Disbud Kota Jogja Gelar Kompetisi Alih Manuskript
Kompetisi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Jogja tahun ini mengusung tema “Aksara Jawa Anjayeng Bawana” selaras dengan tema penyelenggaraan oleh Dinas Kebudayaan DIY.
Kompetisi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Jogja tahun ini mengusung tema “Aksara Jawa Anjayeng Bawana” selaras dengan tema penyelenggaraan oleh Dinas Kebudayaan DIY.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengkampanyekan Jogja sebagai Kota Hanacaraka atau Aksara Jawa. Pencanangan ini sebagai upaya untuk menjaga aksara Jawa di era digital saat ini.
Upaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Bantul menggelar kompetisi dongeng dan Stand Up Comedy Bahasa Jawa pada 2021 ini. Kedua kegiatan tersebut diharapkan mampu membantu mempertahankan kebahasaan.
Kalangan milenial menjadi salah satu sasaran untuk didekatkan dengan aksara Jawa. Sebuah tabloid khusus remaja yang seluruh tulisannya menggunakan aksara Jawa diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan DIY dengan melibatkan sejumlah pemerhati aksara Jawa.
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa di level SMP hingga SMA/SMK menyatakan kesiapannya dalam menjalankan amanat Kongres Aksara Jawa I.
Pemerintah bersama pakar dan pemangku kepentingan tampaknya harus bekerja keras untuk menjadikan aksara Jawa banyak digunakan masyarakat. Penggunaan pada ranah digital menjadi salah satu alternatif agar aksara ini mudah diakses.
Gubernur DIY Sri Sultan HB X berharap Kongres Aksara Jawa dapat menaikkan minat baca tulis aksara jawa di kalangan masyarakat. Sebab jika tidak dilestarikan dengan baik dapat berdampak pada kepunahan bahasa Jawa. Demikian dikatakan Sultan pada Kongres Aksara Jawa I yang digelar secara daring, Senin (22/3/2021).
Kongres Aksara Jawa I akan digelar di DIY pada tanggal 22 Maret hingga 26 Maret 2021. Kongres ini akan membahas sejumlah isu penting, mulai dari digitalisasi hingga tata tulis aksara Jawa.
Seorang filolog yang bekerja di Dinas Kebudayaan DIY, Setya Amrih Prasaja, telah memelopori digitalisasi aksara Jawa ini di daerahnya, dan sudah satu dasawarsa aksara itu digunakan secara digital dalam pembelajaran sekolah.
Kundha Kabudayaan Gunungkidul berkomitmen untuk melakukan pelatihan pembawa acara atau MC berbahasa Jawa. Meski demikian, untuk memperlancar kegiatan ini ada pembentukan komunitas sebagai wadah didalam pelatihan.