Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 167
Ombak bercanda dengan batu karang, kadang seolah membelai mesra, tapi di kesempatan lain menghantam dengan suara menggelegar lalu air muncrat ke atas mencipta warna pelangi.
Ombak bercanda dengan batu karang, kadang seolah membelai mesra, tapi di kesempatan lain menghantam dengan suara menggelegar lalu air muncrat ke atas mencipta warna pelangi.
Entah berapa lama Darsi dipermainkan gelombang samudra. Saat siuman, tubuhnya loyo. Ia menoleh ke kanan. Saujana hanya air laut tanpa tepi. Samudra begitu tenang, ombak jinak dan angkasa diterangi bulan taram bercadar awan tipis.
Malaikat itu terbang mengantarkan puja-pujinya ke nirwana.
Tidak berapa lama, Warsi membuat perapian dari kayu kering dan ilalang. Tiga jenis ama (wereng tanaman) dibakar menimbulkan aroma harum. Ia menyantap sonte, tutut dan keong mas yang diolah a la barbeku dengan lahap.
Cantrik diam. Sepi mengalir sangat lamban. Mungkin ikut mendengarkan percakapan.
Wiku Sungging Raga menutup regol sedikit keras.
Seekor kupu-kupu melintas, kemudian hinggap pada kelopak bunga krisan. Dua jam lebih Warsi menunggu, kadang berdiri, kadang duduk di samping gapura untuk mengempaskan penat.
Warsi menerima, dan ia tahu, ini saatnya ia harus pergi. Tidak ada gunanya menunda.
Di tempat itu, juga di lokasi sejenis, usia memengaruhi pasaran. Yang lebih tua sadar diri. Tapi Warsi anomali.
Pada anak pengidap DS terjadi surplus kromosom nomor 21, lazim disebut kromosom ganda, yang mengakibatkan keguncangan pada sistem metabolisme yang kemudian memunculkan down syndrome.