Advertisement

Krisis Lebanon 1990-2026: Dari Negeri Bank Menjadi Negara Bertahan

Media Digital
Kamis, 22 Januari 2026 - 15:37 WIB
Maya Herawati
Krisis Lebanon 1990-2026: Dari Negeri Bank Menjadi Negara Bertahan Foto ilustrasi bendera Lebanon.

Advertisement

Harianjogja.com, BEIRUT—Lebanon pernah dikenal sebagai pusat keuangan paling stabil di Timur Tengah. Namun, memasuki 2026, negara kecil di pesisir Mediterania itu masih berjuang keluar dari jurang krisis ekonomi terdalam dalam sejarah modernnya. Transformasi drastis ini tidak terjadi seketika, melainkan akumulasi puluhan tahun kebijakan rapuh, konflik regional, dan tata kelola negara yang rapuh.

Perjalanan menuju krisis Lebanon bermula seusai perang saudara berakhir pada awal 1990-an. Pemerintah membangun kembali perekonomian dengan mematok nilai Pound Lebanon terhadap dolar Amerika Serikat. Untuk membiayai rekonstruksi, negara meminjam dana dalam jumlah besar dengan bunga tinggi, menciptakan fondasi utang yang rapuh sejak awal.

Advertisement

Kronologi Sejarah Krisis

Memasuki periode 2011–2016, retakan mulai tampak. Perang di Suriah memutus jalur perdagangan darat Lebanon dan mendatangkan jutaan pengungsi, membebani infrastruktur yang sudah terbatas. Tekanan ekonomi meningkat, sementara reformasi struktural tak kunjung dilakukan.

Titik balik terjadi pada Oktober 2019 ketika rencana pajak atas aplikasi WhatsApp memicu protes massal. Gelombang kemarahan publik membuka tabir kebobrokan sistem keuangan yang selama ini ditutupi. Krisis kepercayaan pun meluas, disertai pembatasan penarikan dana di bank.

Setahun kemudian, ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut menghantam jantung ekonomi nasional. Cadangan gandum, infrastruktur vital, dan kawasan bisnis hancur, mempercepat keruntuhan total yang sudah di ambang jurang.

Penyebab Utama Krisis

Krisis Lebanon sering disebut sebagai “badai sempurna” karena dipicu faktor internal dan eksternal yang saling memperparah.

Pertama, sistem keuangan yang menyerupai skema “Ponzi” yang didukung negara. Pemerintah dan Bank Sentral (Banque du Liban) menarik simpanan dolar dari bank komersial dengan imbal hasil sangat tinggi. Dana nasabah digunakan membayar utang lama dan menutup gaya belanja negara. Ketika aliran dolar berhenti, seluruh sistem runtuh.

Kedua, korupsi sektarian atau confessionalism. Sistem politik membagi kekuasaan berdasarkan agama, melahirkan patronase. Para pemimpin lebih sibuk melayani kelompoknya ketimbang membangun institusi nasional. Akibatnya, sektor vital seperti listrik dan pengelolaan sampah dikelola buruk dan boros.

Ketiga, ketergantungan tinggi pada impor. Lebanon mengimpor hampir 80% kebutuhan dasar. Saat cadangan dolar menipis, nilai mata uang jatuh bebas, harga pangan, obat-obatan, dan bahan bakar melonjak hingga tak terjangkau masyarakat.

Solusi yang Diperlukan

Pemulihan Lebanon menuntut langkah radikal yang melibatkan reformasi domestik dan dukungan internasional.

Restrukturisasi perbankan dan audit forensik diperlukan untuk menelusuri ke mana perginya miliaran dolar dana publik. Bank tidak sehat harus ditutup atau digabung, dengan kerugian ditanggung pemegang saham besar, bukan nasabah kecil.

Kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi krusial sebagai sumber dana segar. Namun, bantuan ini mensyaratkan reformasi hukum ketat, termasuk undang-undang kerahasiaan bank dan kontrol modal yang transparan.

Reformasi sektor energi juga mendesak. Subsidi listrik yang tidak efisien menjadi lubang besar anggaran negara. Pembangunan pembangkit berbasis gas atau energi terbarukan berpotensi menghemat miliaran dolar per tahun sekaligus menggerakkan kembali industri.

Selain itu, Lebanon perlu bertransisi menuju sistem meritokrasi dengan mengurangi ketergantungan pada pembagian kekuasaan sektarian. Jabatan publik harus diisi teknokrat kompeten, bukan sekadar representasi kelompok.

Krisis Lebanon menjadi pengingat keras bahaya pengelolaan keuangan negara yang tidak transparan. Meski jalan pemulihan panjang dan terjal, kekayaan intelektual masyarakat Lebanon, baik di dalam negeri maupun diaspora, tetap menjadi aset terbesar.

Dengan sistem politik yang diperbaiki, potensi kebangkitan tetap terbuka, termasuk melalui inisiatif seperti Impact Lebanon, organisasi nirlaba yang berafiliasi dengan badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memulihkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik Lebanon, yang terus menggalang kolaborasi global di tengah krisis berkepanjangan.

Kabar terbaru seputar Lebanon terkini bisa dilihat di https://www.impactlebanon.org/about.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Warga Sentolo Lor Desak Kejelasan Nasib Sodetan Kali Papah

Warga Sentolo Lor Desak Kejelasan Nasib Sodetan Kali Papah

Kulonprogo
| Kamis, 22 Januari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Musim Hujan Saat Puasa, Dokter Anjurkan Vitamin C dan Zinc

Musim Hujan Saat Puasa, Dokter Anjurkan Vitamin C dan Zinc

Lifestyle
| Kamis, 22 Januari 2026, 11:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement