Raja Keraton Agung Sejagad: Saya Menyesal
'Raja' Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso akhirnya mengaku jika keraton yang didirikannya fiktif. Dia menyesal atas perbuatan yang dilakukannya itu.
'Raja' Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso akhirnya mengaku jika keraton yang didirikannya fiktif. Dia menyesal atas perbuatan yang dilakukannya itu.
Belakangan ini publik dihebohkan dengan kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Dua pimpinannya Toto Santoso, 42, dan Fanni Aminadia, 41, mengaku sebagai raja dan ratu keraton tersebut.
Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat yang kini menjadi tersangka kasus penipuan akhirnya mengakui kalau dirinya berimajinasi atau kini ngetren disebut 'halu'. Meski demikian tim psikologi tetap akan didatangkan.
Belakangan ini masyarakat Indonesia digegerkan dengan fenomena munculnya 'kraton-kraton baru'. Beragam alasan diungkapkan, mulai dari menjaga kelestarian budaya, membangkitkan kerajaan masa lampau, hingga aksi penipuan untuk mengumpulkan dana.
Pemkab Purworejo membuka nomor pengaduan dan pos layanan kesehatan bagi warga yang pernah atau masih menjadi pengikut 'Raja' Keraton Agung Sejagat (KAS) Toto Santoso.
Pihak kepolisian dari Polres Purworejo dan Polda Jateng telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Keraton Agung Sejagat dan di kontrakan 'Raja' Toto Santoso di Sleman pada Jumat (17/1/2020) malam hingga Sabtu (19/1/2020) pagi.
Warga di Dusun Krajan, Desa Mojosari, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, belakangan ini sedang digegerkan dengan adanay pohon akasia yang bisa menangis.
Perempuan yang mengaku sebagai Ratu Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Fanni Aminadia ternyata cukup aktif menggunakan media sosial. Bahkan ia juga sempat membuat pesan untuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Namun, hal lucu justru dilakukannya dalam postingan terakhirnya di akun @fanniadia_tbtd.
Publik Tanah Air dihebohkan dengan munculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo dan sekitarnya. Bupati Purworejo Agus Bastian mengaku senang nama Purworejo menjadi dikenal.
Sejarawan Indonesia Asep Kambali menyebut klaim Toto Santosa yang mengaku Raja Keraton Agung Sejagat tidak sesuai dengan sejarah.