Covid-19 Tak Halangi Siswa Berprestasi di Ajang FLS2N
FLS2N merupakan perhelatan yang menampilkan kompetensi siswa di bidang seni pertunjukan dan seni penciptaan.
FLS2N merupakan perhelatan yang menampilkan kompetensi siswa di bidang seni pertunjukan dan seni penciptaan.
Memiliki siswa berbakat yang lolos ke kompetisi tingkat nasional menjadi kebanggan tersendiri bagi sekolah. Sekolah Kesatuan Bangsa Jogja misalnya, menjadi sekolah swasta yang di 2020 ini mampu meloloskan 15 siswanya ke Kompetisi Sains Nasional (KSN) 2020.
Dua siswi kelas 9 SMP Muh Al Mujahidin Gunungkidul, Ardhani Maulidia Nugroho Putri dan Galuh Ramadhani meraih medali perunggu dalam ajang International Kangoroo Mathematics Contest 2020 yang diikuti secara online pada tanggal 21 Juni 2020.
Sebanyak 211 siswa berprestasi tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menenengah pertama (SMP) menerima beasiswa dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Rabu (11/12/2019).
Dua tim tari pelajar Tanah Air, Gema Citra Nusantara Junior dan SMA Negeri 70 Jakarta, meraih penghargaan dalam dua festival kebudayaan yang berlangsung di Wales, Inggris dan Batumi, Georgia pada 2-12 Juli.
Mutiara Oktarani Nurul Al Pasha, 13, mewakili Indonesia dalam kompetisi bergengsi Asean School Game ke-11 tahun 2019. Ia rencananya akan mengikuti lomba marathon kategori 1500 dan 5000 meter. Kejuaraan antar pelajar yang diikuti oleh 10 negara Asean tersebut akan digelar pada tanggal 17-25 Juli 2019 bertempat di Semarang, Jawa Tengah.
SMA Muhammadiyah 2 (Muha) Kota Jogja mewisuda sebanyak 303 siswa pada Senin (13/5/2019). Semua siswa dinyatakan lulus 100%, dua di antaranya mendapatkan nilai 100 dalam UNBK 2019.
Meloloskan siswanya ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) bagi SMA Negeri mungkin merupakan hal biasa. Adalah SMA Muhammadiyah 2 Kota Jogja, merupakan SMA swasta yang mampu meloloskan siswanya ke SNMPTN dalam jumlah mencapai puluhan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara menyatakan masih ada 15 sekolah menengah pertama (SMP) yang berada di pedalaman dan pelosok perbatasan Indonesia dengan Malaysia itu melaksanakan ujian nasional (UN) berbasis kertas.
Sejumlah hasil karya pelajar SMK di DIY kini mulai dilirik oleh investor untuk dikembangkan agar bisa diproduksi secara massal.