Ini Daftar 46 Desa Rawan Banjir di DIY
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY telah mengidentifikasi 46 desa rawan banjir di DIY. Sebanyak 46 desa tersebut masuk dalam kategori tinggi rawan banjir.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY telah mengidentifikasi 46 desa rawan banjir di DIY. Sebanyak 46 desa tersebut masuk dalam kategori tinggi rawan banjir.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mengidentifikasi 46 desa rawan banjir di DIY, paling banyak berada di Kulonprogo. Sementara, desa di Gunungkidul bebas dari ancaman banjir.
Debit air Sungai Serang, Kulonprogo, meningkat selama hujan seharian pada Minggu (17/3/2019). Warga di bantaran Sungai Serang bersiap hadapi banjir yang mulai menggenang.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 97 titik panas yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan di lima provinsi di Pulau Sumatera.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Mlati memprediksikan iklim pada Maret ini di wilayah DIY masih dalam periode musim hujan dengan rata-rata hujan mencapai di atas 300 milimeter per bulan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika merilis prediksi musim di Indonesia. Berdasarkan pantauan BMKG, perkembangan musim hujan hingga akhir Februari 2019 menunjukkan bahwa seluruh wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan.
Peringatan dini cuaca dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ). Potensi hujan lebat mungkin terjadi untuk beberapa wilayah di Indonesia tiga hari ke depan hingga Kamis (21/2/2019).
Beberapa telaga yang ada di Gunungkidul tidak terisi meski musim hujan mencapai puncaknya. Pelaksana Tugas (Plt) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan jajarannya belum memantau kondisi kondisi telaga yang ada di Bumi Handayani. Namun demikian langkah tersebut akan dilakukan sebagai upaya pemetaan daerah rawan kekeringan saat kemarau.
Potensi hujan es di wilayah Kabupaten Sleman masih ada dengan wilayah yang tidak dapat dipastikan tergantung dari pertumbuhan awan cumulonimbus itu sendiri.
Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta Djoko Budiyono mengatakan fenomena hujan es yang terjadi di beberapa wilayah Sleman pada Selasa (29/1/2018) disebabkan oleh aktifitas awan cumulonimbus, yaitu awan rendah yang pertumbuhannya vertikal menjulang ke atas dan berbentuk gumpalan.