Advertisement
JNE Berbagi Tali Asih untuk Insan Pers pada Peringatan HPN 2026
(baju merah) Mantan wartawan Sorot Bantul, Purwanto, menerima tali asih dalam peringatan HPN dari JNE di rumahnya Sumbermulyo, Bantul, Selasa (10/2/2026). - Istimewa
Advertisement
JOGJA—JNE Cabang Yogyakarta memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dengan menyalurkan tali asih kepada insan pers yang tengah berjuang dengan kondisi kesehatan.
Pemberian tali asih dilakukan melalui kunjungan langsung ke kediaman Purwanto, mantan wartawan Sorot Bantul, di Sumbermulyo, Bantul, dan Anggoro Rulianto, mantan wartawan Wawasan, di Sidokarto, Godean, Sleman, Selasa (10/2/2026).
Advertisement
Marcomm & Partnership JNE Regional Jateng-DIY, Widiana, mengatakan JNE rutin terlibat dalam kegiatan HPN sejak 2020. Dalam enam tahun terakhir kegiatan HPN diisi dengan berbagai agenda sosial, mulai dari donor darah hingga penyaluran bantuan kepada rekan-rekan pers yang membutuhkan.
Ia mengatakan JNE fokus berkolaborasi dan bergerak bersama, sesuai dengan tema ulang tahun JNE ke-35 'Bergerak Bersama'. Sehingga diharapkan dengan bergerak bersama bisa memberikan manfaat bagi sesama.
BACA JUGA
"Harapannya bisa berkolaborasi dengan banyak pihak memberikan kebaikan sesuai dengan tagline JNE, connecting happiness," ujarnya.
Widiana menyampaikan, pers punya peran yang sangat besar, termasuk dalam memberitakan berbagai perkembangan maupun program JNE. Menurutnya kegiatan ini sebagai wujud apresiasi atas peran dan andil rekan-rekan media, sehingga JNE semakin dikenal luas.
Lebih lanjut dia mengatakan, kegiatan seperti ini diharapkan bisa terus digelar secara rutin. Selain program untuk insan pers, JNE juga aktif menjalankan kegiatan sosial bagi masyarakat sekitar kantor, salah satunya melalui program Gerakan Sedekah Bersama Polsek Umbulharjo (Gaspol) yang dilaksanakan setiap Jumat.
"Kami merasa perlu memperhatikan lingkungan sekitar termasuk masyarakat yang membutuhkan dengan mengunjungi dan memberikan bantuan kepada masyarakat," lanjutnya.
Mantan wartawan Sorot Bantul, Purwanto, menceritakan kisahnya dalam berjuang menghadapi sakit diabetes. Purwanto mengatakan penyakit diabetesnya sudah terdeteksi sejak 2011–2014, namun tidak terkontrol secara rutin.
Dari sakit diabates ini kemudian menyerang saraf di mata dan telinganya, sehingga fungsinya berkurang dan menganggu aktivitas kerja pada tahun 2017. Kondisi ini memaksanya harus beberapa kali menjalani operasi.
"Awalnya gula saya tinggi sekali, sampai 500. Karena tidak rutin kontrol, akhirnya berdampak ke mata dan telinga," tuturnya.
Kini dengan keterbatasannya ia menjalani kehidupan sederhana, dengan rutinitas menanam sayuran hingga pohon pisang di pekarangan dan mengelola sawah dan masih punya cita-cita beternak.
Di momentum HPN, Purwanto menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan bagi insan pers di Indonesia agar tetap menjalankan peran strategisnya di tengah tantangan era digital.
Purwanto mengucapkan terima kasih kepada JNE atas tali asih yang telah disalurkan beserta semua pihak yang terlibat. "Semoga semua diberikan kemudahan dalam menjalankan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.
.jpg)
(baju putih) Mantan wartawan Wawasan, Anggoro Rulianto, menerima tali asih dalam peringatan HPN dari JNE di rumahnya, Sidokarto, Godean, Sleman, Selasa (10/2/2026)./Istimewa
Istri Anggoro Rulianto, Ratih Dirgasari Rahayu, mengungkapkan kondisi suaminya saat ini relatif stabil meski masih menjalani perawatan karena beberapa masalah kesehatan yang dialami beberapa tahun terakhir. Ia bercerita, mestinya suaminya menjalani operasi batu ginjal, namun belum dilakukan karena terkendala kondisi kesehatan yang lain.
"Sebenarnya sudah dirujuk ke RSUP Dr Sardjito, tapi belum jadi operasi karena ada pendarahan di ambeyen," ujarnya.
Dia menceritakan penyakit yang diderita suaminya bermula di 2008 dengan serangan jantung. Kondisi tersebut sempat kembali kambuh pada 2018 dengan keluhan nyeri dada, lalu buru-buru dia bawa ke RS, dan dokter menyampaikan kondisi ini tidak selalu terkait dengan jantung.
Setelah rawat inap dan stabil Ruli sapaan akrab Anggoro Rulianto, masih sempat liputan ke Makassar. Setelah itu dia mengeluh nafasnya tersengal-sengal, dan saat cek jantung kondisi jantung baik.
Ia mengaku melihat wajah suaminya semakin pucat, dan coba tes darah, hasilnya kadar hemoglobin (Hb) nya sangat rendah. "Baru kemudian diketahui penyebabnya, ternyata Pak Ruli mengalami pendarahan ambeien."
Dia menceritakan, pada Agustus 2019, Ruli kembali menjalani perawatan dan transfusi darah karena Hb-nya kembali turun. Di Januari 2020, ia mengalami stroke yang berdampak pada kemampuan motorik dan komunikasi.
"Januari 2020, tiba-tiba pagi, subuh itu ke kamar mandi, tiba-tiba jatuh. Tak angkat kok kakinya lemas, tangannya lemes."
Sehari-hari Ruli menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, menonton televisi dan kadang datang ke acara reuni teman lamanya. Bahkan masih sempat datang ke acara HPN di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam dua tahun terakhir. "Tapi alhamdulillah [saat ini] kondisinya stabil."
Ratih menyampaikan apresiasi atas kepedulian JNE terhadap insan pers melalui kegiatan tali asih ini. Menurutnya partisipasi JNE dalam peringatan HPN menjadi wujud kepedulian sosialnya.
"Harapannya JNE semakin melebarkan sayap, mempertahankan pelayanannya yang selama ini sudah baik. Saya sendiri juga pengguna JNE," ujarnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
- Panduan Wisata Jogja 2026: Dari Glamping hingga Hidden Gems
- Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue
- Tren Wisata Solo Bergeser ke Destinasi Publik dan Hits Baru
- Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional
Advertisement
Perkelahian Malam di Imogiri Bantul, Dua Pemuda Luka Kena Sajam
Advertisement
Penelitian Ungkap Pola Makan Nabati Aman bagi Pertumbuhan Bayi
Advertisement
Advertisement
Advertisement



