Harga Cabai Tembus Rp90.000, Pemprov Jateng Gelar Pangan Murah
Harga cabai merah di Jateng mencapai Rp90.000 per kg. Pemprov Jateng menggelar pangan murah dan memberi bantuan untuk menekan inflasi.
Manajemen Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar, Taman Budaya Embung Giwangan dan PT. Anindya Mitra International menandatangani kerja sama program Jogja Educulture Journey–Laras Triloka pada Senin (12/10/2026) di GIK UGM. Elemen-elemen tersebut juga meninjau langsung Taman Bhineka GIK UGM dan bus shuttle wisata./Harian Jogja-Catur Dwi Janati\r\n\r\n\r\n\r\n
Harianjogja.com, SLEMAN— Program Jogja Educulture Journey – Laras Triloka resmi diluncurkan melalui penandatanganan kerja sama antara Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar, Taman Budaya Embung Giwangan, dan PT. Anindya Mitra International, Senin (12/10/2026), di GIK UGM. Program ini mengintegrasikan wisata sains, inovasi, pendidikan, dan kebudayaan melalui pengalaman kunjungan ke tiga taman yang terhubung dengan layanan shuttle wisata.
Kolaborasi tersebut diharapkan menghadirkan pengalaman wisata yang lebih terpadu di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain memudahkan wisatawan menjangkau beberapa destinasi, program ini mengusung penggunaan shuttle bertenaga listrik sebagai bagian dari upaya mendukung transportasi wisata yang ramah lingkungan.
Ketua Yayasan Aji Dharma Nusantara (YADN), Aulia Reza Bastian, menjelaskan Laras Triloka dibangun berdasarkan filosofi pendidikan yang menghubungkan tiga aspek, yakni ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan inovasi. Menurutnya, ketiganya memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk manusia.
Laras Triloka Satukan Sains, Budaya, dan Inovasi
Reza menjelaskan setiap destinasi dalam Laras Triloka memiliki karakter dan peran tersendiri. Taman Pintar merepresentasikan aspek kognisi atau ilmu pengetahuan, Taman Budaya berperan dalam aspek afeksi, sedangkan Taman Bhineka GIK UGM menjadi ruang pengembangan inovasi.
"Jadi kalau sains kita bicara ilmu pengetahuan itu adalah kognisi, itu ada di Taman Pintar. Kemudian kalau kita bicara afeksi itu ada di Taman Budaya. Kemudian kalau kita bicara inovasi itu ada di sini, di GIK," kata Reza.
Ia menambahkan, konsep segitiga Laras Triloka yang menghubungkan Taman Pintar, Taman Budaya, dan Taman Bhineka merupakan representasi ketajaman nalar, kepekaan nurani, serta kemandirian sikap juang. Ketiga unsur tersebut, menurut Reza, sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.
Melalui konsep ini, wisata edukasi tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan pengetahuan, tetapi juga memberikan ruang bagi pengembangan kepekaan terhadap kebudayaan dan kreativitas.
Kehadiran shuttle wisata bertenaga listrik menjadi bagian pendukung program tersebut. Selain menghubungkan ketiga taman, moda transportasi ini dirancang untuk mendukung perjalanan wisata yang lebih ramah lingkungan.
Reza berharap kolaborasi tersebut dapat memunculkan ikon wisata baru yang mengintegrasikan tiga destinasi di DIY sekaligus menginspirasi pelaku pariwisata lain untuk mengembangkan konsep serupa.
"Harapan kami mungkin ini nanti akan memicu atau akan menggugah hati para pelaku wisata untuk juga memiliki konsep yang sama," tandasnya.
Kolaborasi Destinasi untuk Mempermudah Wisatawan
Kepala Dinas Kebudayaan [Kundha Kabudayan] Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan Jogja Educulture Journey – Laras Triloka berawal dari keyakinan bahwa potensi wisata edukasi, sains, inovasi, dan kebudayaan dapat berkembang lebih kuat apabila dikelola melalui kerja sama.
"Melalui inisiatif kita bersama, tentu saja kita berupaya menghubungkan Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar Yogyakarta, Taman Budaya Embung Giwangan dalam satu pengalaman wisata yang tentu saja saling melengkapi," tuturnya.
Menurut Yetti, kolaborasi tersebut mempertemukan berbagai peran, mulai dari pengembangan ruang dan kegiatan edukasi, pengelolaan destinasi budaya, hingga penyediaan layanan transportasi wisata yang ramah lingkungan.
Ia menilai keberhasilan Laras Triloka tidak hanya bergantung pada tersedianya paket kunjungan atau transportasi, tetapi juga pada komitmen setiap pihak untuk bekerja sama secara berkelanjutan.
