Advertisement
Kerja Bakti Massal Pemkot Jogja Sasar Bau dan Sampah Malioboro
Kerja bakti jajaran Pemkot Jogja di pedestrian sepanjang Jalan Malioboro, pada Selasa (27/1/2026) pagi. - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Advertisement
JOGJA—Pemerintah Kota Jogja menggelar kerja bakti massal di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer sebagai langkah konkret menekan persoalan bau tak sedap dan penumpukan sampah yang selama ini kerap dikeluhkan warga serta wisatawan.
Sejak Selasa (27/1/2026) pagi, ratusan peserta yang terdiri dari jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Jogja, organisasi perangkat daerah, serta unsur terkait berkumpul di halaman DPRD DIY sebelum bergerak menyusuri koridor utama wisata Kota Jogja. Kegiatan dimulai sekitar pukul 06.00 WIB dengan membawa berbagai peralatan kebersihan untuk menjangkau sudut-sudut yang tidak tersentuh pembersihan rutin.
Advertisement
Sapu, pengki, hingga alat kebersihan lainnya digunakan untuk membersihkan saluran, trotoar, dan titik-titik tersembunyi yang selama ini berpotensi menjadi sumber masalah kebersihan. Kerja bakti massal ini menjadi bagian dari misi Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, dalam mewujudkan lingkungan kota yang bersih, sehat, dan nyaman bagi publik.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja, Dedi Budiono, menjelaskan pemilihan Malioboro bukan tanpa alasan. Selain menjadi ikon pariwisata, kawasan ini kerap menerima keluhan terkait kebersihan dan aroma tak sedap yang mengganggu kenyamanan pengunjung.
BACA JUGA
“Kita ingin memberikan edukasi juga kepada masyarakat, kepada pemilik usaha di sini untuk menjaga lingkungan bareng-bareng. Selain itu, kalau kita dengar ataupun baca di internet itu, banyak yang mengeluhkan Malioboro kotor, Malioboro bau pesing,” ujar Pj Dedi Budiono, Selasa (27/1/2026).
Menurut Dedi, salah satu sumber bau tidak sedap berasal dari endapan air kencing kuda yang berada di saluran air bawah tanah. Saat curah hujan tinggi, endapan tersebut kerap meluap ke permukaan dan memunculkan aroma menyengat di sejumlah titik Malioboro.
“Bau tidak sedap di Malioboro biasanya ada endapan kencing kuda di water torrent di bawah. Itu penuh, kemudian meluber ke atas saat hujan,” katanya.
Selain persoalan bau, tim kerja bakti juga menemukan tumpukan sampah lama yang telah mengeras di beberapa titik pembuangan. Endapan pasir, lumpur, dan sampah tersebut tidak dapat ditangani melalui pembersihan harian sehingga memerlukan kerja bakti berskala besar.
Dedi menilai kegiatan semacam ini idealnya dilakukan secara rutin agar titik-titik rawan kebersihan dapat terus terpantau. Ia menyebut kerja bakti massal sebaiknya dilaksanakan minimal sebulan sekali sebagai upaya pencegahan agar persoalan serupa tidak kembali muncul.
“Kegiatan seperti ini harus diteruskan, paling tidak sebulan sekali untuk pembersihan yang skala besar. Dengan kerja bakti massal ini bisa menyentuh titik-titik yang selama ini tidak pernah disentuh melalui perawatan hari-hari itu,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti, menilai kerja bakti massal ini memiliki makna lebih dari sekadar aktivitas kebersihan. Kegiatan tersebut menjadi simbol kebersamaan dan upaya menumbuhkan rasa memiliki terhadap Malioboro sebagai ruang publik bersama.
“Kegiatan ini adalah kerja bakti bersama, tidak hanya OPD tapi juga pelaku pariwisata juga pelaku wisata, pelaku usaha yang ada di kawasan Malioboro khususnya. Jadi ini menjadi salah satu bentuk kegotong-royongan kita semuanya untuk handarbeni, untuk merasa memiliki Malioboro bersama-sama,” kata Yetti.
Ia menambahkan, keterlibatan berbagai unsur menjadi kunci agar kebersihan dan kenyamanan Malioboro tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Pelaku usaha, wisatawan, dan warga diharapkan turut berperan aktif menjaga kawasan yang menjadi wajah Kota Jogja tersebut agar tetap bersih dan ramah pengunjung. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
DKPP Bantul Dorong Perkebunan, Ajukan Bibit Jambu dan Kakao ke Pusat
Advertisement
Kelelawar dan Babi Sebarkan Virus Nipah, Ini Penjelasan Lengkap WHO
Advertisement
Advertisement
Advertisement



