Advertisement
Pemda Kompak Jaga UHC, Layanan Kesehatan Mudah Diakses
Kunjungan peserta BPJS. - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Komitmen pemerintah daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menjamin layanan kesehatan warganya terus terjaga hingga awal 2026. Cakupan Universal Health Coverage (UHC) di tiga wilayah, yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunungkidul, tercatat telah melampaui angka 98 persen dengan tingkat keaktifan peserta yang tinggi.
Capaian tersebut membuat layanan kesehatan berbasis Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) semakin mudah diakses masyarakat. Selain kepesertaan yang hampir menyeluruh, tingkat keaktifan peserta di ketiga daerah juga mencapai minimal 80 persen, bahkan sebagian besar sudah berada di atas 90 persen.
Advertisement
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Yogyakarta, M. Idar Aries Munandar, mengungkapkan bahwa berdasarkan data per 1 Januari 2026, Kota Yogyakarta mencatat cakupan kepesertaan sebesar 99,45 persen. Kabupaten Bantul berada di angka 98,99 persen, sementara Kabupaten Gunungkidul mencatat cakupan tertinggi sebesar 99,59 persen.
“Bahkan masing-masing wilayah tersebut memiliki tingkat keaktifan di atas 90 persen. Artinya, dari 100 penduduk, setidaknya 90 orang dapat menggunakan kepesertaan JKN di fasilitas kesehatan,” kata Nandar, Senin (26/1/2026).
BACA JUGA
Ia menjelaskan, struktur kepesertaan JKN di ketiga daerah tersebut didominasi oleh peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), baik yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Setelah itu disusul oleh segmen Pekerja Penerima Upah dari badan usaha serta segmen kepesertaan lainnya.
Menurut Nandar, komposisi tersebut mencerminkan kuatnya keberpihakan pemerintah daerah dalam menjamin hak kesehatan masyarakat. Dengan UHC yang terjaga, warga dapat mengakses layanan kesehatan tanpa harus dibebani kekhawatiran soal biaya pengobatan.
“Dari data tersebut kita bisa melihat kuatnya komitmen pemerintah daerah dalam memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Akses terhadap layanan kesehatan menjadi mudah tanpa cemas soal biaya,” tegasnya.
Kemudahan layanan kesehatan melalui JKN, lanjut Nandar, tidak hanya terbatas pada upaya pengobatan atau kuratif. Program promotif dan preventif juga terus diperkuat untuk mencegah masyarakat jatuh dalam kondisi sakit yang lebih berat. Seluruh upaya tersebut dapat dimanfaatkan peserta JKN sesuai kebutuhan.
BPJS Kesehatan menyediakan berbagai layanan pendukung, mulai dari skrining riwayat kesehatan untuk mendeteksi potensi penyakit, Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), hingga Program Rujuk Balik. Seluruh layanan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
“UHC secara simultan menyokong peningkatan taraf kesehatan masyarakat, karena layanan kesehatan semakin dekat dan mudah dijangkau oleh seluruh lapisan,” ujar Nandar.
Manfaat UHC dan JKN juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Supriyanto, warga DIY yang terdaftar sebagai peserta PBI, mengaku terbantu saat harus menjalani serangkaian pemeriksaan hingga operasi akibat batu ginjal yang dideritanya.
Dengan kepesertaan PBI yang dimilikinya, Supriyanto dapat memperoleh layanan kesehatan tanpa mengeluarkan biaya tambahan, meskipun kondisi ekonomi keluarganya terbatas.
“Saya hanya seorang buruh mebel. Sementara ini kami hidup hanya dengan mengandalkan pendapatan istri sebagai buruh setrika. Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah yang sudah menanggung iuran BPJS Kesehatan yang saya miliki, sehingga saya bisa berobat hingga operasi tanpa biaya,” kata Supriyanto.
Ia berharap pemerintah daerah dan BPJS Kesehatan terus menjaga keberlangsungan program JKN agar masyarakat tetap terlindungi. Menurutnya, saat mengalami sakit berat, biaya pengobatan menjadi beban besar jika tidak ditopang oleh jaminan kesehatan.
“Bagi kami, kesehatan sangat mahal harganya. Lebih baik mencegah daripada mengobati dengan menjaga pola hidup sehat. Jika sudah sakit seperti ini, saya tidak dapat bekerja dan tidak mendapatkan penghasilan. Oleh karena itu, menjadi peserta JKN sangat penting karena sakit bisa datang kapan saja,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kulonprogo Siapkan Open Trip Terintegrasi dari YIA hingga Borobudur
Advertisement
Kebiasaan Sehat Dinilai Efektif Kurangi Keparahan GERD
Advertisement
Advertisement
Advertisement



