Advertisement

OPINI: Bulan Puasa Antara Spiritualitas dan Konsumtivisme

Jumadi, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram, Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah DIY dan ISEI DIY
Kamis, 12 Maret 2026 - 12:47 WIB
Maya Herawati
OPINI: Bulan Puasa Antara Spiritualitas dan Konsumtivisme Jumadi, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram, Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah DIY dan ISEI DIY

Advertisement

Bulan puasa merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Bulan puasa dipandang sebagai bulan laboratorium dalam meningkatkan nilai spiritual untuk mencapai derajat ketakwaan kepada Allah Swt. Pada bulan puasa juga diharapkan terjadi peningkatan kualitas kecerdasan spiritual yang ditunjukkan melalui berbagai aktivitas ibadah kepada Allah, mulai dari puasa untuk menahan lapar dan haus hingga melaksanakan salat tarawih.

Selain kecerdasan spiritual, puasa seharusnya juga dapat meningkatkan kecerdasan emosional. Melalui puasa, orang yang menjalankan ibadah puasa dapat merasakan penderitaan orang-orang yang tidak berkecukupan dan harus menahan lapar meskipun tidak sedang berpuasa.

Advertisement

Apabila nilai puasa dapat dirasakan oleh orang yang menjalankannya, maka hati akan tergerak untuk lebih dermawan kepada sesama yang kurang mampu.

Dengan demikian, puasa dapat menjadi refleksi untuk meningkatkan kualitas spiritual dan emosional, yakni hubungan vertikal kepada Allah serta hubungan horizontal kepada sesama manusia.

Namun, sebuah paradoks yang cukup menarik muncul dalam realitas sosial modern saat ini. Bulan puasa yang mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri justru sering diiringi dengan peningkatan konsumsi yang cukup tinggi.

Selama bulan puasa, banyak pusat perbelanjaan, pasar tradisional, hingga platform belanja daring mengalami lonjakan transaksi. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran makna dari aktivitas spiritual menuju perilaku yang lebih konsumtif.

Peningkatan konsumsi menjadi paradoks yang paling jelas terlihat. Meskipun berpuasa seharusnya mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi, banyak keluarga justru menyiapkan makanan dalam jumlah berlebihan saat berbuka puasa.

Tidak jarang makanan tersebut akhirnya terbuang karena tidak habis dimakan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai pengendalian diri sering kali bertolak belakang dengan perilaku konsumsi yang berlebihan.

Paradoks bulan puasa juga tampak dalam aspek sosial dan spiritual. Bulan puasa seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan solidaritas sosial, seperti berbagi kepada fakir miskin serta memperkuat hubungan kemanusiaan.

Namun, dalam kenyataannya kesenjangan sosial justru kerap terlihat semakin jelas. Kelompok masyarakat dengan daya beli tinggi dapat menikmati berbagai kemewahan berbuka puasa di hotel, restoran, maupun pusat perbelanjaan, sementara sebagian masyarakat lainnya masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Fenomena paradoks bulan puasa ini tidak berarti bahwa nilai-nilai puasa telah hilang. Kondisi tersebut justru menjadi pengingat bahwa esensi puasa perlu terus direfleksikan.

Puasa bukan sekadar perubahan pola makan atau tradisi tahunan, melainkan proses pembentukan karakter yang menekankan kesederhanaan, empati, dan pengendalian diri.

Untuk mengembalikan nilai spiritual bulan puasa, diperlukan kesadaran kolektif. Hal ini dapat dimulai dengan membudayakan berbuka puasa secara sederhana, mengurangi pemborosan makanan, meningkatkan kegiatan sosial seperti berbagi dan bersedekah, serta memanfaatkan bulan puasa sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

Pada akhirnya, bulan puasa menjadi pengingat bahwa spiritualitas tidak hanya diukur dari pelaksanaan ibadah semata, tetapi juga dari bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika nilai kesederhanaan, kepedulian sosial, dan pengendalian diri dapat diwujudkan secara nyata, maka bulan puasa akan kembali menjadi bulan yang sakral secara spiritual sekaligus mampu membawa perubahan sosial yang positif melalui hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal kepada sesama manusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

RSUD Panembahan Senopati Tetap Buka Saat Libur Lebaran

RSUD Panembahan Senopati Tetap Buka Saat Libur Lebaran

Bantul
| Kamis, 12 Maret 2026, 14:17 WIB

Advertisement

Psikiater Ungkap Tanda Kecanduan Judi Online yang Perlu Diwaspadai

Psikiater Ungkap Tanda Kecanduan Judi Online yang Perlu Diwaspadai

Lifestyle
| Kamis, 12 Maret 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement