Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Nasib PNS Pusat?
Nasib Pegawai Negeri Sipil (PNS) di pemerintah pusat turut menjadi pembahasan selain pembangunan ibu kotadi Kalimantan secara fisik.
Nasib Pegawai Negeri Sipil (PNS) di pemerintah pusat turut menjadi pembahasan selain pembangunan ibu kotadi Kalimantan secara fisik.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan bahwa seluruh abdi negara khususnya yang bekerja di pemerintahan pusat akan pindah ke ibu kota negara (IKN) baru di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2024.
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY siap mendukung penyiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menbangun ibu kota baru. Salah satunya melalui kerja sama dengan perguruan tinggi di wilayah DIY untuk menjamin kompetensi dan kapabilitas arsitek.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menjamin bahwa Ibu Kota baru di Kalimantan akan menjadi kota pintar, didukung dengan teknologi 5G.
Kalangan arsitek muda diminta kesiapannya untuk memberikan kontribusi dalam proyek pembangunan Ibu Kota baru di Kalimantan. Peluang itu harus segera ditangkap sumber daya manusia (SDM) arsitek dalam negeri karena saat ini banyak pihak asing yang ingin berkontribusi terhadap proyek pemindahan ibu kota baru.
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan mengungkapkan alasan penunjukan sejumlah tokoh terkemuka internasional masuk ke dalam dewan pengarah ibu kota baru Indonesia.
Presiden Joko Widodo ingin Ibu Kota baru di Kalimantan menggunakan transportasi massal berbasis teknologi swakemudi (autonomous vehicle). Transportasi swakemudi ini merupakan kendaraan yang dapat beroperasi dengan aman dan efektif tanpa perlu dikendalikan manusia.
Adanya embung/situ di daerah penyangga Ibu Kota yang tidak terawat menjadi salah satu penyebab banjir.Hal tersebut disampaikanKepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane Kementerian PUPR Bambang Hidayah.
Presiden Joko Widodo (Jokowi)memperkirakan anggaran pemerintah yang keluar untuk membangun Ibu Kota baru mencapai sekitar Rp100 triliun.
Uni Emirat Arab (UEA) siap menginvestasikan dana senilai US$22,8 miliar untuk Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Pangeran Sheikh Mohamed bin Zayed, Putra Mahkota UEA, saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Qasr Al Watan, Abu Dhabi, Minggu (12/1/2020).