OPINI: Ramadanomics & Lebaranomics
Tulisan pendek ini membahas kegiatan di bulan Ramadan yang mendorong peningkatan konsumsi yang dapat berujung pertumbuhan ekonomi (Ramadanomics).
Tulisan pendek ini membahas kegiatan di bulan Ramadan yang mendorong peningkatan konsumsi yang dapat berujung pertumbuhan ekonomi (Ramadanomics).
Bulan Ramadan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim di seluruh dunia, begitu pun di Indonesia. Berpuasa di bulan ini pun sangat istimewa, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist ibnu majah yang diriwayatkan oleh sahabat Thalhah bin Ubaidillah sebagai berikut:
Menurut Undang-Undang No.10/2009 tentang Kepariwisataan, Daya Tarik Wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan”.
Pada saat pandemi, permintaan dan penjualan gadget meningkat, baik berupa komputer, laptop, tablet dan ponsel.
Bulan Ramadan memberikan daya tarik sendiri kepada umat Islam untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan dan meraih kemuliaan di sisi Allah yakni gelar “Al-Muttaqīn”.
Pandemi Covid-19 telah membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 2,07% year-on-year (YoY) pada 2020 lalu. Implikasi dari kontraksi pertumbuhan ekonomi ini telah membuat tingkat pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan melonjak.
Dalam dunia medis, puasa Ramadan dapat dikatakan sebagai puasa selang atau intermittent fasting. Puasa dalam puasa Ramadan di Indonesia umumnya berkisar 14 jam, sesuai dengan durasi puasa yang dianjurkan dalam puasa selang di dunia medis, yaitu 14-20 jam dan sisanya disebut jendela makan.
Pandemi Covid-19 berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat Indonesia sehingga membuat sebagian besar masyarakat harus pandai-pandai mengelola keuangannya dengan baik.
Ramadan sebagai “madrasah” bagi orang beriman, tempat latihan dan diingatkan agar kita manusia senantiasa menyeimbangkan kondisi lahir dan batin.
Menjadikan Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah atas pada 2045 merupakan impian bangsa ini. Lalu, bagaimanakah mewujudkan impian menjadi kenyataan? Caranya adalah dengan membangun fundamental perekonomian Indonesia yang kokoh, disertai rata-rata pertumbuhan ekonomi 6% per tahun. Untuk itu, diperlukan langkah strategis dalam pemulihan dan percepatan pertumbuhan ekonomi jangka pendek, menengah, dan panjang, yaitu melalui transformasi ekonomi.