Advertisement

UPNVY Gelar Seminar Nasional, Cari Titik Optimal Sawit Berkelanjutan

Media Digital
Jum'at, 23 Januari 2026 - 12:07 WIB
Abdul Hamied Razak
UPNVY Gelar Seminar Nasional, Cari Titik Optimal Sawit Berkelanjutan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) menggelar Seminar Nasional bertajuk "Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan" pada Kamis (22/1/2026). - Harian Jogja 

Advertisement

SLEMAN—Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan”. Forum akademik ini mencoba melihat industri sawit secara lebih utuh dengan menempatkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu kerangka keberlanjutan.

Ketua Panitia Pelaksana Seminar, M. Kundarto, berharap forum tersebut mampu melahirkan langkah-langkah positif bagi pengembangan komoditas sawit nasional yang berimbang dan berkelanjutan.

Advertisement

“Paparan dari para narasumber dan pembahas, serta masukan dari para peserta, diharapkan dapat melengkapi langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mendukung pembangunan nasional yang menyejahterakan dan berkelanjutan,” ujarnya di Ruang Seminar Fakultas Pertanian UPNVY, Kamis (22/1/2026).

Dekan Fakultas Pertanian UPNVY, Budi Widayanto, menilai budi daya sawit saat ini berada dalam situasi paradoks. Di satu sisi, sawit kerap distigma sebagai penyebab degradasi hutan dan bencana lingkungan seperti banjir. Namun di sisi lain, sawit memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi kebutuhan global.

“Tanpa disadari, setiap hari kita bersentuhan dengan sawit dan produk turunannya. Melalui pertemuan ini, kami berharap dapat menemukan titik optimal agar sawit dapat dilihat secara seimbang dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” katanya.

Budi menjelaskan dalam paradigma lama, aspek ekonomi sering ditempatkan di luar sistem keberlanjutan sehingga tidak sebanding dengan aspek sosial dan lingkungan. Sementara dalam paradigma baru, ekonomi justru berada di dalam tatanan sosial yang menyatu dengan lingkungan.

“Tatanan sosial berada di dalam tatanan lingkungan, dan tatanan lingkungan berada di dalam semesta. Saya berharap seminar ini mampu menemukan titik optimal agar sawit bernilai ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, didapuk menyampaikan keynote speech. Ia menilai tema seminar sangat relevan dengan dinamika industri sawit saat ini.

“Tema ini relevan karena sawit merupakan komoditas strategis nasional yang berperan penting dalam aspek ekonomi sebagai sumber pendapatan negara dan masyarakat, aspek sosial yang melibatkan jutaan tenaga kerja, serta aspek lingkungan,” ujarnya.

Eddy menambahkan dari sisi lingkungan, industri sawit saat ini berada dalam sorotan publik, terutama pascabencana banjir di sejumlah wilayah Sumatra. Oleh karena itu, pembahasan sawit dari perspektif ekonomi, sosial, dan lingkungan menjadi penting untuk meningkatkan pemahaman publik secara komprehensif.

Dari sisi ekonomi, Budi Widayanto menegaskan industri sawit memiliki kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Sawit disebut sebagai penyumbang devisa terbesar kedua setelah batu bara, sekaligus sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, Yanto Santosa, memaparkan setidaknya terdapat empat isu lingkungan yang kerap dilekatkan pada budi daya sawit. Pertama, kebun sawit sering dikaitkan dengan konversi hutan primer atau deforestasi. Kedua, deforestasi tersebut disebut berdampak pada penurunan keanekaragaman hayati.

Isu ketiga adalah anggapan bahwa tanaman sawit boros air sehingga memicu kekeringan. Keempat, kebun sawit kerap disebut sebagai pemicu terjadinya bencana banjir.

Berdasarkan data yang disampaikan, Yanto menyebutkan luas total deforestasi di Indonesia pada periode 1950–2017 mencapai 76.440.100 hektare. Sementara luas total kebun sawit hingga 2017 tercatat sebesar 12.307.679 hektare. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Harda Kiswaya Tegaskan Tak Pernah Bahas Hibah dengan Raudi Akmal

Harda Kiswaya Tegaskan Tak Pernah Bahas Hibah dengan Raudi Akmal

Jogja
| Jum'at, 23 Januari 2026, 22:37 WIB

Advertisement

Asupan Alpukat Rutin Disebut Membantu Menekan Risiko Penyakit Jantung

Asupan Alpukat Rutin Disebut Membantu Menekan Risiko Penyakit Jantung

Lifestyle
| Jum'at, 23 Januari 2026, 16:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement