Bedah Buku 1001 Tanya Wakil Rakyat, Transparansi Jadi Sorotan
DPAD DIY dan DPRD DIY menggelar bedah buku 1001 Tanya Wakil Rakyat untuk mendorong budaya membaca, literasi masyarakat, transparansi informasi publik, dan pengu
Ketua Komisi A DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Eko Suwanto/ Ist
JOGJA - Pendekatan dalam menanamkan nilai-nilai ideologi bangsa kepada generasi muda memerlukan terobosan baru. Ketua Komisi A DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Eko Suwanto, menegaskan bahwa sistem pendidikan saat ini terlalu didominasi oleh tolok ukur kognitif (hafalan dan nilai di atas kertas). Sebagai langkah koreksi, DPRD DIY menginisiasi aktualisasi Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang lebih "membumi" melalui pendekatan kebudayaan dan partisipasi aktif masyarakat.
"Hukum di Indonesia memang bersifat positifis, namun implementasi nilai Pancasila untuk kaum muda tidak bisa dipaksakan secara kaku. Perda Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan ini merupakan koreksi atas model pembudayaan Pancasila lama. Kita beralih ke metode yang mengutamakan partisipasi, kesetaraan, keterbukaan, kerja sama antarpihak, kreativitas, pendekatan akademik, dan kearifan lokal," ujar Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY, saat berdialog dengan mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta dan perwakilan Dimas Diajeng DIY, Sabtu, 20/6)2026.
Secara khusus, Eko Suwanto menyampaikan rasa terima kasih atas partisipasi kampus, dalam kegiatan kirab budaya Tresno Pancasila menandai peringatan Bulan Bung Karno di bulan Juni ini. DPRD DIY mengambil inisiatif berbeda dengan melibatkan partisipasi publik secara masif. Langkah konkret ini diwujudkan melalui serangkaian acara berbasis seni tradisi dan ekspresi modern, seperti Karnaval dan Kirab Budaya Tresno Pancasila, pergelaran wayang kulit, hingga pementasan ketoprak.
Aktualisasi ini berhasil hadirkan antusiasme masyarakat yang luar biasa di lokasi acara, performa para pengisi acara mampu memicu keriuhan positif di media sosial. Konten-konten kreatif seputar nilai kebangsaan pun viral dan menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen muda.
"Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas tingginya partisipasi masyarakat. Komitmen DPRD DIY adalah menceritakan Pancasila dalam bahasa kebudayaan. Keberhasilan ini adalah milik warga dan para peserta yang tampil dengan sangat baik," kata Eko Suwanto.
Soni Haidar, mahasiswa UGM menekankan pentingnya mendefinisikan kembali Pancasila agar nilai-nilai ideologisnya benar-benar "membatin" dalam sanubari generasi muda. Di tengah hadirnya keberagaman yang kerap diwarnai sentimen dan fragmentasi sosial, kebudayaan hadir sebagai perekat yang menyatukan.
Dimensi kebudayaan dalam Perda ini mewajibkan penghargaan terhadap lokalitas dan ruang ekspresi masyarakat lokal. Berbagai kekayaan budaya DIY sebagai instrumen efektif dalam penanaman nilai Pancasila,
Sementara Vega (Diajeng DIY), menyampaikan bahwa penguatan identitas lokal ini sangat krusial agar generasi muda tidak mengalami krisis identitas di era globalisasi. Kaum muda harus didorong memiliki kebebasan berpikir dan kualitas SDM unggul tanpa melupakan akar budayanya.
Eko Suwanto menjelaskan bahwa muatan lokal yang kaya ini dilindungi secara hukum dalam regulasi daerah. Misalnya di Pasal 12 Perda No. 1/2022: Membuka ruang bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak harus kaku, melainkan bisa diaktualisasikan melalui kegiatan olahraga dan forum keilmuan.
Pasal 17 Perda No. 1/2022: Menegaskan kewajiban memuat konten lokal, Keistimewaan DIY, lagu-lagu nasional, serta lagu daerah.
Secara konkret, ruang ekspresi kaum muda ini diwadahi melalui keterlibatan drumband, Paskibraka, serta keterlibatan aktif Dimas Diajeng. Ke depan, DPRD DIY memproyeksikan kegiatan berkreasi ini dapat diperluas dalam bentuk aktivitas kolaboratif antar-universitas se-DIY.
Eko Suwanto menambahkan menghadapi problem kebangsaan hari ini, dibutuhkan komunikasi yang efektif dan adaptif. Upaya membumikan Pancasila lewat jalur kebudayaan ini membutuhkan waktu dan konsistensi—bahkan diibaratkan seperti proses maraton yang membutuhkan energi berkelanjutan.
"Kaum muda jangan sampai kehilangan ruang ekspresi. Melalui kebudayaan, kita menanamkan idealisme dan ideologi sejak usia muda. Semoga tahun depan kegiatan seperti ini bisa digelar lebih meriah lagi, menampilkan lebih banyak kreasi, dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat luas," kata Eko Suwanto. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPAD DIY dan DPRD DIY menggelar bedah buku 1001 Tanya Wakil Rakyat untuk mendorong budaya membaca, literasi masyarakat, transparansi informasi publik, dan pengu
Mendiktisaintek Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi memperkuat budaya ilmiah dan menghasilkan riset serta inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Roblox membagikan lima kiat menjaga kesehatan mental dan keamanan anak di ruang digital, mulai dari mengatasi perundungan hingga menjaga privasi.
Menkomdigi Meutya Hafid mengajak orang tua dan guru mendampingi anak membangun kebiasaan digital sehat serta memahami risiko ruang digital.
BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di DIY mundur hingga tiga dasarian. Status kekeringan meteorologis berada pada level awas.
Bulog Magelang telah menyalurkan 10.646 ton jagung SPHP atau 92,34% dari pagu untuk membantu 548 peternak ayam.