Pemprov Jateng Perluas Program Satu OPD Satu Desa untuk Percepat Penanganan Kemiskinan
Pemprov Jateng memperluas program Satu OPD Satu Desa Dampingan yang kini menjangkau 641 desa untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan.
Detektor telur hasil inovasi peneliti dari Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Peneliti Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta membuat inovasi yang berhubungan dengan alat pendeteksian kualitas telur dengan menganalisa intensitas cahaya yang dilewatkan pada telur secara kolektif. Inovasi ini menggunakan microcontroller sebagai otak pemprosesan data dan photodiode sebagai sensor pendeteksi intensitas cahaya.
Telur merupakan salah satu bahan pokok untuk kebutuhan pangan masyarakat tidak terkecuali Indonesia. Hampir semua orang menyukai makanan yang berbahan baku telur seperti kue, roti, minuman, dan makanan olahan lainnya. Selain itu, telur juga dapat dijadikan bahan baku kosmetik untuk perawatan wajah maupun tubuh sedangkan cangkang telur juga dapat diolah sebagai bahan pernak–pernik atau kerajinan tangan.
Telur juga merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Pada tahun 2020 laporan Tempo menyampaikan bahwa konsumsi telur di Indonesia mencapai 28,16 kg per kapita. Hal tersebut merupakan peningkatan jika melihat tahun 2019 konsumsi telur di Indonesia mencapai 17.77 kg per kapita.
Telur ayam ras memiliki fisik terdiri dari 10% kerabang (kulit telur, cangkang), 60% putih telur dan 30% kuning telur. Kualitas telur secara keseluruhan ditentukan oleh kualitas isi & kulit telur. Oleh karena itu, penentuan kualitas telur dilakukan pada kedua bagian telur tersebut. Kualitas sebuah telur sebelum keluar dari organ reproduksi ayam dipengaruhi faktor internal (kelas, strain, family) dan eksternal (pakan, penyakit, umur, dan suhu lingkungan). Sedangkan kualitas telur sesudah keluar dari organ reproduksi dipengaruhi oleh penanganan & penyimpanan telur (lama, suhu, dan bau penyimpanan).
Hal yang sering dialami oleh masyarakat terutama UMKM di bidang kuliner ketika membeli telur ayam adalah kesulitan untuk membedakan kondisi telur ayam (mana telur layak konsumsi dan busuk). Hal ini disebabkan tekstur kulit luar telur yang tidak jauh berbeda antara telur busuk dengan telur layak konsumsi. Hal ini menyebabkan UMKM mengalami kerugian ketika menggunakan telur ayam sebagai campuran bahan baku makanan. Sehingga, apabila bahan makanan tersebut terkontaminasi dengan telur busuk tersebut maka harus dibuang. Telur busuk memiliki bakteri dan kuman yang berbahaya untuk tubuh manusia.
Oleh karena itu, peneliti dari Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yaitu Anna Nur Nazilah Chamim, S.T., M.Eng. mengembangkan suatu alat pendeteksi telur yang dapat membantu masyarakat dalam membedakan antara telur layak konsumsi dan busuk.

Anna Nur Nazilah Chamim, S.T., M.Eng
Prinsip dari inovasi yang terdaftar di DJKI dengan nomor P00201702608 ini yaitu melalui penerawangan telur menggunakan cahaya dari lampu LED yang menyinari telur tersebut tanpa harus membuka semua telur yang ada. Jika hal tersebut dilakukan secara manual dan dalam jumlah yang banyak, tentu saja akan memakan waktu dan proses yang lama.
Dalam inovasinya, Anna Nur Nazilah Chamim, S.T., M.Eng merancang suatu alat pendeteksi kualitas telur melalui analisa intensitas cahaya yang dilewatkan pada 30 telur dengan menggunakan box portable. Alat tersebut menggunakan microcontroller sebagai otak yang akan mengolah input dari sensor cahaya yang berupa photodiode. Selanjutnya, sensor tersebut akan menangkap intensitas cahaya yang datang dari LED atau UV LED yang melalui telur. Cahaya yang diperoleh akan diproses oleh microcontroller untuk mengetahui hasil kondisi telur. Jika terdapat ratusan telur yang harus diperiksa satu persatu, maka dengan penggunaan alat deteksi tersebut, proses pendeteksian telur dapat dilakukan secara kolektif dalam waktu bersamaan, sehingga lebih menghemat waktu.
Alat yang dimaksud dari penjelasan di atas dapat dilihat seperti pada gambar di bawah, yaitu alat berupa kotak kayu yang dilengkapi dengan 30 LED dan 30 photodiode array berturut-turut pada sisi atas dan bawah wadah telur.

Prinsip yang digunakan adalah membandingkan intensitas cahaya inframerah yang dipancarkan oleh LED melalui telur, menggunakan sensor photodiode. Selanjutnya analog to digital converter akan digunakan untuk mengubah besaran cahaya menjadi data digital yang selanjutnya diproses oleh microcontroller. Microcontroller akan mengkategorikan intensitas cahaya yang diterima ke dalam kategori telur sesuai dengan nilai ambang batas yang telah ditentukan sebelumnya. Suatu penampil LCD digunakan sebagai keluaran untuk menampilkan kondisi masing-masing telur. Dengan menggunakan perangkat ini, kuantitas proses deteksi telur busuk dapat ditingkatkan dan kualitas setiap prosesnya dapat diseragamkan.
Untuk informasi lebih lanjut, bisa hubungi [email protected] atau mengunjungi www.lri.umy.ac.id. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemprov Jateng memperluas program Satu OPD Satu Desa Dampingan yang kini menjangkau 641 desa untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan.
BPKH mengajak generasi muda mulai merencanakan keuangan haji sejak dini sekaligus memanfaatkan platform digital untuk dakwah.
Zulhas memastikan manajer Kopdes yang ditempatkan jauh dari domisili akan disesuaikan ke koperasi terdekat setelah titik tersedia.
Kejagung menyebut kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG mencapai sekitar Rp10 triliun berdasarkan penghitungan BPKP.
Sebanyak 40 KDMP di Sleman sudah beroperasi hingga September 2026, sedangkan 46 lainnya masih berproses menjalankan unit usaha.
Bansos beras 30 kg kembali disalurkan Oktober-Desember 2026 untuk 33,24 juta penerima. Cek status penerima menggunakan NIK.