Angka Perceraian Tinggi, Buku Homepower Dorong Komunikasi Keluarga

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jum'at, 12 Juni 2026 04:37 WIB
Angka Perceraian Tinggi, Buku Homepower Dorong Komunikasi Keluarga

Bedah buku DPAD DIY yang digelar di Aula Masjid Al Ikhlas, Sorosutan, Umbulharjo, Kamis (11/6/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA-Tingginya angka perceraian di Indonesia menjadi latar kuat peluncuran dan diskusi buku Homepower: Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup yang ditulis oleh Giva Putri dan Taat Setyabudi. Buku ini menekankan pentingnya komunikasi dalam keluarga sebagai kunci menjaga keutuhan rumah tangga.

Kegiatan bedah buku tersebut digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Aula Masjid Al Ikhlas, Kelurahan Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Kamis (11/6/2026).  Kegiatan tersebut menghadirkan anggota DPRD DIY, Muhammad Syafi’i, sebagai narasumber.

“Angka perceraian di Indonesia mencapai ratusan ribu per tahun, dan salah satu akar masalahnya bukan semata ekonomi, tetapi komunikasi yang tidak berjalan dengan baik,” ujar penulis buku, Taat Setyabudi.

Ia menjelaskan buku tersebut mulai disusun sejak awal tahun 2000-an dan rampung pada akhir 2024 sebelum dicetak pada 2025. Buku itu disebut sebagai rekaman perjalanan belajar sekaligus media refleksi bagi penulis dalam membangun keluarga.

“Buku ini menjadi pengingat bagi kami, bahwa apa yang kami tulis juga harus kami jalani, sekaligus menjadi bagian dari amal jariyah dengan membagikan pengalaman yang pernah kami pelajari,” katanya.

Taat menekankan perbedaan makna antara home dan house yang menjadi dasar konsep buku tersebut. Menurutnya, rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang yang memiliki nilai, kehangatan, dan kehidupan di dalamnya.

Ia juga menyoroti perubahan pola interaksi keluarga di era digital yang dinilai berpengaruh terhadap kedekatan antar anggota keluarga. Penggunaan gawai yang tidak terkontrol disebut dapat mengurangi kualitas komunikasi di dalam rumah. “Bermain ponsel boleh, tapi harus ada aturan di rumah, misalnya saat makan bersama atau waktu Magrib hingga Isya digunakan untuk berinteraksi tanpa gangguan gawai,” ucapnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya rumah sebagai ruang aman untuk belajar dan bertumbuh, termasuk menerima kegagalan. Orang tua diingatkan agar tidak mudah membandingkan anak dengan orang lain karena setiap anak memiliki karakter dan proses belajar yang berbeda.

Anggota DPRD DIY, Muhammad Syafi’i, menilai bedah buku menjadi sarana untuk mendorong budaya literasi yang lebih mendalam. Ia berharap kegiatan membaca tidak berhenti pada pemahaman teks, tetapi berlanjut pada tindakan nyata. “Harapannya membaca itu tidak berhenti di situ, tetapi melahirkan rencana aksi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun keluarga,” katanya.

Muhammad Syafi’i juga mendorong peserta untuk menjadikan hasil diskusi sebagai gerakan bersama di lingkungan masyarakat. Menurutnya, nilai-nilai yang diperoleh dari buku dapat diterjemahkan menjadi kesepakatan dan praktik komunikasi
yang lebih baik dalam keluarga.

Melalui kegiatan ini, DPAD dan DPRD DIY berharap literasi tidak hanya menjadi aktivitas membaca, tetapi juga mampu mendorong perubahan sosial, khususnya dalam membangun ketahanan keluarga di tengah tantangan zaman. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online