Saat Barisan Pelajar DIY Diuji Terik dan Ketahanan di Mandala Krida

Media Digital
Media Digital Senin, 28 September 2026 08:52 WIB
Saat Barisan Pelajar DIY Diuji Terik dan Ketahanan di Mandala Krida

Pelajar mengikuti Lomba Baris Berbaris (LBB) tingkat DIY di halaman Stadion Mandala Krida, Jogja, pada Sabtu (26/9/2026) - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA—Matahari mulai terasa terik di halaman Stadion Mandala Krida, Kota Jogja, Sabtu (26/9/2026). Di bawah cuaca cerah sejak pagi hingga sore, puluhan barisan pelajar dari berbagai penjuru DIY tetap berdiri tegap, menjaga langkah, gerakan tangan, hingga aba-aba komandan peleton agar tidak keluar dari irama.

Lomba Baris-Berbaris (LBB) Tingkat DIY 2026 itu bukan sekadar adu kerapian barisan. Di tengah rangkaian kegiatan, sejumlah peserta bahkan sempat drop dan harus mendapat bantuan petugas medis sebelum kegiatan kembali dilanjutkan.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak menghentikan rangkaian perlombaan. Sebanyak 26 peleton tingkat SMP/sederajat dan 23 peleton tingkat SMA/SMK/sederajat bergantian menunjukkan kemampuan terbaik mereka di hadapan juri.

Para peserta yang tampil di tingkat DIY bukan peserta yang dipilih secara acak. Mereka merupakan juara 1, 2, dan 3 peleton putra maupun putri pada jenjang masing-masing yang sebelumnya telah mendapatkan rekomendasi dari kabupaten dan kota.

Artinya, setiap peleton yang tiba di Mandala Krida membawa hasil latihan dan persaingan dari daerah masing-masing. Mereka kemudian kembali diuji dalam arena yang lebih besar, dengan tuntutan bukan hanya soal gerakan yang seragam, tetapi juga daya tahan, ketepatan, dan kekompakan seluruh anggota peleton.

Kepala Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) DIY, Arfi Hidananto, mengatakan lomba baris-berbaris tidak semata-mata ditujukan untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk melatih karakter siswa melalui disiplin dan kemampuan menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi.

"Jadi bagi siswa sendiri mereka akan belajar disiplin, mementingkan kepentingan kelompok daripada ego individu, kemudian memupuk rasa persaudaraan dan sportivitas," kata Arfi di sela perlombaan.

Menurut Arfi, para peserta juga merupakan bagian dari calon generasi pemimpin pada masa mendatang. Karena peserta yang tampil merupakan juara dari kabupaten/kota, ia berharap pembinaan melalui kegiatan semacam itu dapat membentuk pelajar yang memiliki karakter kuat.

Selain pembentukan karakter, baris-berbaris juga menjadi bagian dari persiapan menuju kegiatan kepaskibrakaan. Arfi mengatakan kebiasaan berlatih sejak dini membuat peserta memiliki bekal ketika nantinya mengikuti proses seleksi Paskibraka, termasuk jika ada kesempatan mewakili DIY di tingkat nasional.

Kepala Disdikpora DIY, Raden Suci Rohmadi, mengatakan pembiasaan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Menurutnya, kemampuan baris-berbaris tidak seharusnya baru dipelajari ketika seorang siswa hendak mengikuti seleksi Paskibraka.

"Semua tidak ada yang instan, semua harus ada proses. Kalau Anda mau menang ya memang butuh latihan yang keras juga," ujar Suci.

Ia juga mengingatkan peserta agar tidak menjadikan hasil perlombaan sebagai satu-satunya ukuran. Kekalahan, menurutnya, merupakan bagian dari proses yang justru dapat menjadi pengalaman untuk memperbaiki kemampuan pada kesempatan berikutnya.

"Sportivitas, menghargai peserta yang lain, itu yang harus kita pupuk dari anak-anak kita sekarang," katanya.

Hasil perlombaan kemudian diumumkan pada malam hari. Pada kategori komandan peleton putri SMP, juara pertama diraih SMPN 1 Bantul, disusul SMPN 2 Wonosari sebagai juara kedua dan SMPN 8 Jogja sebagai juara ketiga. SMPN 9 Jogja dan SMPN 1 Imogiri masing-masing menjadi juara harapan pertama dan kedua.

Pada kategori komandan peleton putra SMP, MTs Muallimin Yogyakarta menjadi juara pertama, SMPN 2 Wonosari juara kedua, dan SMPN 1 Sanden juara ketiga. SMPN 1 Jogja meraih juara harapan pertama, sedangkan SMPN 5 Jogja menjadi juara harapan kedua.

Sementara itu, kategori komandan peleton putri SMA/SMK dimenangkan SMKN 2 Wonosari. Posisi kedua ditempati SMAN 8 Jogja, posisi ketiga SMAN 1 Wonosari, sedangkan SMAN 3 Jogja dan SMAN 2 Banguntapan masing-masing meraih juara harapan pertama dan kedua.

Untuk kategori komandan peleton putra SMA/SMK, SMAN 2 Wonosari menjadi juara pertama, diikuti SMAN 1 Wonosari sebagai juara kedua dan SMKN 2 Pengasih sebagai juara ketiga. MA Muallimin Yogyakarta meraih juara harapan pertama dan SMAN 2 Bantul juara harapan kedua.

Salah satu peserta yang berhasil meraih juara pertama kategori komandan peleton putri, Ariska Gita Cinta Nugraha dari SMKN 2 Wonosari, mengaku sempat pesimistis sebelum hasil perlombaan diumumkan. Ia merasa latihan yang dijalani masih belum sepenuhnya sesuai dengan harapannya.

Namun, keraguan itu terbayar setelah namanya dan sekolahnya dinyatakan sebagai pemenang. Cinta mengatakan timnya telah berlatih sejak akhir Juli, meski latihan tersebut beberapa kali harus berbagi waktu dengan kegiatan lain.

"Awalnya saya pesimis, karena apa yang saya latihkan itu bagi saya masih belum puas. Tapi ternyata akhirnya benar, usaha tidak mengkhianati hasil," kata Cinta sembari masih memegang piala yang diraihnya.

Setelah meraih juara pertama, Cinta tidak ingin berhenti pada hasil yang diperolehnya di Mandala Krida. Jika kembali mendapat kesempatan mengikuti LBB, termasuk pada tingkat yang lebih tinggi, ia ingin mempertahankan pencapaian tersebut dengan latihan yang lebih baik.

Bagi peserta lain, pengalaman sehari penuh di Mandala Krida juga menjadi bagian dari proses yang tidak kalah penting dari hasil akhir. Dari barisan yang harus tetap tegak meski tubuh mulai lelah hingga perjuangan menjaga kekompakan bersama satu peleton, LBB menjadi ruang bagi pelajar DIY untuk belajar bahwa kemenangan tidak datang dalam satu kali latihan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online