Grand Hotel De Djokja Tawarkan Wajah Baru, Padukan Kemewahan

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Sabtu, 30 Mei 2026 20:02 WIB
Grand Hotel De Djokja Tawarkan Wajah Baru, Padukan Kemewahan

Pencerita Wijana Hub memaparkan terkait sejarah Hotel De Djokja di pelataran Hotel Djokja pada Sabtu (30/5/2026)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani

Grand Hotel De Djokja Tawarkan Wajah Baru, Padukan Kemewahan Modern dan Warisan Sejarah

JOGJA – Grand Hotel De Djokja memperkenalkan wajah baru yang memadukan kemewahan modern dengan nilai-nilai sejarah yang telah melekat sejak hotel ini berdiri pada 1911. Transformasi tersebut dilakukan tanpa meninggalkan identitasnya sebagai salah satu bangunan bersejarah di Yogyakarta.

Digital Marketing Grand Hotel De Djokja, Tegar Cakra, mengatakan pembaruan dilakukan melalui peningkatan fasilitas serta penyegaran desain interior agar lebih modern dan nyaman bagi para tamu.

“Kami ingin memperkenalkan wajah baru Grand Hotel De Djokja dengan fasilitas yang semakin baik, baik dari sisi interior maupun kenyamanan. Namun, kami tetap mempertahankan nilai sejarah yang menjadi identitas hotel ini sejak berdiri pada tahun 1911,” ujarnya dalam acara Wijana Hub, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Tegar, di bawah pengelolaan InJourney Hospitality, hotel tersebut berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan sektor pariwisata Yogyakarta maupun Indonesia secara lebih luas.

Konsep baru yang diusung Grand Hotel De Djokja menggabungkan karakter hotel heritage dengan sentuhan kemewahan modern. Desain yang elegan dipadukan dengan elemen tradisional Jawa sehingga menghadirkan pengalaman menginap yang unik tanpa menghilangkan nilai historis bangunan.

“Yang kami lakukan adalah menggabungkan historical hotel heritage dengan kemewahan modern. Unsur tradisional Jawa tetap dipertahankan, tetapi dengan sentuhan desain yang lebih segar dan elegan,” katanya.

Salah satu bagian yang tetap dipertahankan adalah kawasan heritage yang nantinya menjadi area eksklusif hotel. Area tersebut akan digunakan untuk tipe kamar premium, yakni Heritage Suite dan Sudirman Suite.

Tegar menjelaskan, Sudirman Suite memiliki nilai sejarah yang kuat karena berkaitan dengan perjuangan Jenderal Sudirman saat berada di Yogyakarta. Bangunan tersebut pernah menjadi bagian dari aktivitas perjuangan dan digunakan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat pada masa awal kemerdekaan.

“Storytelling sejarah menjadi salah satu kekuatan utama yang ingin kami angkat. Kami ingin tamu tidak hanya menginap, tetapi juga mengenal perjalanan panjang hotel ini sejak 1911,” ujarnya.

Meski kawasan heritage nantinya menjadi area eksklusif bagi tamu tertentu, Grand Hotel De Djokja tetap membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berkunjung dan menikmati berbagai fasilitas serta area lain di lingkungan hotel.

Tegar berharap masyarakat Yogyakarta dapat kembali mengenal Grand Hotel De Djokja melalui wajah barunya tanpa melupakan nilai sejarah yang selama ini melekat.

“Kami ingin masyarakat melihat Grand Hotel De Djokja sebagai hotel bersejarah yang terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan masa kini,” katanya.

Sementara itu, Founder Wijana Hub, Fajar Wijanarko, menilai Grand Hotel De Djokja merupakan salah satu hotel yang berhasil menjaga keseimbangan antara pelestarian sejarah dan pengembangan ekonomi kawasan.

Menurutnya, kolaborasi antara Grand Hotel De Djokja dan Wijana Hub berangkat dari kesamaan visi dalam membangun ekosistem sejarah, budaya, dan edukasi yang berkelanjutan.

“Hotel ini tidak hanya mempertahankan nilai historisnya, tetapi juga terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Itu menjadi alasan kami tertarik untuk berkolaborasi,” kata Fajar.

Melalui program tematik yang dikembangkan bersama, Wijana Hub mengajak masyarakat untuk memahami kembali sejarah kawasan Malioboro sebagai pusat pariwisata dan kawasan metropolitan pada awal abad ke-20.

Pada kegiatan perdana, tema yang diangkat adalah ekosistem pariwisata pada masa Hindia Belanda. Program tersebut memperkenalkan kembali peran hotel-hotel premium yang pernah berkembang di kawasan Malioboro, termasuk Grand Hotel De Djokja, Hotel Tugu, Hotel Centrum, dan Hotel Mataram.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa Malioboro tidak hanya ramai seperti yang terlihat hari ini, tetapi memiliki sejarah panjang sebagai kawasan metropolitan yang dirancang sejak awal abad ke-20. Grand Hotel De Djokja menjadi salah satu bagian penting dari sejarah tersebut,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan edukasi berbasis sejarah dan budaya yang melibatkan hotel serta komunitas dapat memperkuat pemahaman masyarakat terhadap identitas Yogyakarta, sekaligus mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. (Adv)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online