Dampak Pandemi Corona, Garuda Indonesia Terbangkan Pesawat Tanpa Penumpang
Garuda Indonesia mulai menetapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi industri aviasi yang terserang dampak langsung pandemi Corona.
Garuda Indonesia mulai menetapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi industri aviasi yang terserang dampak langsung pandemi Corona.
Larangan ojek daring membawa penumpang selama penerapan PSBB di Jakarta pada 10 - 23 April berdampak pada penghentian sementara layanan tersebut.
Organisasi Angkutan Darat (Organda) menilai wacana pemerintah menaikkan tarif angkutan darat selama pandemi Corona untuk meredam keinginan masyarakat mudik sekaligus mematuhi kebijakan jaga jarak yang mendorong tingkat okupansi turun cukup dilematis diterapkan.
Kementerian Perhubungan menyebut kondisi Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi semakin membaik. Menhub masih dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkutan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto karena terinfeksi virus Corona.
WNA tersebut rencananya kembali ke negara asalnya menggunakan pesawat carter Garuda Indonesia GA-8900 tujuan Guangzhou, China Jumat (3/4/2020).
Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan polemik pelarangan mudik yang belum juga diputuskan meski sebagian masyarakat telah mudik lebih dini.
Tanpa lockdown, Organda menyebut tingkat keterisian bus hanya menyisakan 10 persen dari rata-rata hari normal sebanyak 75 persen.
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait menggodok berbagai pilihan kebijakan di masa mudik Lebaran 2020 guna mencegah penyebaran virus Corona.
Pada 29 Maret 2020 mendatang, PT Angkasa Pura I (Persero) akan mengoperasikan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulonprogo secara penuh (full operation).
Meningkatnya jumlah pesan-antar makanan dan barang akibat kebijakan jaga jarak (social distancing) dinilai belum sebanding untuk menutupi pendapatan yang berasal dari jasa antar penumpang.