Prancis Meringis karena Minim Kolektivitas
Timnas Prancis/Instagram @equidepefrance
Harianjogja.com, BUKARES—Kenyataan pahit harus diterima Timnas Prancis. Hadir dengan predikat juara Piala Dunia 2018, Tim Ayam Jantan justru tersingkir di tangan Swiss di babak 16 besar Euro 2020. Minimnya kolektivitas dan semangat bertanding disebut menjadi biang kerok kegagalan Prancis di turnamen akbar kali ini.
Prancis sendiri datang ke Euro 2020 sebagai kandidat teratas yang bakal memenangi ajang, merujuk dari berbagai bursa taruhan. Meratanya kemampuan di semua lini menjadi kelebihan Prancis di era Pelatih Didier Deschamps. Nyatanya, perjalanan Antoine Griezmann dkk. sudah berliku sejak fase gugur. Mereka bahkan hanya menang sekali dalam kampanyenya di Euro yakni saat membekuk Jerman 1-0 di laga perdana. Kemenangan itu pun berkat bunuh diri bek lawan, Mats Hummels.
Setelahnya, Prancis hanya bermain imbang 1-1 melawan Hungaria dan 2-2 kontra Portugal. Prancis pun menyandang status juara grup dengan poin paling kecil dan kebobolan paling banyak. Dalam laga 16 besar di Arena Nationala, Bukares, Selasa (29/6/2021) dini hari WIB, performa Prancis sejatinya membaik kala unggul 3-1 atas Swiss sampai menit ke-80. Namun kelengahan membuat Swiss mampu mengejar ketertinggalan menjadi 3-3 hingga memaksakan adu penalti.
Ini kali pertama Prancis kemasukan tiga gol di sebuah laga fase gugur Euro sejak 1960 ( saat kalah 4-5 melawan Yugoslavia). Prancis akhirnya keok di babak tos-tosan dengan skor 4-5 menyusul kegagalan penalti Kylian Mbappe. “Saya sangat kecewa dengan sikap kami di lapangan. Saya pikir ini adalah Timnas Prancis yang bobrok, tidak ada kebersamaan, tidak ada semangat,” kata legenda Prancis, Patrick Vieira, seperti dilansir Daily Mail, Selasa.
Vieira menilai Prancis memang tidak layak lolos ke fase berikutnya karena tidak bermain sebagai tim. Menurut dia, Prancis cenderung banyak dibantu kualitas individu para pemain untuk membuat perbedaan di sejumlah pertandingan. “Kadang-kadang kami bermain bagus karena beberapa individu. Namun secara kolektif kami jauh di belakang Swiss,” ujar eks gelandang Arsenal itu.
Tersingkirnya Prancis memberi luka mendalam pada Kylian Mbappe. Striker Paris Saint-Germain itu bahkan mengaku susah tidur usai gagal mengeksekusi penalti krusial. Sepakan kaki kanan Mbappe berhail dibaca arahnya oleh kiper Swiss, Yann Sommer. Kegagalannya sekaligus memberi Swiss kelolosan ke perempat final untuk kali pertama dalam sejarah keikutsertaan di Euro. “Saya minta maaf karena penalti ini. Saya ingin membantu tim tapi aku gagal. Akan sulit untuk tidur tapi sedihnya, itu adalah risiko dari olahraga ini, yang sangat kucintai,” tutur Mbappe.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Share