Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 060
Dengan suara terputus-putus Suradipa menuturkan betapa Damar menyerbu masuk taman dan membantai Pangeran Arumbinang serta Ki Ageng Permana. Pemuda itu pula yang melukai lengannya dengan keris.
Dengan suara terputus-putus Suradipa menuturkan betapa Damar menyerbu masuk taman dan membantai Pangeran Arumbinang serta Ki Ageng Permana. Pemuda itu pula yang melukai lengannya dengan keris.
Di kademangan Tembayat, malam seakan ketakutan. Ki Suradipa risau berguling-guling ke kanan kiri di papremannya. Di bawah rembulan yang jadi kusam, bahkan ular dan kelabang juga turut menyembunyikan diri di ceruk-ceruk pepohonan. Tak ada cerah yang tersisa, rasanya. Di pucuk pohon kesambi merah, kupu-kupu bertangisan sedih ditinggalkan oleh mereka yang mencintai keindahan.
Mila Banowati dengan hati hancur lebur (terpaksa) ikut dalam rombongan besar ini, naik tandu bersama Latri. Di dalam hati, Mila menangis pilu menyesali nasib malangnya, karena mau bagaimanapun Demang Suradipa adalah suaminya. Ia diam-diam juga memendam kangen.
Mila Banowati dengan hati hancur lebur (terpaksa) ikut dalam rombongan besar ini, naik tandu bersama Latri. Di dalam hati, Mila menangis pilu menyesali nasib malangnya, karena mau bagaimanapun Demang Suradipa adalah suaminya. Ia diam-diam juga memendam kangen.
Damar tidak mau kalah. Ia berhasil menangkap Raden Rangga, juga diangkat tinggi lalu dilempar ke atas. Raden Rangga menggunakan tenaga lemparan tadi untuk bertengger di pohon sonokeling, berputaran di dahan, lalu meluncur ke bawah dengan berdiri tegak. Damar bertepuk juga diikuti para penonton. Di alas itu, bukan hanya masing-masing menunjukan kasekten serta kecepatan gerak, namun mereka juga saling bersikap suceng.
Perintah Panembahan Senopati terkesan “mengadu domba” tapi sesungguhnya ia ingin menguji Damar yang menarik hatinya. Raden Rangga dijadikan semacam sparing partner untuk mengukur sampai di mana tingkat ilmu yang dimilikinya.
Betapa kagumnya Panembahan Senopati, tidak hanya karena melihat sungguh digdaya pemuda di depannya ini, tapi juga subasita yang diperlihatkan. Pemuda yang tahu trapsila tata krama. Beda dengan Rangga yang ugal-ugalan.
Damar memelopori teman-temannya berlutut menyembah dengan sikap hormat. Sikap ini sedikit banyak mengurangi kemarahan Panembahan Senopati yang masih duduk tegak di pelana kuda bakuh berbulu putih bersih.
Damar melepaskan tangannya dari pundak Latri, tapi kemudian memegang kedua tangan gadis itu dengan mesra.
Damar memandang Latri dengan takjub. Selain ayu, luwes, berbudi halus, santun, gadis ini juga pandai merangkai kata-kata. Latri juga dengan berani balas memandang Damar, dengan tatapan menantang.