Waspada! Korsleting Dominasi Kasus Kebakaran di Jogja 2026
Damkar Jogja mencatat 24 kebakaran hingga Juni 2026, mayoritas akibat korsleting listrik. Kerugian capai Rp202 juta.
Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan (pertama dari kiri) membuka Workshop Jogja Bersinar bertajuk “Kendaraan Bebas Emisi” di Ruang Utama Bima Balaikota Jogja pada Jumat (5/6/2026)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani
JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja terus memperkuat komitmennya dalam mendukung transisi menuju transportasi rendah emisi melalui pengembangan penggunaan kendaraan listrik dan pengurangan pencemaran udara di Kota Jogja.
Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawa, menuturkan penggunaan kendaraan listrik akan semakin diperluas di Jogja sebagai bagian dari upaya menciptakan kota yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung kawasan rendah emisi, khususnya di kawasan Sumbu Filosofi.
“Ke depan, Jogja akan semakin banyak menggunakan kendaraan listrik. Berbagai kegiatan berbasis listrik juga akan menjadi salah satu alternatif untuk mendukung pengurangan emisi dan meningkatkan kualitas lingkungan,” ujarnya dalam Workshop Jogja Bersinar bertajuk “Kendaraan Bebas Emisi” di Ruang Utama Bima, Balaikota Jogja, Jumat (5/6/2026).
Wawan menuturkan pihaknya terus memperkuat peran melalui perencanaan dan kebijakan yang terintegrasi dengan isu pengurangan emisi. Langkah tersebut mencakup pengembangan transportasi rendah emisi, penguatan transportasi publik, pembangunan jalur sepeda, hingga pembatasan kendaraan bermotor di area tertentu.
Wawan menilai sektor transportasi masih menjadi salah satu kontributor utama pencemaran udara di kawasan perkotaan. Karena itu, menurutnya, kendaraan listrik mampu memberikan dampak langsung terhadap perbaikan kualitas udara karena tidak menghasilkan emisi gas buang dan memiliki tingkat kebisingan yang lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.
“Pemanfaatan kendaraan listrik tidak hanya mengurangi polusi udara, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih nyaman dan sehat,” katanya.
Karena itu, menurutnya, pengembangan kendaraan listrik di Jogja diharapkan dapat menjadi contoh sekaligus mendorong gerakan serupa di daerah lain.
Meski begitu, Wawan mengakui pemerintah daerah menghadapi keterbatasan anggaran dalam melakukan percepatan pengadaan kendaraan listrik. Untuk itu, dukungan dari berbagai pemangku kepentingan dinilai sangat penting dalam mempercepat transisi menuju transportasi rendah emisi.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, PLN, sektor industri, BUMN, serta komunitas diharapkan mampu memperkuat penggunaan kendaraan listrik di sektor pariwisata maupun berbagai sektor lainnya.
Wawan menegaskan program pariwisata rendah emisi tidak bertujuan membatasi aktivitas masyarakat, melainkan mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup yang lebih berkelanjutan melalui pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Melalui workshop tersebut, ia berharap lahir komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik dan mewujudkan Jogja sebagai kota wisata berkelanjutan yang rendah emisi serta menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. (Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Damkar Jogja mencatat 24 kebakaran hingga Juni 2026, mayoritas akibat korsleting listrik. Kerugian capai Rp202 juta.
Indonesia dan Jepang bahas ekspor kapal perusak Asagiri, langkah strategis perkuat TNI AL dan kerja sama pertahanan.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa promosikan Panda Bond ke China dan Inggris untuk perluas pembiayaan APBN 2026.
Grebeg UMKM X DJAMUAN 2026 di Jogja dorong digitalisasi QRIS dan penguatan 260 UMKM lokal.
Damkar Jogja mencatat 24 kebakaran hingga Juni 2026, mayoritas akibat korsleting listrik. Kerugian capai Rp202 juta.
Realisasi subsidi dan kompensasi APBN 2026 capai Rp203,7 triliun. Pemerintah jaga daya beli dan stabilitas harga.