PCA Ngampilan Gelar Milad Aisyiyah ke-109, Ini Dakwah Kemanusiaannya
Milad Aisyiyah ke-109 di Jogja dihadiri 500 peserta. Tekankan dakwah kemanusiaan, UMKM, dan penguatan sosial perempuan.
Kepala DPAD DIY, Kurniawan (depan, ketiga kiri) berfoto bersama penulis buku Kapitayan, Agus Wahyudi (depan, ketiga kanan) seusai bedah buku yang digelar di Gedung Depo Arsip DPAD DIY, Kamis (10/7/2025). - Harian Jogja/Yosef Leon
BANTUL–Buku Kapitayan karya Agus Wahyudi dibedah dalam rangkaian Festival Literasi Jogja yang digelar di Gedung Depo Arsip DPAD DIY, Kamis (10/7/2025).
Buku ini menyelami akar spiritualitas asli masyarakat Jawa sebelum hadirnya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, dan Islam.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Kurniawan menekankan pentingnya kegiatan bedah buku sebagai upaya memahami lebih dalam isi dari sebuah karya. "Kalau hanya melihat bentuk luarnya, persepsi bisa sangat berbeda. Bedah buku memberi kita kesempatan memahami dari berbagai perspektif, tidak sekadar membaca sendiri," ujarnya.
Kurniawan menilai Kapitayan sebagai buku yang relevan dan bernilai, terutama di tengah meningkatnya minat masyarakat untuk kembali menggali ajaran leluhur. "Diskusi seperti ini membantu kita menangkap dimensi yang mungkin luput jika membaca sendirian," ujar dia.
Agus Wahyudi, penulis buku Kapitayan, mengaku menulis karya tersebut sebagai respons terhadap maraknya narasi di media sosial tentang ajaran leluhur yang kerap diklaim sebagai “agama asli Jawa”.
Menurutnya, narasi yang berseliweran sering kali tidak berdasar dan cenderung mengarah pada glorifikasi tanpa landasan sejarah yang kuat. "Banyak yang menyebut kita berasal dari Lemuria, bahwa kita ini bangsa besar sejak ribuan tahun lalu. Tetapi saya mulai bertanya, ajaran leluhur yang mana? Apakah betul agama asli Jawa adalah Kejawen, seperti yang diyakini banyak warganet?" ujar Agus.
Sebagai seorang muslim dengan latar belakang pesantren dan minat terhadap spiritualitas lintas agama, Agus menggali lebih jauh dan menemukan bahwa Kapitayan merupakan sistem kepercayaan monoteistik kuno yang pernah dianut masyarakat Jawa, jauh sebelum pengaruh luar masuk. Penelusuran ini kemudian dirangkumnya menjadi buku. "Buku ini bukan hanya tentang keyakinan, tapi juga tentang identitas, sejarah, dan bagaimana kita sebagai orang Jawa memahami akar spiritualitas kita sendiri.”
Sementara Irfan Afifi, salah seorang pembahas yang dihadirkan dalam bedah buku tersebut mengatakan, buku Kapitayan sebenarnya mengajak generasi muda dan masyarakat Jawa masa kini untuk kembali memikirkan hakikat menjadi manusia Jawa.
Menurutnya Jawa bukan sekadar suku, geografis atau identitas melainkan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
"Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Jawa adalah salah satu dari dua suku bangsa paling sopan di dunia selain Jepang. Maka sudah seharusnya generasi masa kini menjadi Jawa atau Njawani," katanya. (Advetorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Milad Aisyiyah ke-109 di Jogja dihadiri 500 peserta. Tekankan dakwah kemanusiaan, UMKM, dan penguatan sosial perempuan.
Banjir Semarang 2026 melanda Tugu dan Ngaliyan. 313 KK terdampak, satu lansia hilang, tanggul Sungai Plumbon jebol.
Lonjakan penumpang KA Daop 6 Yogyakarta naik hingga 91% saat libur panjang. KAI tambah 7 perjalanan kereta.
DPRD DIY soroti dokumen renovasi Mandala Krida yang belum lengkap. MC-0 dan DED 2026 terancam tertunda.
SPMB Sleman 2026 dibuka dengan jalur prestasi, domisili, afirmasi, dan mutasi. Ini syarat dan ketentuan lengkapnya.
Jadwal SIM Keliling Jogja Mei 2026 lengkap di Alun-Alun Kidul, Sasono Hinggil, dan MPP. Cek lokasi, jam, dan syarat perpanjangan SIM A dan C terbaru.