Libur Sekolah, UMKM Jogja Bidik Omzet Naik 70 Persen
UMKM Jogja manfaatkan libur sekolah lewat bazar di Taman Pintar, targetkan kenaikan omzet hingga 70 persen.
Antusiasme anak-anak saat Lomba Menggambar dan Mewarnai Motif Batik Season 2 di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Sabtu (14/2/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
JOGJA—Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY menggelar Lomba Menggambar dan Mewarnai Motif Batik Season 2 di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Sabtu (14/2/2026), untuk mengenalkan batik sejak usia dini kepada anak-anak. Kegiatan edukasi batik ini diikuti 109 peserta dari jenjang TK-PAUD hingga SD/MI sebagai bagian upaya pelestarian budaya Yogyakarta.
Lomba yang memasuki tahun kedua pelaksanaan tersebut merupakan hasil kolaborasi Dekranasda DIY dengan Dewan Pendidikan, dengan memberikan ruang bagi anak-anak mengekspresikan kreativitas melalui motif dan warna batik sesuai imajinasi masing-masing.
“Ini sudah yang kedua kali, jadi Dewan Kerajinan Nasional sama Dewan Pendidikan itu bekerja sama dan sudah berjalan tahun kedua. Kami ingin menggalang anak-anak yang masih sangat muda agar sejak awal mengenal batik,” ujar Sekretaris Umum Dekranasda DIY, Ronni Guritno di sela-sela lomba, Sabtu (14/2/2026).
Ronni menjelaskan kegiatan lomba menggambar dan mewarnai batik ini menjadi sarana menggali potensi seni anak sejak dini sekaligus memperkenalkan batik sebagai warisan budaya yang memiliki nilai seni dan ekonomi.
“Melalui lomba ini mereka bisa mengekspresikan sekaligus mengompetisikan apa yang mereka bisa. Ke depan, mereka bisa saja menjadi perancang motif, pencipta karya, atau pelaku usaha batik, tergantung pembinaan selanjutnya,” katanya.
Dalam proses penilaian, panitia menghadirkan juri dari kalangan anak muda, praktisi seni, serta pelaku usaha batik untuk memberikan perspektif yang lebih luas terhadap karya peserta. Penilaian tidak hanya berfokus pada pakem motif klasik, tetapi juga membuka ruang inovasi dan eksplorasi warna yang mencerminkan karakter dunia anak-anak.
“Kami membuka kesempatan sebebas-bebasnya untuk berkreasi, baik dari motif tradisional maupun warna-warna cerah. Tahun lalu saja, kami menemukan karya anak-anak dengan warna yang sangat berani dan segar,” ucapnya.
Ia menambahkan edukasi batik sejak dini menjadi langkah penting untuk menanamkan pemahaman bahwa batik merupakan identitas budaya Yogyakarta, terlebih daerah ini telah menyandang predikat Kota Batik Dunia dari World Craft Council.
Ke depan, Dekranasda DIY menargetkan kegiatan lomba menggambar dan mewarnai batik dapat digelar secara rutin setiap tahun dengan jangkauan peserta yang lebih luas. Selain menjaga regenerasi pelaku seni batik, program ini diharapkan menjadi bagian dari strategi pelestarian batik berbasis pendidikan sejak usia dini di DIY.
Salah satu orang tua peserta, Dhini, mengaku kegiatan lomba tersebut memberikan pengalaman baru bagi anaknya dalam mengenal batik sejak kecil. Menurutnya, kegiatan kreatif semacam ini membantu anak menyalurkan hobi menggambar sekaligus belajar budaya lokal yang selama ini jarang diperkenalkan secara formal.
“Anak saya jadi lebih tertarik dengan batik waktu mau ikut lomba ini. Biasanya dia menggambar bebas di rumah, tapi sekarang mulai bertanya tentang motif dan warna batik,” kata Dhini.
Melalui kegiatan edukasi batik seperti lomba menggambar dan mewarnai ini, Dekranasda DIY berharap generasi muda semakin mengenal batik sebagai warisan budaya sekaligus membuka peluang lahirnya kreator dan pelaku industri batik di masa depan, seiring upaya menjaga identitas budaya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UMKM Jogja manfaatkan libur sekolah lewat bazar di Taman Pintar, targetkan kenaikan omzet hingga 70 persen.
Prabowo menegaskan kampus harus menjaga kebebasan akademik serta memperkuat riset dan sains demi menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Said Iqbal menegaskan PHK industri tidak hanya dipicu harga gas, tetapi juga konflik global, daya beli melemah, dan relokasi investasi.
Gus Salam menyatakan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU dengan membawa misi rekonsiliasi organisasi menjelang Muktamar NU 2026.
Cara membuat layang-layang tradisional dari bambu dan kertas lengkap dengan bahan, langkah pembuatan, serta tips agar mudah terbang dan stabil.
Brajamusti Kulonprogo melakukan rebranding di usia delapan tahun dengan mengusung semangat suporter PSIM Jogja yang damai, dewasa, dan kondusif.