Pertumbuhan Ekonomi 5,27% Diharapkan Mampu Stabilkan Rupiah
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2018 yang mencapai 5,27% dapat memberikan kepercayaan positif untuk menstabilisasi nilai tukar rupiah.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2018 yang mencapai 5,27% dapat memberikan kepercayaan positif untuk menstabilisasi nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, perekonomian DIY triwulan II /2018 dibanding triwulan II/2017 (year on year/yoy) tumbuh 5,90%. Lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,38% dan juga lebih tinggi dibanding triwulan II/2017 yang tumbuh 5,21%. Selain didukung oleh semua lapangan usaha, aktivitas ekonomi juga didorong tingginya konsumsi saat Ramadan dan Lebaran.
Jumlah penduduk miskin di DIY mengalami penurunan, kendati persentasenya tidak terlalu besar. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY merilis jumlah penduduk miskin pada semester ini turun menjadi 12,13%, hanya turun 0,23 poin karena diklaim inflasi terjaga pada level rendah.
Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan perekonomian Indonesia dalam kondisi sangat baik, di antaranya ditunjukkan oleh rendahnya rasio utang terhadap PDB dibandingkan dengan hampir semua negara berkembang lainnya. Selain itu, ada manajemen yang sangat kuat dalam anggaran publik.
Inflasi Kota Jogja berdasarkan laporan BPS DIY relatif terjaga di pertengahan Ramadan hingga Lebaran. Adanya penurunan harga sejumlah komoditas dan melimpahnya pasokan untuk beberapa komponen volatile food, memberikan penekanan terhadap laju inflasi.
Hingga Juni 2018, BI melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dalam fase perbaikan yang lemah dilihat dari pertumbuhan konsumsi yang berada di bawah 5%.
Penyaluran pembiayaan multifinance diyakini dapat tumbuh sekitar 6%-7% pada semester I/2018 di tengah industri perbankan yang kian selektif menyalurkan pendanaan kepada multifinance.
Para pengusaha Indonesia di Tiongkok dan Hong Kong yang tergabung dalam Inacham membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang tengah lesu sebagai akibat pelemahan rupiah terhadap dolar, kegiatan ekspor barang dan jasa, serta investasi perlu didorong. Upaya mendorong kedua sektor ini, tidak hanya di nasional, tetapi juga di DIY yang memiliki banyak potensi untuk mendongkrak kedua sektor tersebut.
Pengiklan meningkatkan belanja iklan di media, khususnya televisi dan radio untuk menjawab perubahan pola konsumsi dan perilaku konsumen selama Ramadan.