Advertisement
Pemkab Magelang dan Vokasi UGM Petakan Salak Nglumut
Produk salah lereng Merapi-Merbabu, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. - ist - Pemkab Magelang
Advertisement
MAGELANG—Upaya memperkuat ekonomi berbasis pertanian di lereng Merapi-Merbabu memasuki babak baru seusai Pemerintah Kabupaten Magelang menggandeng Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk memetakan potensi Salak Nglumut sebagai penggerak ekonomi daerah.
Kolaborasi ini dipimpin Dr. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S., dan diarahkan untuk menyusun pemetaan komprehensif terhadap Salak Nglumut, komoditas yang memegang peran penting dalam pembangunan ekonomi Kabupaten Magelang, khususnya di wilayah Srumbung.
Advertisement

Salak Nglumut bukan sekadar hasil pertanian, melainkan tulang punggung ekonomi masyarakat Srumbung. Kawasan ini dikenal sebagai produsen salak tertinggi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan kontribusi besar terhadap pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, serta perputaran ekonomi lokal.
BACA JUGA
Rantai nilai salak di Magelang mencakup empat komponen utama, yakni budi daya, pengolahan pascapanen, pengolahan oleh usaha mikro dan kecil (UMKM), serta distribusi dan pemasaran. Namun, efektivitas rantai nilai ini masih menghadapi berbagai persoalan struktural yang perlu dibenahi agar potensi Salak Nglumut dapat dioptimalkan.
Kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Magelang, melalui Bappeda dan Litbangda, dengan Prodi Pengembangan Produk Agroindustri UGM berlangsung dari Oktober 2025 hingga Maret 2026. Kemitraan ini bertujuan memetakan potensi, strategi, serta arah pengembangan produk salak yang akan dirangkum dalam dokumen kajian komprehensif.
Inisiatif tersebut sejalan dengan semangat planning by research dalam mewujudkan Sapta Cipta dan Visi Misi Bupati–Wakil Bupati Magelang, terutama Gemilang Potensine melalui sinergi agroindustri. Program ini juga merefleksikan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya peningkatan produktivitas pertanian (SDG 2) serta penguatan kemitraan antara masyarakat sipil dan lembaga pendidikan (SDG 17). Dengan memanfaatkan keahlian UGM, Pemkab Magelang berupaya membangun kerangka kerja berkelanjutan bagi produksi salak yang menguntungkan petani dan masyarakat.
Dr. Wildan menegaskan pentingnya proyek ini. "Tujuan kami adalah untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam rantai nilai salak dan mengembangkan strategi yang dapat meningkatkan produktivitas dan akses pasar bagi petani lokal."
Pendekatan ini diarahkan tidak hanya untuk memperbaiki kondisi ekonomi petani, tetapi juga menjaga keberlanjutan budi daya salak di wilayah tersebut.
Proses pemetaan akan melibatkan riset lapangan secara luas, konsultasi dengan pemangku kepentingan, serta analisis data guna menghadirkan gambaran utuh kondisi produksi salak di Magelang saat ini. Temuan tersebut akan menjadi dasar penting dalam perumusan kebijakan dan program pengembangan salak sebagai produk pertanian kunci.
Dalam pelaksanaannya, Pemkab Magelang dan UGM melibatkan petani lokal, koperasi, serta pemangku kepentingan lain untuk menghimpun masukan dan membangun ruang kolaborasi. Pendekatan partisipatif ini diharapkan mampu memberdayakan masyarakat sekaligus meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses pengembangan, seiring upaya mengatasi tantangan rantai nilai dan mempromosikan praktik berkelanjutan demi memperkuat ekonomi lokal Magelang. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Warga Sentolo Lor Desak Kejelasan Nasib Sodetan Kali Papah
Advertisement
Musim Hujan Saat Puasa, Dokter Anjurkan Vitamin C dan Zinc
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