"Kolaborasi ini tentu saja diharapkan terus tumbuh dalam bentuk promosi bersama, penyelenggaraan kegiatan lintas destinasi, pertukaran gagasan, serta pelayanan yang semakin mudah dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan itu sendiri," tandasnya.
Melalui dukungan antardestinasi, setiap taman diharapkan tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari pengalaman wisata yang lebih utuh dan beragam. Skema tersebut juga diharapkan memberikan lebih banyak pilihan bagi wisatawan untuk mengunjungi beberapa lokasi dalam satu rangkaian perjalanan.
Yetti berharap integrasi destinasi dapat meningkatkan daya tarik kunjungan wisata sekaligus memberikan kemudahan akses. Dengan pilihan destinasi yang saling melengkapi, wisatawan juga diharapkan memiliki lebih banyak alasan untuk tinggal lebih lama.
Rute dan Transportasi Jadi Perhatian
Meski kerja sama telah ditandatangani, Yetti menekankan pentingnya perencanaan perjalanan secara terperinci agar konsep Laras Triloka dapat diterapkan secara efektif.
Perencanaan tersebut mencakup rute perjalanan, urutan kunjungan, alokasi waktu di setiap destinasi, hingga moda transportasi yang digunakan. Seluruh aspek itu perlu disusun agar perjalanan antarlokasi berlangsung nyaman, efektif, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan.
"Kita perlu merancang rute perjalanan secara lebih mendetail, kemudian juga termasuk urutan kunjungan, kemudian alokasi waktu di setiap destinasi, serta moda transportasi yang disediakan agar perjalanan antar destinasi berlangsung efektif, nyaman, dan mudah diakses oleh siapapun," tuturnya.
Yetti berharap Jogja Educulture Journey – Laras Triloka tidak berhenti sebagai gagasan kolaborasi yang berhasil diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama. Program tersebut diharapkan menjadi awal untuk memperluas pengenalan dan pemanfaatan destinasi oleh masyarakat.
Selain meningkatkan kunjungan wisata, kolaborasi ini diharapkan membuka peluang dan menggerakkan kegiatan ekonomi kreatif. Pada saat yang sama, tujuan edukasi dan pelestarian budaya perlu tetap menjadi bagian penting dari pelaksanaannya.
"Membuka peluang dan menggerakkan kegiatan ekonomi kreatif itu juga penting, sekaligus memastikan tujuan edukasi dan pelestarian budaya dapat tercapai dengan baik," tegasnya.
GIK UGM Harapkan Lahirnya Inovasi dan Kreativitas
Direktur Utama GIK UGM, Alfatika Aunuriella Dini, menilai penandatanganan kerja sama tersebut merupakan titik awal pertemuan berbagai pihak untuk mengembangkan pengalaman wisata yang lebih bermakna.
Menurutnya, konsep Jogja Educulture Journey – Laras Triloka sejalan dengan visi dan misi GIK UGM yang mempertemukan pendidikan, kebudayaan, dan kreativitas untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Di GIK UGM ini, kami percaya bahwa kreativitas ini tumbuh melalui interaksi dan juga perjumpaan. Harapannya dengan adanya konsep Laras Triloka dan juga Taman Bhineka ini, akan terjadi banyak perjumpaan yang melahirkan inovasi dan kreativitas," tuturnya.
Melalui integrasi Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar, dan Taman Budaya Embung Giwangan, Laras Triloka diharapkan menjadi pilihan wisata yang menggabungkan pembelajaran, pengalaman budaya, serta pengembangan kreativitas dalam satu rangkaian perjalanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga cabai merah di Jateng mencapai Rp90.000 per kg. Pemprov Jateng menggelar pangan murah dan memberi bantuan untuk menekan inflasi.
Raphael Marantika mencetak 12 poin dan 7 rebound saat Olifant bangkit mengejar BOSA sebelum kalah 53-60 di final DBL Jogja 2026.
Simak cara daftar bansos 2027 lewat Perlinsos Digital. Siapkan NIK, IKD, verifikasi wajah, dan data PLN untuk pengajuan PKH atau BPNT.
Pameran Trinetra di Jogja berlangsung 13-17 Oktober 2026, menghadirkan koleksi museum, tur kuratorial, cek mata gratis, dan edukasi sejarah.
Fenomena ikan teri terdampar di Pantai Wediombo, Gunungkidul, menarik ratusan warga. Hasil tangkapan bisa mencapai 4 kg untuk lauk keluarga.
UKDW mendorong konservasi Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong melalui riset lima tahun, kolaborasi lintas sektor, dan Piagam Amerta Bhumi.