Cek Kesehatan Gratis PDI Perjuangan DIY Diserbu Ratusan Warga
Ratusan warga DIY mengikuti layanan cek kesehatan gratis yang digelar DPD PDI Perjuangan DIY dalam rangkaian Bulan Bung Karno.
Perjuangan pasien gagal ginjal Nita, di Bantul jalani cuci darah terbantu JKN. - ist
BANTUL–Tak pernah terbayangkan dalam diri seorang Nita Sulistyaningsih harus berhadapan dengan gagal ginjal. Hatinya seketika runtuh mendengar penjelasan dokter. Cuci darah akan menjadi sahabatnya menjalani hari demi hari. Namun, apa mau dikata, kehidupan terus berjalan. Perjuangan panjang pengobatan Nita pun dimulai.
“Saat ada vonis dokter soal gagal ginjal saya juga rasanya langsung drop. Harus menjalani cuci darah rutin karena kreatininnya memang sudah tinggi, delapan saat itu. Ya mau tidak mau harus dijalani,” kata Nita, Senin (30/03).
Sebelum vonis itu datang, Nita memang rutin berobat untuk hipertensi. Awalnya ia tidak merasakan gejala apa pun, tidak ada keluhan yang menandakan tekanan darahnya perlahan menanjak naik. Beberapa kali kontrol, tekanan darahnya tak kunjung stabil, ditambah ada rasa nyeri menjalar di area pinggangnya.
“Saat kontrol hipertensi, ada keluhan juga sakit pinggang. Lalu saya diarahkan untuk cek urin dan ada darah diurin itu. Lanjut saya USG perut, hasilnya ada batu ginjal. Batu ini kemudian diambil dengan proses laser beberapa kali. Setelah itu kreatinin naik terus hingga delapan itu tadi. Akhirnya ya harus cuci darah,” cerita Nita.
Enam bulan sudah Nita menjalani rutinitas cuci darah. Di tengah kondisi berat itu, ada kelegaan di hati Nita, ia tak perlu risau akan biaya cuci darah yang tinggi. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hadir dengan penjaminan layanan termasuk cuci darah yang terkenal berbiaya tinggi.
"Sudah enam bulan ya cuci darah dan semua dengan jaminan JKN, kalau tidak biayanya besar sekali. Sekali cuci darah sekitar 1,2 juta itu satu kali saja, padahal seminggu dua kali. Kira-kira kalau tidak pakai JKN terus berapa gitu, dikali-kali biayanya terus jadi berapa, bisa ratusan juta. Wah tidak bisa dihitung besarnya. Ibarat kata menjual rumah saja belum tentu cukup," katanya.
Nita tak bisa membayangkan proses pengobatannya tanpa JKN, entah apa yang akan terjadi. Nita merasa sangat terbantu. Tak berhenti sampai disitu, selama prosesnya menjalani cuci darah, ia merasakan layanan yang sangat baik dari fasilitas kesehatan. Bahkan pasien dan tenaga medis sudah terasa seperti keluarga.
"Disini pakai JKN dilayani dengan alhamdulilah baik sekali. Selama ini tidak ada tambahan biaya, sama sekali tidak. Semua dokter, perawat pelayanannya bagus dan ramah sudah seperti saudara sendiri. Semua dilayani sama tidak ada perbedaan perlakuan. Alhamdulillah JKN sangat menolong," katanya.
Nita ingin dengan keberadaan Program JKN semakin banyak orang yang tertolong. Nita telah membuktikan manfaat JKN sebagai payung perlindungan ketika sakit.
"Hidup sehat, makan yang sehat, jaga pola makan, karena kalau sudah sakit begini tidak terbayang rasanya. Orang sehat itu murah, yang mahal orang sakit. Semoga layanan BPJS Kesehatan bisa terus ditingkatkan semakin baik, supaya yang membutuhkan bisa tertolong karena penyakit datangnya tidak tahu kapan," tutupnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ratusan warga DIY mengikuti layanan cek kesehatan gratis yang digelar DPD PDI Perjuangan DIY dalam rangkaian Bulan Bung Karno.
Polresta Jogja memastikan dugaan pelecehan terhadap wisatawan di Titik Nol Kilometer tidak terbukti setelah pemeriksaan CCTV bersama korban.
Jorge Martin memimpin klasemen MotoGP 2026, tapi juga pembalap paling sering jatuh dengan 16 kali crash.
Kiper Cape Verde Vozinha menjadi sorotan setelah tampil gemilang melawan Argentina. Berstatus bebas transfer, ia kini dikaitkan dengan Inter Miami dan klub Bras
Sebanyak 12 objek bersejarah di Gunungkidul direkomendasikan menjadi cagar budaya baru, mulai dari Gua Jepang, GKJ Wonosari hingga koleksi Wayang Menak.
Ford, Klarna, Salesforce, dan IBM mulai merekrut kembali karyawan setelah menyadari AI belum mampu sepenuhnya menggantikan peran manusia.