Ini Perkembangan Pembangunan NYIA Jelang Diresmikan…
Pelaksana Proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) memastikan perkembangan pembangunan untuk pengoperasian terbatas telah mencapai 93%.
Pelaksana Proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) memastikan perkembangan pembangunan untuk pengoperasian terbatas telah mencapai 93%.
Badan Pendidikan dan Penelitian (Badiklit) dan Penyuluh Sosial, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia meminta Pemerintah Kabupaten Kulonprogo benar-benar mempersiapkan SDM yang mumpuni seiring kehadiran New Yogyakarta International Airport (NYIA).
Pemerintah Kabupaten Kulonprogo memastikan lahan di Desa Triharjo, Kecamatan Wates, merupakan usulan prioritas untuk calon lokasi kantor embarkasi haji. Usulan tersebut diharapkan bisa disetujui Pemerintah Provinsi DIY agar pembangunan dapat segera dilangsungkan.
PT Angkasa Pura (AP) I memastikan bandara baru Kulonprogo yang kelak bernama Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) bisa dipakai pada April ini.
Nama New Yogyakarta International Airport (NYIA), nama bandara baru di Kabupaten Kulonprogo, akan diganti menjadi Bandara Internasional Yogyakarta. Gubernur DIY Sri Sultan HB X sudah mengirimkan surat revisi nama tersebut kepada Kementerian Perhubungan, Kamis (4/4/2019).
Meski Kementerian Perhubungan menyatakan New Yogyakarta International Airport belum layak beroperasi, PT Angkasa Pura (AP) I menyatakan progres pembangunan bandara anyar itu sudah mencapai 93% untuk beroperasi secara minimum. Tak ada rencana untuk meresmikan bandara setelah atau sebelum Pemilu 2019.
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyatakan bandara baru di Kulonprogo, New Yogyakarta International Airport (NYIA), belum laik beroperasi pada akhir pekan ini.
Gedung terminal New Yogyakarta International Aiport (NYIA) sudah siap digunakan.
Jalan menuju kawasan Pantai Congot, Kecamatan Temon, yang sempat ditutup oleh PT Angkasa Pura I (PT AP I), untuk sementara waktu boleh dilewati. Meski demikian, hanya warga sekitar dan memiliki usaha di sekitar pantai yang boleh melintas.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo menyiapkan 30.000 pohon cemara udang yang membentang 5,3 kilometer dari Pantai Congot sampai Pantai Glagah. Sabuk hijau itu dipakai sebagai peredam ancaman tsunami.