Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 038
Tiba-tiba obor padam. Hutan kembali gelap. Pranacitra menyumpah-nyumpahi “kelicikan” lawannya itu. Terdengar suara tertawa dalam hutan.
Tiba-tiba obor padam. Hutan kembali gelap. Pranacitra menyumpah-nyumpahi “kelicikan” lawannya itu. Terdengar suara tertawa dalam hutan.
Latri memandang dengan mulut ternganga. Belum pernah selama hidupnya ia berhadapan dengan seorang anak muda yang santun, baik budi, tetapi yang bicaranya lugas tanpa aling-aling. Kalau Latri tidak melihat pandangan pemuda itu sangat sopan, tentu menimbulkan prasangka ia laki-laki kurang ajar perayu wanita.
Saat itu seorang pemuda berlari dengan napas terengah-engah. Dengan suara patah-patah ia menuturkan bahwa sepasukan prajurit dari Tembayat mendatangi dusun Anjali. Damar dan Dinar melompat lalu keduanya memberi aba-aba sehingga seluruh kawan yang sedang suntuk berlatih pedang segera kembali ke dusun. Persidangan dibuka, dan mereka mengatur kiat untuk menghadapi lawan.
Beberapa gerakan sulit, setelah dicoba berkali-kali, akhirnya mereka mampu melakukan. Planking gerakan mensejajarkan kepala, tengkuk, spina (tulang belakang) dan pinggul, sehingga menyerupai papan lurus. Ini lebih silang selimpat namun juga lebih efektif dibanding crunches. Begitu pula gerakan rumit Pistol Squats (jongkok dengan satu kaki lurus ke depan);- Hand stand push up (menyandar ke batang pohon dengan kepala di bawah, kaki lurus ke atas melakukan berbagai dinamika);- Mereka bersungguh-sungguh berlatih bukan hanya agar tangkas kanuragan, tapi juga menghindari skinny fat (tampaknya kurus padahal banyak timbunan lemak di badan).
DAN malam itu, bersamaan waktunya segenap kawula Tembayat memprihatinkan nasib Mila dan Latri yang ditawan kawanan begal di hutan, juga ibu-ibu mendaraskan doa agar ibu dan anak tersebut selamat, lamat-lamat terdengar pradangga menabuh gamelan di kademangan. Bisa dipastikan seluruh warga merasa tidak senang, namun mereka kuasa apa?!
Demikian juwitanya Nimas Lembah; demikian menggairahkan lekuk tubuhnya, terutama mata, dada serta bibirnya; demikian halus kulitnya yang bisa dilihat dari lehernya yang jenjang. Bahkan Ki Ageng Permana, yang sudah renta, ikut memandang kagum walau sepintas.
Ki Permana lalu menyeruput teh panas legi kentel dengan nikmat—sampai sekarang Desa Bayat terkenal dengan angkringan tiga ceret yang menjajakan teh nasgitel.
Bersamaan Pranacitra sibuk menyiapkan barisan tentara, secara diam-diam Ki Suradipa memberi pesan Dobleh agar membawa teman-temannya bergabung dalam rombongan itu. Kelak Dobleh harus dapat membinaskan Mila dan Latri dalam perang brubuh.
TAK kepalang kagetnya Demang Suradipa ketika pagi itu melihat seorang pengawalnya berlari-lari dengan raut pasi. Pakaiannya sobek di sana-sini, napasnya terengah-engah, tubuhnya lemas karena semalaman penuh ia berlari tanpa henti. Begitu di hadapan Ki Suradipa, pengawal itu menjatuhkan diri sambil menangis di depan kaki majikannya.
Para pemuda yang tadinya marah kini menggeleng-gelengkan kepala. Juga Damar tidak habis pikir. Matanya memandang jauh ke depan. Keningnya berkerut merut.