, menurutnya, hal yang memuat dugaan itu merupakan permainan dari salah satu pihak yang memungkinkan untuk mencapai tujuan tertentu. "Itu permainan-permainan mereka untuk membuat ya situasi, punya tujuan tertentu mungkin ya. Kita tidak tahu," pungkasnya.
BACA JUGA: Bawalu RI Sarankan Masyarakat Tonton Dirty Vote, Ini Alasannya
Sebagai informasi, film Dirty Vote muncul tiga hari menjelang pemilu, merangkum dan membongkar kejadian janggal menjelang pemilu.
Dirty Vote adalah film dokumenter yang digarap oleh Dandhy Dwi Laksono yang sebelumnya juga sudah menggarap sejumlah film dokumenter seperti Sexy Killers, Pulau Plastik, dan Barang Panas.
Ulasan tentang kecurangan-kecurangan yang dilakukan selama masa kampanye disampaikan oleh tiga Ahli Hukum Tata Negara, Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari.
Ketiganya mengungkap berbagai instrumen kekuasaan telah digunakan untuk tujuan memenangkan pemilu dan merusak tatanan demokrasi dengan nada netral.
Adapun, film ini tidak dikemas seperti film dengan skenario atau film dokumenter, lebih seperti acara jurnalistik yang statis, dan merangkum berita dan data-data statistik, serta hasil riset.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Lima WNI dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 dilaporkan ditahan Israel di perairan Siprus.
Lansia 71 tahun tewas tertabrak pikap di Sentolo Kulonprogo saat berbelok di simpang Tugu Pensil.
Jonatan Christie tersingkir di Malaysia Masters 2026 usai kalah tiga gim dari Hu Zhe An, fokus beralih ke Singapura Open.
Tagihan listrik rumah naik? AC, kulkas, mesin cuci hingga kebiasaan kecil bisa jadi penyebab utama boros energi di rumah.
Luciano Spalletti dikabarkan siap mundur dari Juventus jika gagal membawa klub lolos ke Liga Champions musim depan.
PSIM Jogja tertinggal 0-1 dari Arema FC di menit awal laga Liga Super 2025/2026 di Stadion Kanjuruhan.